MARKET DATA

Warga RI Rajin Menabung, Bukan Karena Makin Kaya Tapi Makin Cemas

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
24 June 2026 11:15
Pengeluaran yang Diam-diam Menggerogoti Keuangan. (Freepik)
Foto: (Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Indonesia makin rajin menabung di perbankan, utamanya dilakukan oleh kelompok dengan saldo simpanan di bawah Rp100 juta. Sekilas, ini terlihat seperti berita baik karena rumah tangga punya bantalan uang yang bisa digunakan untuk membantu konsumsi.

Namun ada cerita menarik dibalik tabungan tersebut. Dalam laporan The Focal Point edisi 22 Juni 2026 bertajuk Many shades of precautionary savers, BCA menilai kenaikan simpanan masyarakat lebih banyak didorong oleh sikap berjaga-jaga.

Artinya, orang menabung bukan semata-mata karena pendapatannya naik, tetapi karena khawatir dengan kondisi ke depan.

"Perilaku berjaga-jaga di tengah tekanan rupiah yang masih berlanjut menjelaskan tertinggalnya simpanan rupiah dibandingkan simpanan valuta asing, terutama di kalangan penabung yang lebih mampu," tulis BCA dalam laporannya, dikutip Selasa (23/6/2026).

Ada dua kekhawatiran besar yang membayangi masyarakat. Kelompok dengan dana lebih besar cenderung waspada terhadap pelemahan rupiah. Sementara kelompok bawah lebih khawatir terhadap kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.

Tabungan di Bawah Rp100 Juta Tumbuh Paling Kencang

Pertumbuhan simpanan paling kencang terjadi pada kelompok dengan saldo di bawah Rp100 juta. Per April 2026, simpanan kelompok ini tumbuh 5,4% secara tahunan.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok saldo Rp100 juta sampai Rp500 juta yang tumbuh 3,1%, serta kelompok saldo Rp500 juta sampai Rp1 miliar yang naik 2,4%.

Pertumbuhan simpananPertumbuhan simpanan Foto: BCA - The Focal Point - Chart 1

Secara tahun berjalan, simpanan kelompok bawah juga masih naik 0,98%. Kenaikan ini bisa memberi kesan bahwa masyarakat bawah punya tambahan dana yang dapat digunakan untuk menjaga konsumsi.

Namun, pembacaan itu perlu hati-hati. Pada saat yang sama, simpanan rupiah kelompok yang lebih kaya justru turun. Untuk kelompok paling atas, penurunan simpanan rupiah bahkan mencapai 2,47%.

Sebagai catatan, berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperlihatkan simpanan perbankan secara keseluruhan masih besar. Pada April 2026, nominal simpanan mencapai Rp10.107 triliun, naik sekitar 11,4% dibandingkan April 2025 yang sebesar Rp9.076 triliun. Namun secara bulanan, simpanan justru turun 1,40% dari Maret 2026.

Penurunan ini lebih menggambarkan perubahan pilihan aset. Kelompok masyarakat yang lebih mampu punya ruang lebih besar untuk mengalihkan dana ke instrumen lain, termasuk simpanan valuta asing, apalagi saat rupiah masih berada dalam tekanan.

Data Bank Indonesia dalam laporan Uang Beredar yang dipublikasikan Selasa (23/6/2026) ikut memperkuat gambaran tersebut. Pada Mei 2026, tabungan rupiah tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp2.904,2 triliun. Namun, pertumbuhan tabungan valas jauh lebih kencang, yakni mencapai 29,9% secara tahunan menjadi Rp260,9 triliun.

Artinya, secara nominal tabungan rupiah memang masih jauh lebih besar. Namun dari sisi pertumbuhan, tabungan valas berlari jauh lebih cepat. Ini menjadi sinyal bahwa minat masyarakat untuk menyimpan dana dalam valas meningkat, terutama di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah.

Bukan hanya tabungan, total dana pihak ketiga atau DPK valas juga tumbuh 17,8% yoy menjadi Rp1.585,1 triliun pada Mei 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan DPK rupiah yang tumbuh 9,6% yoy menjadi Rp8.113,7 triliun.

Langkah Bank Indonesia memperketat batas pembelian valuta asing menjadi maksimal US$10.000 juga menunjukkan bahwa pergeseran minat dari rupiah ke valuta asing menjadi isu yang semakin penting.

Bukan Tanda Pendapatan Masyarakat Membaik

Kenaikan simpanan kelompok bawah juga sulit dibaca sebagai tanda bahwa pendapatan masyarakat sedang naik kuat.

Aktivitas manufaktur masih bergerak tidak stabil. Pada Mei 2026, Manufacturing PMI berada di level 49,7, atau kembali masuk zona kontraksi. Dalam PMI, angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur sedang melemah.

PMI Manufaktur & Ekspektasi PendapatanPMI Manufaktur & Ekspektasi Pendapatan Foto: BCA - The Focal Point - Chart 2

Kondisi ini penting karena manufaktur berkaitan erat dengan lapangan kerja dan penghasilan masyarakat. Jika aktivitas pabrik melemah, ruang perbaikan pendapatan juga ikut terbatas.

Ekspektasi pendapatan rumah tangga enam bulan ke depan juga belum terlalu meyakinkan. Indeks ekspektasi pendapatan berada di 136,5 pada Mei 2026, turun dari level yang sempat lebih tinggi sebelumnya.

Karena itu, kenaikan simpanan kelompok bawah lebih mungkin terjadi karena perubahan cara masyarakat mengatur uang, bukan karena pendapatan tiba-tiba membaik tajam.

Emas Mulai Ditinggal, Deposito Balik Jadi Pilihan

Perubahan pilihan investasi juga ikut menjelaskan kenapa simpanan bank kembali meningkat.

Minat rumah tangga terhadap emas dan perhiasan mulai menurun. Pada Mei 2026, porsi rumah tangga yang memilih tabungan atau deposito sebagai instrumen investasi mencapai 42,7%.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan rumah tangga yang memilih emas atau perhiasan, yakni 36,3%.

Padahal, pada Januari 2026, emas masih lebih unggul. Saat itu, porsi masyarakat yang memilih emas atau perhiasan mencapai 41,4%, sementara tabungan dan deposito hanya 37,9%.

Rotasi InvestasiRotasi Investasi Foto: BCA - The Focal Point - Chart 3

Artinya, sebagian masyarakat mulai kembali memilih produk perbankan yang dianggap lebih aman dan stabil. Kenaikan suku bunga juga membuat deposito menjadi lebih menarik, sementara laju kenaikan harga emas mulai kehilangan tenaga.

Bukan Mau Kaya, Tapi Takut Biaya Hidup Naik

Faktor lain yang paling kuat adalah kekhawatiran terhadap kenaikan harga. Banyak rumah tangga menambah simpanan karena ingin punya cadangan uang jika harga barang makin mahal.

Pola ini terlihat dari porsi pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi. Pada Mei 2026, porsi pengeluaran untuk konsumsi berada di 72,3%. Angka ini mulai naik dari titik rendah 71,6% pada awal 2026, tetapi masih lebih rendah dibandingkan posisi sekitar 74,3% sebelumnya.

Sementara itu, indeks pembelian barang tahan lama berada di 108,3 pada Mei 2026. Artinya, minat masyarakat untuk membeli barang besar seperti elektronik, kendaraan, atau perlengkapan rumah tangga belum pulih.

TabunganTabungan Foto: BCA - The Focal Point - Chart 4

Kekhawatiran terhadap harga juga terlihat dari penilaian publik terhadap pengendalian harga kebutuhan pokok. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap isu ini turun menjadi 45,2% pada Mei 2026, dari 49,5% enam bulan sebelumnya.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi ikut menambah kekhawatiran. Meski pemerintah menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi pada 2026, sebagian masyarakat tetap cemas kenaikan harga bisa merembet ke barang dan jasa lain.

Dua Wajah Penabung RI di Tengah Tekanan Ekonomi

Pertumbuhan simpanan di Indonesia saat ini akhirnya memperlihatkan dua jenis penabung yang sama-sama berhati-hati.

Pertama, kelompok masyarakat yang lebih kaya. Mereka khawatir terhadap pelemahan rupiah, sehingga mulai mengurangi simpanan rupiah dan memperbesar simpanan valuta asing.

Kedua, kelompok masyarakat bawah. Mereka khawatir terhadap kenaikan harga, sehingga menambah simpanan rupiah sebagai bantalan untuk menghadapi biaya hidup yang lebih mahal.

"Ancaman terhadap permintaan swasta berarti pemerintah mungkin tidak dapat memangkas komitmen fiskalnya secara besar-besaran sambil tetap mempertahankan pertumbuhan," tulis BCA.

Kondisi ini membuat strategi pertumbuhan yang terlalu bertumpu pada konsumsi rumah tangga menjadi lebih menantang. Jika masyarakat semakin banyak menahan uang untuk berjaga-jaga, konsumsi bisa ikut tertahan.

Padahal, pemerintah masih menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026. Untuk mencapai target itu, pertumbuhan pada kuartal II hingga kuartal IV perlu rata-rata sekitar 5,33% secara tahunan.

Dalam situasi seperti ini, belanja pemerintah masih berperan penting untuk menjaga permintaan domestik. Terutama jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan Bank Indonesia harus mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular