Raffi Bawa RANS IPO, Bisakah Sesukses Artis Korea & China di Bursa?
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) dari Rans Entertainment, entitas bisnis yang dikendalikan oleh figur industri hiburan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, membawa warna baru bagi bursa saham Indonesia.
Fenomena ini adalah munculnya entitas bisnis yang didirikan dan dikendalikan oleh figur publik di bursa saham Indonesia.
Namun hal ini bukan model bisnis baru, model bisnis yang menjadikan profil artis sebagai pusat operasional atau pemegang kendali utama sejatinya telah memiliki banyak preseden di pasar modal internasional.
Berbagai tokoh dari industri kreatif telah sukses membawa perusahaan mereka melantai di bursa efek, mengelola tata kelola emiten secara profesional, dan mencapai kapitalisasi pasar yang substansial.
Dominasi Produser Musik di Pasar Modal Asia
Di lanskap industri hiburan Korea Selatan, para produser veteran telah lama mendominasi bursa saham melalui agensi manajemen artis yang mereka rintis. Bang Si-hyuk, seorang komposer dan eksekutif musik, mendirikan HYBE Co Ltd yang bergerak secara spesifik di sektor Entertainment Production.
Profil BTS. (Dok: GQ) |
Melalui optimalisasi kekayaan intelektual artis, entitas ini berkembang pesat di mana Bang Si Hyeok tercatat memegang porsi kepemilikan saham sebesar 28.42%.
Pola tata kelola korporasi yang serupa terlihat pada JYP Entertainment Corp yang juga beroperasi di sektor Entertainment Production. Perusahaan ini didirikan oleh musisi senior Park Jin-young, yang hingga data pemegang saham terakhir masih mempertahankan kepemilikan strategis sebesar 15.37%.
Stray Kids dalam acara Golden Disc Awards 2024 di Jakarta International Stadium (JIS). (Dok: Instagram @golden_disc) |
Lebih lanjut, mantan musisi Yang Hyun-suk berhasil merestrukturisasi aset bisnisnya dengan mendirikan YG Entertainment Inc, sebuah emiten yang fokus berekspansi di sektor Entertainment Production. Dalam struktur kepemilikan perusahaan tersebut, ia bertindak sebagai investor utama dengan porsi sebesar 19.33%.
Blackpink, menampilkan "Pink Venom" di MTV Video Music Awards di Prudential Center pada hari Minggu, 28 Agustus 2022, di Newark, N.J. (Charles Sykes/Invision/AP/Charles Sykes) |
Sementara itu, pelopor industri pop Korea, Lee Soo-man, mendirikan imperium SM Entertainment yang rekam jejak aksi korporasinya meluas hingga ke bursa efek Jepang. Walaupun Lee Soo-man sudah melepaskan seluruh kepemilikan sahamnya beberapa tahun lalu, namun SM adalah pencetus K-Pop hingga sebesar saat ini dan dipegang oleh grup Kakao.
Berdasarkan data struktur usahanya, SM Entertainment Co Ltd yang berada di sektor Entertainment Production, entitas Kakao Corp memegang kendali utama dengan porsi kepemilikan mencapai 21.61% dan Kakao Entertainment Corp. sebesar 19,89%.
EXO (Screenshot instagram @weareone.exo) |
Di luar yurisdiksi bursa Korea Selatan, fenomena monetisasi hak cipta selebriti ini turut mencakup musisi papan atas asal Taiwan, Jay Chou. Korporasi Star Plus Legend Holdings Ltd yang melantai di bursa dengan beroperasi di sektor Food Retail & Distribution memiliki lini bisnis yang bergantung pada pemanfaatan reputasi sang artis untuk penetrasi ritel.
Struktur pengendalian emiten ini diamankan secara kolektif oleh pihak manajemen dan keluarga, di mana entitas Legend Key International Limited.
Ekspansi Selebriti Barat ke Sektor Ritel Publik
Ekspansi pelaku industri hiburan ke instrumen ekuitas publik juga teridentifikasi di Amerika Serikat. Aktris Jessica Alba mendirikan The Honest Company Inc, entitas yang bernaung di bawah sektor Miscellaneous Specialty Retailers.
Mengubah visi pribadinya terhadap barang konsumsi yang aman menjadi roda bisnis, operasional perusahaan yang berfokus pada produk perawatan bayi dan rumah tangga ramah lingkungan ini berhasil menembus bursa NASDAQ. Dalam laporan permodalan terkini, porsi kepemilikan atas nama Alba (Jessica) tercatat pada level 4.96%.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google



