MARKET DATA

Cuma Rupiah & Rupee Sanggup Taklukkan Dolar, Yen Jatuh ke Titik Nadir

mae,  CNBC Indonesia
20 June 2026 09:30
Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta, Senin, (26/9/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta, Senin, (26/9/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia ambruk pada pekan ini. Namun, rupiah dan rupee menjadi pengecualian.

Nilai tukar rupiah harus mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini dengan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (19/6/2026). Pelemahan terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global.


Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup di posisi Rp17.775/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,42%.




Tekanan terhadap rupiah pada Jumat masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di pasar global.

Menguatnya indeks dolar AS hingga menembus level 100 menunjukkan pelaku pasar masih memburu aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.

Kendati melemah kemarin, secara keseluruhan nilai tukar menguat tajam 0,51% dalam sepekan.

Penguatan rupiah ditopang kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada Kamis (18/6/2026).


Kenaikan ini menjadi langkah lanjutan BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga kembali memperketat aturan pembelian valuta asing terhadap rupiah.

BI memangkas batas pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$10.000 per pelaku per bulan. Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Di tingkat Asia, rupee menjadi juara pekan ini dengan melesat 0,83% sepekan.

Rupee berhasil bertahan lebih kuat dibandingkan mata uang Asia lainnya. Mata uang tersebut mencatat penguatan mingguan terbaik dalam 11 pekan terakhir setelah masuknya dana asing ke pasar obligasi dan berbagai langkah Reserve Bank of India untuk menarik aliran dolar ke dalam negeri.

Namun, kebangkitan dolar membuat penguatan rupee tertahan. Rupee ditutup stabil di INR 94,32 per dolar AS setelah sempat menguat di awal perdagangan.

Sebaliknya, ringgit Malaysia mengalami tekanan hebat pekan ini dengan melemah 1,91% pada pekan ini.

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr. Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan prospek suku bunga AS yang lebih tinggi mendukung penguatan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk ringgit Malaysia.

"Pasar mata uang Asia terus dibayangi kekhawatiran mengenai pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga federal funds rate sebesar 25 basis poin tahun ini," ujarnya kepada Bernama.

 

Sebagai catatan pada Rabu (17/6/2026), The Fed memutuskan menahan suku bunga di 3,50-3,75%. Namun, The Fed memberi sinyal tegas akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini. Dalam proyeksi terbaru, sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan suku bunga masih perlu dinaikkan hingga akhir tahun.

Yuan China pun ikut tertekan. Mata uang Negeri Tirai Bambu melemah ke level terendah dalam sepekan setelah pasar semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun.

Yen Ambruk ke Level Terendah 40 Tahun

Penguatan dolar membuat yen Jepang terpuruk di dekat level terlemah sejak Juli 2024 atau hampir dua tahun.

Dolar bahkan sempat menyentuh JPY 161,8 dan semakin mendekati level terlemah yen sejak 1986 atau 40 tahun Pelaku pasar kini berspekulasi pemerintah Jepang akan kembali turun tangan untuk menyelamatkan mata uangnya seperti yang dilakukan pada 2024.

Tekanan terhadap yen juga datang dari suku bunga Jepang yang masih jauh lebih rendah dibandingkan negara lain, meskipun Bank of Japan baru saja menaikkan suku bunga.

Bank of Japan (BoJ) resmi menaikkan suku bunga acuannya pada Selasa (16/6/2026) sebesar 25 basis poin menjadi 1,0% dari sebelumnya 0,75%. Langkah ini membawa biaya pinjaman di Jepang ke level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade atau sejak 1995.

Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi global. BoJ menilai risiko inflasi masih cukup tinggi dan berpotensi mendorong laju kenaikan harga melampaui target bank sentral sebesar 2%.

Kenaikan suku bunga ini menandai semakin tegasnya sikap BoJ dalam menghadapi tekanan inflasi setelah bertahun-tahun mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar. Bank sentral juga berupaya menahan pelemahan yen yang selama ini tertekan akibat kesenjangan suku bunga dengan negara-negara maju lainnya, terutama Amerika Serikat.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular