MARKET DATA

Perang Berakhir, Derita Iran Masih Akan Bertahan Bertahun-tahun

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
18 June 2026 19:10
Bendera Iran digantung saat asap mengepul setelah apa yang disebut media Iran sebagai serangan Israel terhadap gedung dekat kedutaan Iran di Damaskus, Suriah 1 April 2024. (REUTERS/Firas Makdesi)
Foto: Bendera Iran digantung saat asap mengepul setelah apa yang disebut media Iran sebagai serangan Israel terhadap gedung dekat kedutaan Iran di Damaskus, Suriah 1 April 2024. (REUTERS/Firas Makdesi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dan Amerika Serikat (AS) sudah menyepakati perdamaian. Namun, kesepakatan tersebut tidak lantas membuat ekonomi Iran pulih dengan cepat.

Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Ini lebih cepat dari jadwal yang sebelumnya direncanakan.

Mengutip laman AS Axios, Kamis (18/6/2026), dua pejabat AS mengatakan dokumen telah ditandatangani secara elektronik dan kini resmi berlaku. Salah satu pejabat menyebut Presiden AS Donald Trump menandatangani langsung dokumen tersebut.

Penandatanganan MoU dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat. Namun, sejumlah sumber diplomatik menyebut kedua pihak sepakat mempercepat proses agar pembukaan Selat Hormuz dapat dilakukan segera.

Harga pangan di Iran melonjak 131% dalam setahun. Hingga 2 juta orang diperkirakan kehilangan pekerjaan. Untuk satu lowongan kerja, jumlah pelamar kini mencapai 360 orang.

Angka-angka itu muncul ketika peluang kesepakatan baru antara Iran dan Amerika Serikat mulai terbuka.

Namun bagi banyak warga Iran, berakhirnya perang belum tentu berarti berakhirnya krisis. Dalam banyak kasus, biaya terbesar justru muncul setelah bom berhenti jatuh.

Kerusakan Ekonomi Capai US$144 Miliar

Tekanan yang dirasakan rumah tangga Iran hanya sebagian dari persoalan yang lebih besar.

Foundation for the Defense of Democracies memperkirakan total kerusakan ekonomi akibat konflik mencapai sekitar US$144 miliar atau sekitar Rp2.548,8 triliun.  Nilainya setara hampir separuh produk domestik bruto (PDB) Iran.

Tagihan tersebut mencakup kerusakan pada pabrik, kilang minyak, pabrik baja, hingga fasilitas petrokimia yang menjadi tulang punggung industri negara tersebut.

Rystad Energy memperkirakan biaya perbaikan fasilitas energi saja dapat mencapai US$19 miliar.

Dengan skala kerusakan sebesar itu, tantangan Iran bukan hanya menghentikan konflik, tetapi juga membangun kembali kapasitas ekonominya.

Harga Pangan Melonjak

Berdasarkan data resmi yang dihimpun Statistical Center of Iran, inflasi tahunan Iran telah menembus sekitar 50% pada Maret 2026, meningkat dari 48,6% pada Oktober 2025. Tekanan harga terus memburuk hingga Bank Sentral Iran (CBI) melaporkan inflasi tahunan mencapai 53,9% pada Mei 2026.

Kondisi tersebut diperkirakan belum mencapai puncaknya. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan rata-rata inflasi Iran sepanjang 2026 dapat menyentuh 68,9%, menjadikannya salah satu negara dengan inflasi tertinggi di dunia.

Harga pangan naik lebih tinggi lagi, yakni 131%.

Menurut laporan The Economist, sebagian warga kini membeli roti dan daging dengan sistem cicilan. Kenaikan harga tidak lagi sekadar tercermin dalam statistik. Dampaknya sudah masuk ke meja makan keluarga.

Pada akhir Mei 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui tekanan tersebut.

"Medan konfrontasi utama saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian masyarakat," ujarnya dalam pertemuan dengan kalangan pebisnis di Teheran, dikutip dari The Economist.

Tekanan Menjalar ke Pasar Kerja

Gholam-Hossein Mohammadi, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Iran, memperkirakan sekitar 2 juta orang kehilangan pekerjaan. Jumlah itu setara sekitar 7% angkatan kerja nasional.

Persaingan mencari kerja juga semakin ketat. Harian ekonomi Donya-e Eqtesad melaporkan jumlah pelamar untuk satu lowongan di situs JobVision meningkat dua kali lipat menjadi 360 orang.

Artinya, tekanan ekonomi tidak hanya menggerus daya beli, tetapi juga sumber pendapatan masyarakat.

Perang juga mengganggu aliran barang yang dibutuhkan masyarakat.

Sekitar 3.000 kontainer tujuan Iran dilaporkan tertahan di pelabuhan Pakistan sejak pertengahan April. Pada saat yang sama, pengiriman gandum ke Bandar Imam Khomeini, pelabuhan utama Iran untuk komoditas pertanian, turun 40%.

Gangguan pasokan membantu menjelaskan mengapa harga pangan melonjak jauh lebih cepat dibanding inflasi umum.

Kerusakan ekonomi tidak selalu terlihat dalam bentuk bangunan yang hancur. Sering kali dampaknya muncul ketika barang kebutuhan pokok menjadi lebih sulit dan lebih mahal untuk diperoleh.

Ekspor Minyak Turun 84%

Tekanan juga datang dari sektor yang selama ini menjadi sumber utama devisa Iran.

Data Vortexa menunjukkan ekspor minyak Iran pada Mei hanya mencapai 209.000 barel per hari, turun 84% dibandingkan April.

Pada saat yang sama, data Kpler menunjukkan kapasitas penyimpanan minyak yang masih dapat digunakan telah terisi sekitar 83%.

Ketika ekspor melambat sementara penyimpanan semakin penuh, ruang gerak sektor energi ikut menyempit. Padahal minyak masih menjadi salah satu sumber pendapatan terpenting bagi negara tersebut.

 

Iran juga menghentikan ekspor petrokimia sejak fasilitas petrokimia terbesarnya menjadi sasaran serangan pada April. Sektor ini menyumbang sekitar sepertiga ekspor nonmigas Iran.

Harapan dari Kesepakatan Baru

Di tengah tekanan tersebut, muncul satu angka yang menarik perhatian pasar yakni US$300 miliar.

Nilai itu disebut sebagai potensi investasi yang dapat membantu membangun kembali ekonomi Iran apabila negosiasi antara Teheran dan Washington menghasilkan kesepakatan yang lebih luas.

Besarnya setara dengan PDB tahunan Iran.

Harapan tersebut sempat mendorong penguatan rial setelah nota kesepahaman diumumkan. Bagi Iran, berakhirnya blokade dan masuknya investasi asing berpotensi menjadi faktor paling penting dalam proses pemulihan.

Jalan Pemulihan Masih Panjang

Meski demikian, realisasi investasi tersebut masih jauh dari pasti. Presiden AS Donald Trump pada membantah bahwa pemerintahannya akan berinvestasi langsung dalam skema tersebut. Di sisi lain, pelonggaran sanksi yang dibutuhkan untuk menarik investor asing juga berpotensi menghadapi penolakan politik di Washington.

Artinya, angka US$300 miliar saat ini masih lebih dekat ke peluang dibanding kepastian.

Bagi para diplomat, nota kesepahaman mungkin menjadi awal babak baru hubungan Iran dan Amerika Serikat.

Namun bagi jutaan warga yang menghadapi lonjakan harga pangan, kehilangan pekerjaan, dan aktivitas ekonomi yang melemah, pemulihan kemungkinan akan berjalan jauh lebih lambat dibanding perkembangan diplomasi yang sedang berlangsung.



(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular