MARKET DATA

Durian Bisa Jadi Mesin Devisa Baru RI, China Siap Menampung

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
25 June 2026 15:30
Ilustrasi Durian Musang King. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Durian Musang King. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja ekspor durian Indonesia mulai menunjukkan tren peningkatan, terutama dengan semakin terbukanya akses langsung ke pasar China.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume ekspor durian segar Indonesia mencapai 709,26 ton pada 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan 590,53 ton pada 2024.

Nilai ekspor juga mencapai US$1,25 juta atau sekitar Rp22,38 miliar dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekspor durian Indonesia terus meningkat. Volume ekspor naik dari 50 ton pada 2021 menjadi 709 ton pada 2025, sementara nilai ekspor meningkat dari US$149 ribu menjadi US$1,25 juta. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya permintaan durian di pasar internasional, terutama Asia.


Malaysia Masih Jadi Pembeli Utama

Malaysia masih menjadi tujuan ekspor durian terbesar Indonesia.

Pada 2025, ekspor durian Indonesia ke Malaysia mencapai 478,7 ton dengan nilai US$382,7 ribu. Hong Kong berada di posisi kedua dengan volume 94,46 ton senilai US$335 ribu, sementara China menempati posisi ketiga dengan 71 ton senilai US$319 ribu.

Meski nilai ekspor ke China masih relatif kecil, pasar negara tersebut mulai menjadi perhatian.

Permintaan durian di China diperkirakan mencapai US$8 miliar atau sekitar Rp128 triliun per tahun. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan total ekspor durian Indonesia saat ini.

China Mulai Jadi Pasar Baru

Akses langsung ke China baru terbuka setelah Indonesia dan China menandatangani Protokol Ekspor Durian Beku pada Mei 2025.

Pada April 2026, Indonesia mengirimkan 459 ton durian beku ke China dengan nilai mencapai Rp42,5 miliar.

Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat M. Panggabean mengatakan hingga pertengahan April 2026, sebanyak 151 kontainer durian telah dikirim ke China dengan nilai ekonomi mencapai Rp377,5 miliar.

Sebelumnya, durian Indonesia umumnya dikirim melalui negara lain seperti Thailand, Vietnam, atau Malaysia sebelum masuk ke pasar China.

Dengan jalur langsung, waktu pengiriman dapat dipangkas dari sekitar 56 hari menjadi 22-26 hari. Biaya logistik juga turun hingga sekitar 50%.

Pemerintah memperkirakan Indonesia berpeluang merebut sekitar 5%-10% pasar durian China. Jika tercapai, potensi devisa diperkirakan mencapai Rp6,4 triliun hingga Rp12,8 triliun per tahun.

Sulawesi Tengah Jadi Sentra Baru

Di dalam negeri, Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah yang paling diuntungkan dari pembukaan pasar ekspor.

Data pemerintah daerah menunjukkan Sulawesi Tengah memiliki sekitar 3,7 juta pohon durian. Sebanyak 1,2 juta pohon sudah produktif, sementara sekitar 2,2 juta pohon lainnya belum menghasilkan.

Produksi durian daerah tersebut mencapai 95.140 ton pada 2025 dengan sentra utama berada di Poso dan Parigi Moutong.

Tujuh dari delapan rumah pengemasan durian beku yang telah memenuhi persyaratan ekspor ke China juga berada di provinsi tersebut.

Kepala Karantina Sulawesi Tengah Alfian mengatakan harga durian di China dapat mencapai lima hingga tujuh kali lebih tinggi dibandingkan harga di pasar domestik.

Kondisi tersebut membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani maupun pelaku usaha.

Pasar Masih Sangat Besar

Thailand dan Vietnam selama ini menjadi pemain utama dalam perdagangan durian Asia.

Indonesia baru mulai masuk ke pasar tersebut.

Skalanya memang masih kecil jika dibandingkan dengan nilai pasar China yang mencapai Rp128 triliun per tahun. Namun pembukaan akses langsung membuat posisi Indonesia berubah dari sekadar pemasok tidak langsung menjadi eksportir ke pasar tujuan.

Dalam perdagangan komoditas, akses pasar sering kali menjadi langkah yang paling sulit.

Dan langkah itu kini mulai terbuka bagi durian Indonesia.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular