MARKET DATA

Mata Uang Asia Kebakaran: Won - Ringgit Ambles, Cuma 1 Negara Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 June 2026 10:15
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (22/6/2026). Tekanan terjadi saat dolar AS masih bertahan kuat di tengah ketidakpastian kesepakatan damai AS-Iran.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, hanya satu mata uang Asia yang berhasil menguat sedangkan sisanya mesti mengalami pelemahan.  

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pada pagi ini. Won melemah 0,50% ke posisi KRW 1.537,55/US$.

Baht Thailand juga tertekan cukup dalam setelah melemah 0,30% ke posisi THB 32,93/US$. Ringgit Malaysia menyusul dengan koreksi 0,24% ke MYR 4,144/US$, sementara peso Filipina turun 0,23% ke PHP 60,809/US$.

Rupiah juga masuk zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,20% ke posisi Rp17.810/US$, kembali menembus level Rp17.800/US$.

Tekanan juga dialami yen Jepang dan dong Vietnam yang sama-sama melemah 0,17%, masing-masing ke posisi JPY 161,56/US$ dan VND 26.310/US$. Dolar Singapura terkoreksi 0,13% ke SGD 1,291/US$, sementara yuan China turun tipis 0,04% ke CNY 6,771/US$.

Di tengah tekanan mayoritas mata uang Asia, dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang yang mampu menguat. Dolar Taiwan naik 0,20% ke posisi TWD 31,612/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 100,844 pada waktu yang sama. Meski turun tipis, posisi DXY masih berada di level tinggi, sehingga tekanan terhadap mata uang Asia belum mereda.

Dolar AS masih cenderung kuat pada Senin karena ketidakpastian kembali menyelimuti kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran. Sentimen pasar memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali memulai perang di Timur Tengah, sementara Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz.

Meski tensi meningkat, pembicaraan damai AS-Iran masih berlanjut memasuki hari kedua di Swiss. Perundingan tersebut berlangsung berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata sejak April selama setidaknya 60 hari ke depan.

Chris Weston, head of research Pepperstone, menilai tidak mengejutkan jika kepatuhan terhadap kesepakatan cepat goyah.

"Pada akhirnya, yang penting bagi pasar adalah arus kargo melalui Selat Hormuz," ujar Weston dikutip dari Reuters. 

Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melewati jalur tersebut turun tajam pada Minggu setelah Teheran menyatakan telah menutup selat itu. Kondisi ini ikut mengangkat harga minyak, dengan Brent naik 1,30% ke US$81,62 per barel.

Weston menambahkan, pasar fisik minyak masih ketat dan kondisi tersebut dapat memberi dukungan terhadap harga. Namun, arus dana di pasar valuta dan komoditas, terutama emas, masih akan sangat dipengaruhi perkembangan di sektor energi.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular