Asia Takluk Lawan Dolar: Rupiah, Won-Ringgit Ambruk, Cuma Yen Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Tekanan terjadi seiring dolar AS masih berada di level tinggi setelah melesat tajam pada perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari sembilan mata uang Asia, delapan diantaranya mengalami tekanan dari dolar AS, sementara hanya satu mata uang yang menguat.
Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pada pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,68% ke posisi Rp17.820/US$. Pelemahan tersebut membuat rupiah kembali menjauh dari level Rp17.700/US$.
Tekanan juga terlihat pada dong Vietnam yang melemah 0,25% ke posisi VND26.335/US$. Baht Thailand dan peso Filipina sama-sama turun 0,18%, masing-masing ke posisi THB32,81/US$ dan PHP60,652/US$.
Dolar Taiwan turut melemah 0,12% ke posisi TWD31,649/US$, disusul dolar Singapura yang terkoreksi 0,11% ke SGD1,2911/US$. Ringgit Malaysia juga masuk zona merah setelah melemah 0,07% ke MYR4,118/US$, sementara won Korea Selatan turun tipis 0,04% ke KRW1.539,19/US$.
Di tengah tekanan mayoritas mata uang Asia, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang yang mampu menguat. Yen naik 0,11% ke posisi JPY161,2/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau relatif stabil dengan penguatan tipis 0,01% ke posisi 100,859 pada waktu yang sama.
Meski pagi ini hanya naik tipis, posisi dolar AS masih kuat setelah pada perdagangan Kamis (18/6/2026) DXY melonjak 0,76%. Penguatan tersebut membawa indeks dolar AS ke level tertinggi dalam 12 bulan terakhir.
Dolar AS masih mendapat tenaga dari hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu waktu AS. Bank sentarl AS (The Federal Reserve/The Fed) memang menahan suku bunga acuannya, tetapi nada kebijakan yang disampaikan cenderung hawkish.
Pasar masih mencerna sinyal terbaru The Fed di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Komentar Warsh yang relatif tegas, ditambah proyeksi resmi terbaru The Fed mengenai arah suku bunga, membuat pelaku pasar memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Fed funds futures menunjukkan pelaku pasar kini memperhitungkan peluang 86,4% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali tahun ini. Angka tersebut naik dari 80,5% sehari sebelumnya dan jauh lebih tinggi dibandingkan 57,1% pada pekan lalu.
Penguatan dolar AS juga ditopang oleh melebarnya persepsi selisih suku bunga antara AS dan negara-negara besar lainnya. Ketika imbal hasil dan ekspektasi suku bunga AS naik, dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global.
"Jadi, ada peningkatan selisih suku bunga antara AS dan seluruh dunia," ujar Jeff Klingelhofer, managing director dan portfolio manager Aristotle Pacific Capital.
Namun, sebagian pelaku pasar menilai ruang penguatan dolar AS dari level saat ini bisa mulai terbatas. Harga minyak yang turun setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dapat meredakan tekanan inflasi.
"Kami menilai standar untuk kenaikan dolar lebih lanjut dari sini cukup tinggi," tulis Matthew Ryan, head of market strategy Ebury dikutip dari MarketWatch.
Ryan menilai penandatanganan kerangka damai Iran yang semakin dekat dapat membuat harga minyak terus melemah. Hal ini berpotensi mengurangi tekanan inflasi AS dan menahan peluang kenaikan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google