MARKET DATA
Newsletter

6 Kabar Genting Menghantui RI Pekan Ini, MSCI & Stimulus Jadi Sorotan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 June 2026 06:20
Ilustrasi IHSG
Foto: pexels/Burak The Weekender
  •  Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu, IHSG menguat tipis sementara rupiah kembali tertekan
  •  Bursa Eropa dan Asia mayoritas ditutup melemah pada akhir pekan lalu, sementara pasar saham AS tutup karena libur Juneteenth
  •  Pasar keuangan hari ini hingga sepekan ke depan akan mencermati perkembangan damai AS-Iran, pengumuman MSCI Classification, rilis uang beredar BI periode Mei 2026, serta inflasi PCE AS.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (19/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat tipis, sementara rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada hari ini, Senin (22/6/2026), dan sepanjang satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen pasar keuangan Indonesia hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG berhasil menutup perdagangan Jumat pekan lalu di zona hijau meski sepanjang hari bergerak fluktuatif. Pergerakan indeks terjadi di tengah respons pelaku pasar terhadap hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat tipis 0,08% atau bertambah 4,8 poin ke level 6.177,14. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.215,06 dan terendah 6.117,31.

Menariknya, IHSG baru berhasil menghijau menjelang akhir perdagangan. Indeks sempat menguat hingga 0,69% sebelum akhirnya memangkas penguatan dan berakhir nyaris tidak bergerak dari posisi perdagangan sebelumnya.


Nilai transaksi tercatat mencapai Rp25,89 triliun dengan volume perdagangan 30,23 miliar saham dalam 1,7 juta kali transaksi. Sebanyak 353 saham menguat, 358 saham melemah, dan 248 saham bergerak stagnan.

Meski berhasil ditutup di zona hijau, penguatan IHSG ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar tertentu. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penopang terbesar indeks dengan kontribusi 23,84 poin.

Selanjutnya, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menyumbang 21,07 poin dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 14,05 poin.

Saham lain yang turut menopang laju IHSG antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO).

Di sisi lain, tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang memangkas indeks hingga 18,79 poin. Tekanan juga berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Secara sektoral, saham-saham energi menjadi motor penguatan pasar dengan kenaikan 4,90%, disusul sektor kesehatan yang melonjak 3,99% dan teknologi sebesar 2,12%.

Sebaliknya, sektor bahan baku menjadi pemberat utama dengan pelemahan 2,04%, diikuti utilitas yang turun 1,23%, industri 1,10%, dan keuangan yang melemah 0,54%.

Penguatan tipis IHSG tidak menular ke rupiah. Nilai tukar rupiah harus mengakhiri perdagangan terakhir pekan lalu dengan melemah terhadap dolar AS pada Jumat kemarin. Pelemahan terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.775/US$ atau terdepresiasi 0,42%.

Posisi ini sekaligus membalikkan keadaan pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (18/6/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.700/US$ setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan.

Sepanjang perdagangan Jumat, rupiah sudah berada di zona merah sejak pembukaan. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,73% ke level Rp17.830/US$.

Tekanan bahkan sempat lebih dalam ketika rupiah menyentuh level terlemah hari itu di Rp17.850/US$. Namun, tekanan tersebut sedikit mereda menjelang akhir perdagangan hingga rupiah ditutup di level Rp17.775/US$.

Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di pasar global. Menguatnya indeks dolar AS menunjukkan pelaku pasar masih memburu aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.

Dolar AS bergerak kuat setelah pelaku pasar terus mencerna hasil rapat bank sentral AS atau The Federal Reserve pada Rabu waktu setempat. Rapat tersebut menjadi pertemuan pertama The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Komentar Warsh yang cenderung singkat, ditambah proyeksi terbaru The Fed mengenai arah suku bunga, memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS masih berpeluang naik pada tahun ini. Ekspektasi tersebut turut mendorong dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.

Dari dalam negeri, BI baru saja menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamis (18/6/2026). Dalam rapat tersebut, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Kenaikan ini menjadi langkah lanjutan BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga kembali memperketat aturan pembelian valuta asing terhadap rupiah. BI memangkas batas pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$10.000 per pelaku per bulan. Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

"Kami lakukan untuk menegakkan tata kelola aturan yang ada. Pembelian dolar, khususnya di atas US$10.000 harus ada underlying," kata Deputi Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

Sebelumnya, BI telah menurunkan threshold atau batas pembelian dolar tanpa underlying menjadi US$25.000 per orang per bulan. Kini, batas tersebut kembali diturunkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kebijakan pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valas (PUVA) agar semakin maju, efisien, dan pruden.

Langkah ini juga ditujukan untuk menjaga daya tarik investasi asing dan meningkatkan efektivitas kebijakan moneter, termasuk dalam stabilisasi nilai tukar rupiah.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun pemerintah melonjak 1,46% ke level 7,070% pada perdagangan Jumat lalu.

Sebagai catatan, kenaikan imbal hasil menunjukkan harga SBN sedang turun. Kondisi ini biasanya mencerminkan tekanan jual di pasar obligasi, karena imbal hasil dan harga obligasi bergerak berlawanan arah.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Bursa saham global bergerak melemah pada perdagangan Jumat (19/6/2026), dengan mayoritas bursa Eropa dan Asia-Pasifik ditutup di zona merah. Pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dimediasi Washington.

Sementara itu, bursa saham dan pasar obligasi AS tutup pada Jumat karena libur nasional Juneteenth. Perdagangan futures tetap berlangsung, tetapi dengan jam yang terbatas.

Sentimen global masih dibayangi perkembangan terbaru dari kesepakatan AS-Iran. Wakil Presiden AS JD Vance pada Kamis membela kesepakatan sementara Presiden Donald Trump dengan Iran. Dia menegaskan bahwa bantuan ekonomi untuk Teheran hanya akan diberikan jika Iran mematuhi seluruh isi kesepakatan.

"Amerika Serikat tidak memberikan satu sen pun uang kepada Iran. Satu-satunya cara Iran mendapatkan sumber daya ini adalah jika mereka sepenuhnya mematuhi ketentuan kesepakatan," ujar Vance dikutip dari CNBC International.

Dari pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei juga menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai perjanjian bersyarat. Dia mengatakan telah menyetujui memorandum tersebut setelah menerima jaminan bahwa hak-hak Iran dan "front perlawanan" tetap dilindungi.

Di Eropa, bursa saham ditutup melemah setelah pasar merespons negatif penundaan pembicaraan antara Teheran dan Washington. Indeks pan-European Stoxx 600 ditutup turun 0,2%.

Bursa Inggris FTSE 100 melemah 0,35%, sementara indeks CAC 40 Prancis turun 0,55%. Adapun DAX Jerman berakhir stagnan.

Dari sisi sektoral, saham minyak dan gas menjadi penopang utama. Sebaliknya, saham pertambangan dan perjalanan menjadi pemberat indeks yang lebih luas.

Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik lebih dari 7 basis poin ke level 4,8247%. Kenaikan terjadi setelah data resmi menunjukkan pinjaman pemerintah mencapai level tertinggi untuk bulan Mei sejak 2019, dengan defisit anggaran sebesar 23,3 miliar poundsterling atau sekitar US$30,8 miliar.

Sentimen politik Inggris juga ikut menjadi perhatian. Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi potensi tantangan kepemimpinan dari rival Partai Buruh, Andy Burnham, yang akan kembali ke parlemen Inggris setelah memenangkan pemilihan khusus pada Kamis.

Dari Asia-Pasifik, pergerakan bursa juga cenderung melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang masih mampu menguat 0,28% ke level 71.250,06 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi pada Kamis. Namun, indeks Topix turun 0,57% dan berakhir di 4.044,96.

Bursa Korea Selatan juga melemah. Indeks Kospi turun 0,13% ke level 9.052,42 setelah sehari sebelumnya sempat menembus level 9.000 untuk pertama kalinya. Sementara itu, indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil terkoreksi tajam 3,43%.

Saham Samsung Electronics berbalik melemah 2,34% setelah sebelumnya sempat menguat. Sebaliknya, saham SK Hynix masih naik 2,94%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,92% dan menutup perdagangan di level 8.828,7.

Sejumlah pasar utama Asia juga tidak beroperasi karena libur. Pasar saham China, Hong Kong, dan Taiwan tutup pada Jumat lalu.

Meski Wall Street libur pada Jumat, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak melemah. Futures S&P 500 turun 0,4%, Nasdaq 100 futures melemah 0,5%, sementara kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 0,3% pada pukul 05.41 waktu AS Timur.

Sebelum libur Juneteenth, Wall Street menutup perdagangan pekan pendek di zona hijau pada Kamis. Tiga indeks utama AS menguat setelah The Federal Reserve memberi sinyal masih terbukanya peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini, meski sebelumnya sinyal tersebut sempat memicu tekanan di pasar saham.

Indeks S&P 500 naik 1,08% dan ditutup di level 7.500,58. Nasdaq Composite melesat 1,91% ke 26.517,93. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 72,15 poin atau 0,14% dan berakhir di level 51.564,70.

Memasuki perdagangan pertama pekan ini, Senin (22/6/2026) pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri.

Perkembangan perang Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian utama setelah pembicaraan damai yang semula dijadwalkan pada Jumat lalu batal digelar, sementara isu Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Dari dalam negeri, pasar akan menanti pengumuman uang beredar Bank Indonesia untuk periode Mei 2026 serta pengumuman penting MSCI terkait klasifikasi pasar pada pekan ini. Dari sisi global, pelaku pasar juga akan mencermati arah kebijakan suku bunga China serta data inflasi favorit bank sentral AS (The Federal Reserve /The Fed), yakni core personal consumption expenditure (PCE) AS.

Sentimen-sentimen tersebut akan menjadi penggerak penting bagi pasar keuangan domestik, terutama di tengah rupiah yang masih tertekan, yield SBN yang kembali naik, dan IHSG yang masih bergerak volatil.

1. Damai AS-Iran Belum Jelas

Sentimen pertama yang akan dicermati pasar pada awal pekan ini adalah perkembangan perang AS dan Iran. Harapan damai sempat muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani memorandum of understanding (MoU) damai berisi 14 poin secara virtual pada Rabu pekan lalu.

Namun, proses menuju kesepakatan permanen belum berjalan mulus. Pembicaraan perdamaian AS-Iran yang semula dijadwalkan berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada Jumat (19/6/2026) batal digelar.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Iran, meski pada saat yang sama Wakil Presiden JD Vance bertemu pejabat Iran di Swiss dalam perundingan perdana pasca-kesepakatan damai sementara. Pertemuan itu dibayangi keputusan Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz dengan alasan AS gagal memastikan gencatan senjata di Lebanon.

Trump menuntut Iran menghentikan dukungannya terhadap Hezbollah dan memperingatkan bahwa AS akan menyerang lebih keras jika konflik berlanjut. Bahkan, menurut laporan Fox News, Trump mengancam Iran akan "kehilangan negaranya" jika tetap menutup Selat Hormuz.

Di sisi lain, Vance menyebut pembicaraan berjalan positif, termasuk upaya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, menegakkan gencatan senjata di Lebanon, serta membahas langkah awal menuju kesepakatan nuklir baru. Iran berharap negosiasi dapat membuka akses terhadap aset yang dibekukan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, penutupan kembali Selat Hormuz langsung mengganggu lalu lintas kapal tanker dan memicu kekhawatiran pasar energi global. Sementara di Lebanon, situasi relatif lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya, meski belum ada tanda jelas bahwa konflik benar-benar berakhir.

Pembatalan tersebut dikonfirmasi setelah Gedung Putih menyatakan Wakil Presiden AS JD Vance tidak akan melakukan perjalanan ke Swiss. Pembicaraan Jumat seharusnya menjadi tindak lanjut dari kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dengan Iran.

"Logistik negosiasi ini tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi. Saat ini Wakil Presiden tidak akan berangkat malam ini. Kami berharap dapat memulai pembicaraan teknis sesegera mungkin," kata juru bicara Gedung Putih tentang Vance pada Kamis malam, dikutip dari Reuters.

Meski sempat batal, AS dan Iran kemudian memulai perundingan damai di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, pada Minggu (21/6/2026). Pertemuan tersebut dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance dan negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf.

Perundingan ini bertujuan mencari penyelesaian permanen atas perang yang telah berlangsung hampir empat bulan. Namun, pembicaraan berlangsung di tengah perbedaan pandangan terkait Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Iran mengklaim telah menutup selat tersebut sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Pemerintah Iran pada Sabtu (20/6/2026) juga kembali mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan kapal-kapal agar menjauhi jalur pelayaran strategis tersebut.

Namun, AS membantah klaim tersebut dan menegaskan lalu lintas maritim di Selat Hormuz masih berjalan normal.

Bagi pasar, perkembangan di Selat Hormuz menjadi sangat penting karena jalur ini merupakan salah satu nadi utama perdagangan minyak dunia. Jika ketegangan kembali meningkat dan mengganggu arus energi global, harga minyak berpotensi bertahan tinggi.

2. Uang Beredar RI

Dari dalam negeri, Bank Indonesia akan mengumumkan data uang beredar dalam arti luas atau M2 untuk periode Mei 2026 pada Selasa (23/6/2026).

Rilis ini akan menjadi salah satu data domestik yang dicermati pasar untuk melihat perkembangan likuiditas perekonomian, terutama setelah BI kembali menaikkan suku bunga acuan dan rupiah masih berada dalam tekanan.

Pada rilis terakhir, likuiditas perekonomian Indonesia tetap tumbuh positif. Posisi M2 pada April 2026 tercatat sebesar Rp10.253,7 triliun atau tumbuh 9,2% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 9,7% (yoy).

"Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada April 2026. Posisi M2 pada April 2026 tercatat sebesar Rp10.253,7 triliun atau tumbuh sebesar 9,2% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 9,7% (yoy)," tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).

BI menjelaskan perkembangan M2 pada April 2026 didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit atau M1 sebesar 13,6% (yoy) dan uang kuasi sebesar 4,7% (yoy).

Dari sisi faktor pendorong, perkembangan M2 pada April 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit.

Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh 38,6% (yoy), sedikit melambat dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh 39,1% (yoy).

Sementara itu, penyaluran kredit pada April 2026 tumbuh 9,4% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 8,9% (yoy).

"Perkembangan M2 pada April 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit," tulis BI.

3. Pengumuman MSCI

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga akan tertuju pada pengumuman MSCI Classification yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026. Pengumuman ini penting karena berkaitan dengan aksesibilitas pasar dan dapat mempengaruhi persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan OJK telah kembali melakukan pertemuan teknis dengan analis MSCI pada 10 Juni 2026. Pertemuan tersebut membahas data dan informasi yang dibutuhkan MSCI.

"Sejauh ini mereka sudah mengkonfirmasi, memanfaatkan dan menerima seluruh informasi dan data keperluan terutama informasi keterbukaan dan kepemilikan saham di perusahaan terbuka yang tercatat di bursa efektif," ujar Hasan saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Hasan menjelaskan, pengumuman MSCI tidak hanya terkait pasar saham Indonesia, tetapi merupakan bagian dari tinjauan rutin terhadap berbagai bursa global.

"Kemudian di tanggal 23 waktu AS nanti kita juga menunggu pengumuman terkait dengan market classification atau review atas klasifikasi pasar termasuk juga bursa kita," lanjutnya.

Menurut Hasan, OJK saat ini masih menanti keputusan dari lembaga internasional tersebut karena pengumuman MSCI dapat menjadi katalis penting dalam menentukan arah aliran dana asing ke depan.

Sebelumnya pada Jumat lalu, MSCI telah merilis laporan Global Market Accessibility Review 2026. Dalam laporan tersebut, Indonesia tetap berstatus Emerging Market. Artinya, pasar modal Indonesia masih dinilai memenuhi kriteria sebagai pasar berkembang.

Namun, laporan itu juga memberi catatan penting bagi Indonesia. MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria Information Flow atau arus informasi dari sebelumnya "+" menjadi "-".

Indonesia menjadi salah satu dari dua negara Emerging Markets yang mengalami penurunan penilaian pada aspek tersebut, bersama Turki.

MSCI menilai masih terdapat kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi di bursa Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu proses pembentukan harga saham yang wajar di pasar.

Persoalan transparansi kepemilikan dan praktik perdagangan yang dinilai terkoordinasi juga disebut dapat membatasi kemampuan investor institusi internasional dalam menilai besaran free float yang sebenarnya.

Akibatnya, investor global dinilai semakin sulit menjadikan harga saham yang terbentuk di pasar sebagai acuan yang dapat diandalkan dalam menyusun portofolio maupun mereplikasi indeks.

MSCI juga menilai kondisi tersebut dapat mengurangi transparansi pasar dan menghambat mekanisme price discovery, yakni proses pembentukan harga yang mencerminkan kondisi fundamental secara wajar.

Pengumuman MSCI pekan ini akan sangat dicermati. Jika Indonesia tetap dipertahankan dengan catatan yang terbatas, tekanan terhadap pasar saham bisa mereda. Namun, jika MSCI memberi sinyal negatif tambahan, kekhawatiran terhadap arus dana asing dapat kembali meningkat.

4. Inflasi PCE AS

Dari Amerika Serikat, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data personal consumption expenditure (PCE) periode Mei 2026. Data ini dijadwalkan keluar pada Kamis malam waktu Indonesia.

Rilis tersebut mencakup PCE utama dan core PCE, yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi. Core PCE menjadi perhatian utama karena merupakan indikator inflasi favorit The Federal Reserve dalam membaca tekanan harga di perekonomian AS.

Pada rilis sebelumnya, indeks harga PCE AS untuk periode April 2026 naik 3,8% secara tahunan, menjadi level tertinggi sejak Mei 2023. Realisasi tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.

Sementara itu, core PCE AS naik 3,3% secara tahunan pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan Maret yang sebesar 3,2%. Angka tersebut juga masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Dengan kondisi tersebut, pasar akan mencermati apakah inflasi PCE pada Mei mulai melandai atau justru kembali panas setelah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

Data inflasi PCE ini akan langsung mempengaruhi arah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dua instrumen tersebut masih menjadi kompas utama aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Jika PCE dan core PCE kembali panas, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi semakin kuat. Kondisi tersebut biasanya membuat dolar AS menguat dan yield Treasury AS naik, yang pada gilirannya dapat membuat aksi keluar investor di emerging markets

5. Suku Bunga China

Dari Asia, pelaku pasar juga akan mencermati keputusan suku bunga acuan China (Loan Prime Rate /LPR) pada hari ini. 

Pada periode sebelumnya, bank sentral China (People's Bank of China /PBoC) memutuskan untuk mempertahankan LPR tenor satu tahun di level 3,0% dan LPR tenor lima tahun di level 3,5%. Dengan keputusan tersebut, PBoC telah menahan suku bunga acuan selama sepuluh bulan berturut-turut.

Keputusan tersebut mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter China. Pemerintah China saat ini lebih memprioritaskan stabilitas makroekonomi dibandingkan menyuntikkan stimulus secara agresif.

Pelaku pasar memperkirakan PBoC masih akan mempertahankan suku bunga acuannya. Ekspektasi tersebut muncul di tengah harga minyak dunia yang masih tinggi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat prospek inflasi menjadi lebih tidak pasti.

Di sisi lain, target pertumbuhan ekonomi China yang dipatok lebih rendah pada kisaran 4,5% hingga 5% untuk 2026 juga mengurangi urgensi pelonggaran moneter besar-besaran.

Meski begitu, pasar tetap akan mencermati sinyal kebijakan dari PBoC. China masih menghadapi tantangan dari sektor properti yang lemah dan sentimen konsumen domestik yang belum sepenuhnya pulih.

6. Insentif Ekonomi Kuartal III-2026

Dari dalam negeri, pasar juga akan mencermati rencana pengumuman insentif ekonomi untuk kuartal III-2026. Pemerintah dijadwalkan mengumumkan stimulus tersebut pada awal pekan ini melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, insentif tersebut akan diumumkan pada Senin (22/6/2026).

"Mungkin Pak Menko nanti hari Senin akan menyampaikan stimulus di kuartal 3 dan berikutnya," ujar Susiwijono saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Susiwijono menjelaskan, ada beberapa bentuk insentif yang akan diumumkan pemerintah, mulai dari insentif fiskal, pangan, hingga transportasi. Khusus insentif fiskal dan pangan, kebijakan tersebut disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

"Kalau yang biasa-biasa kan mengenai insentif fiskal. Kalau yang bantuan pangan gitu-gitu sudah pasti kan. Ya artinya untuk memperkuat demand kan dari sisi demand-nya. Kalau dari sisi supply-nya ya beberapa PPN DTP," ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan diskon transportasi untuk menyambut masa libur sekolah akhir semester. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong mobilitas masyarakat sekaligus menjaga aktivitas konsumsi.

"Karena ini udah mulai liburan kan ini. Mulai liburan dari sisi supply-nya kita minta juga ada penurunan harganya untuk diskon transportasi. Seperti biasa lah nanti diumumkan Pak Menko," kata Susiwijono.

Sebelumnya, pemerintah juga telah menyiapkan Paket Stimulus Ekonomi Semester II-2026. Paket tersebut mencakup diskon tiket transportasi untuk libur sekolah dan Natal-Tahun Baru, program magang nasional, program vokasi, hingga insentif pajak bagi penulis.

Untuk diskon tiket transportasi, termasuk angkutan udara, pemerintah menyiapkan anggaran Rp190 miliar untuk periode liburan sekolah dengan target penerima manfaat 3,07 juta orang. Sementara untuk periode Natal dan Tahun Baru, anggaran yang disiapkan mencapai Rp161,4 miliar dengan target 2,87 juta penerima manfaat.

Selain itu, stimulus tambahan berupa pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP juga diberikan khusus untuk tiket pesawat. Untuk momen libur sekolah, nilainya mencapai Rp472,7 miliar dengan target 2,3 juta penumpang. Sementara untuk Natal dan Tahun Baru, pemerintah menyiapkan Rp722 miliar dengan target 3,7 juta penumpang.

Pemerintah juga menyiapkan program magang nasional pada Juli 2026 untuk 150.000 peserta dengan anggaran Rp4,14 triliun. Selain itu, program vokasi nasional disiapkan untuk 220.000 lulusan SMK dan 50.000 korban PHK dengan nilai anggaran Rp2,12 triliun.

Secara keseluruhan, Paket Stimulus Ekonomi Semester II-2026 akan menyerap anggaran Rp7,8 triliun, belum termasuk insentif PPh final bagi penulis.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini: 

  •    Suku bunga acuan China
  • Menteri Perdagangan menghadiri pembukaan outlet Ayam Gepuk Pak Gembus di Tebet, Jakarta Selatan

  • Pertemuan antara Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Menteri Agraria dan Tata Ruang, CEO Danantara Indonesia dan COO Danantara Indonesia dengan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan di kantor BPKP, Jakarta Pusat

  • Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan Terpadu Tahun 2026 di Grha Bhasvara Icchana Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Narasumber antara lain Gubernur Bank Indonesia

  • Konferensi Pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester II Tahun 2026 yang akan diselenggarakan di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat. Narasumber: Menko Perekonomian, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Keuangan, dan Sekretaris Kabinet

  • Kementerian Kesehatan Bersama The Lancet Regional Health Western Pacific akan meluncurkan Komisi The Lancet Regional Health - Western Pacific: Reimagining Healthcare in Indonesia for 2045 di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan. Narasumber: Menteri Kesehatan:

 

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features