Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Sinyal Kenaikan Tahun Ini Makin Kencang
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50-3,75%. Namun, The Fed memberi isyarat akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi yang masih bertahan di atas target 2%.
The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (18/6/2026) setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari.
Seperti diketahui, The Fed pada 2025 menahan suku bunga hingga Agustus 2025 di level 4,25-4,50% sebelum memangkasnya pada September, Oktober, dan Desember 2025 menjadi 3,50-3,75%. Pada Januari - Juni 2026, The Fed menahan suku bunga acuan.
Dalam pernyataan resminya, The Fed Fed menyatakan bahwa aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid.
Di sisi lain, inflasi masih berada di atas target 2% Fed. Karena itu, Fed menegaskan komitmennya untuk mengembalikan stabilitas harga.
"Aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid meskipun ketidakpastian masih tinggi, yang sebagian disebabkan oleh konflik di Timur Tengah. Pertumbuhan produktivitas dan investasi modal tetap kuat. Pertambahan lapangan kerja berjalan seiring dengan pertumbuhan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran relatif tidak banyak berubah.
Inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan Komite, sebagian akibat gangguan pasokan yang mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor, termasuk energi." Tulis The Fed dalam pernyataan resminya.
Fed juga menegaskan akan mempertahankan kebijakan cadangan likuiditas yang memadai di sistem perbankan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa belum ada rencana dalam waktu dekat untuk memangkas kepemilikan obligasi pada neraca The Fed yang bernilai sekitar US$6,7 triliun, meskipun langkah tersebut sebelumnya didukung Ketua baru The Fed, Fed Kevin Warsh.
Menariknya, keputusan tersebut disetujui secara bulat setelah perdebatan mengenai arah suku bunga di masa depan (forward guidance) memicu tiga suara berbeda pada rapat April lalu. Saat itu, beberapa presiden bank sentral regional menginginkan Fed tetap membuka peluang baik untuk kenaikan maupun penurunan suku bunga.
Perubahan mencolok dalam pernyataan baru The Fed adalah kalimat yang lebih singkat.
Jika pernyataan setelah rapat 29 April mencapai 341 kata, maka pernyataan terbaru hanya terdiri dari 130 kata. Isinya hanya merangkum kondisi ekonomi secara singkat dan menegaskan komitmen Fed dalam mengendalikan inflasi.
The Fed bahkan kini menghapus pernyataan tersebut menghapus seluruh panduan forward guidance. Perubahan ini menjadi bukti awal perubahan The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Komitmen Menjaga Inflasi
Dalam konferensi persnya, Warsh juga menegaskan target inflasi 2% tidak akan berubah. Menurutnya, pembahasan mengenai perubahan target baru relevan setelah The Fed berhasil membawa inflasi kembali ke sasaran tersebut.
"Komitmen untuk mencapai target itu kuat, bulat, dan tidak ambigu," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.
Pernyataan itu muncul di tengah inflasi AS yang masih jauh dari target. Inflasi konsumen AS pada Mei 2026 tercatat 4,2% secara tahunan, sementara inflasi berdasarkan indeks PCE pada April mencapai 3,8%.
Warsh juga mengakui The Fed gagal menyampaikan secara efektif komitmennya dalam memerangi inflasi selama beberapa tahun terakhir. Karena itu, salah satu task force yang dibentuk akan secara khusus mengevaluasi strategi komunikasi bank sentral.
Sementara itu, saat ditanya mengenai hubungannya dengan Presiden Donald Trump, Warsh memilih menghindar. Ia hanya mengatakan tidak memiliki komentar terkait presiden.
Meski demikian, posisi Warsh dinilai berbeda dibanding Jerome Powell yang kerap menjadi sasaran kritik Trump. Warsh memulai masa jabatannya dengan dukungan terbuka dari Gedung Putih, namun tetap menghadapi tantangan untuk menjaga independensi The Fed di tengah tekanan politik agar suku bunga segera diturunkan.
Pernyataan kebijakan terbaru The Fed menghapus kalimat yang sebelumnya digunakan untuk mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Dalam konferensi pers,, Warsh juga mengatakan Fed sengaja tidak memberikan forward guidance karena dinilai tidak cocok dengan kondisi ekonomi saat ini.
"Mengenai prospek kebijakan moneter, saya tidak bisa memberikan panduan tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Kabar baiknya, kami akan kembali bertemu dalam enam minggu," kata Warsh, dikutip dari Reuters.
Warsh juga mengumumkan pembentukan sejumlah gugus tugas (task force) yang akan meninjau berbagai aspek operasional bank sentral, mulai dari strategi komunikasi, penggunaan neraca keuangan (balance sheet), sumber data yang digunakan, hingga kerangka kerja pengendalian inflasi.
Dokumen Dot Plot
Dari 19 pembuat kebijakan Fed, hanya 18 yang menyerahkan proyeksi suku bunga untuk grafik "dot plot" yang dirilis Fed. Meski identitas titik yang hilang tidak diketahui, Warsh mengonfirmasi bahwa ia tidak menyerahkan proyeksi pribadinya.
Warsh juga mengingatkan agar pasar tidak terlalu mengandalkan dot plot.
Dot plot Foto: The Fed |
Â
"Saya meninjau dot plot itu, dan ketika melihat seluruh proyeksi yang masuk, saya menyadari semuanya dibuat menggunakan pensil, yang lengkap dengan penghapus besar," ujarnya, menyindir bahwa proyeksi tersebut bisa berubah sewaktu-waktu.
Berdasarkan 18 dari total 19 proyeksi yang masuk, median perkiraan suku bunga federal funds pada akhir 2026 kini naik menjadi 3,8%, dari sebelumnya 3,4% pada proyeksi Maret.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas pejabat The Fed mulai melihat kenaikan suku bunga setidaknya satu kali tahun ini sebagai sesuatu yang diperlukan.
Namun, pandangan pejabat Fed masih terbelah. Sebanyak delapan pejabat memperkirakan suku bunga tidak berubah hingga akhir tahun, satu pejabat masih melihat peluang pemangkasan suku bunga, sementara sembilan lainnya memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga.
Sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian, para pejabat Fed juga mengubah proyeksi arah kebijakan ke depan.
Dalam dot plot terbaru, indikasi pemangkasan suku bunga pada tahun ini dihapus. Pemangkasan baru diperkirakan terjadi pada 2027 dan 2028, seiring para pejabat menilai apakah lonjakan inflasi akibat perang Iran bersifat sementara atau lebih permanen.
Dot plot menunjukkan median proyeksi suku bunga berada di level 3,8% pada akhir tahun ini, sekitar 0,16 poin persentase di atas level saat ini. Dengan kata lain, peluang kenaikan suku bunga kini semakin nyata.
Meski demikian, para pejabat tetap memperkirakan suku bunga jangka panjang berada di kisaran 3,1%.
Untuk proyeksi ekonomi, Fed merevisi naik perkiraan inflasi 2026 menjadi 3,6% untuk inflasi umum dan 3,3% untuk inflasi inti. Pada proyeksi Maret lalu, kedua indikator tersebut masih diperkirakan berada di level 2,7%.
Sebaliknya, proyeksi pertumbuhan ekonomi sedikit diturunkan menjadi 2,2%, atau lebih rendah 0,2 poin persentase dibanding perkiraan sebelumnya. Sementara proyeksi tingkat pengangguran direvisi turun menjadi 4,3%, dari sebelumnya 4,4%.
Dilema Baru Fed
Lonjakan inflasi terbaru menempatkan para pembuat kebijakan dalam posisi sulit. Secara teori, bank sentral biasanya mengabaikan guncangan pasokan jangka pendek seperti kenaikan harga energi akibat perang. Namun kali ini inflasi kembali meningkat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Data terbaru menunjukkan inflasi AS pada Mei mencapai 4,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), tertinggi sejak 2023. Sementara inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi berada di level 2,9%.
Inflasi AS sendiri telah berada di atas target 2% selama lima tahun terakhir.
Meski demikian, peluang pemangkasan suku bunga menjadi semakin rumit karena pasar tenaga kerja AS masih sangat tangguh. Data nonfarm payrolls pada Mei menunjukkan penambahan 172.000 lapangan kerja, jauh lebih baik dari perkiraan pasar. Sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,3%, tidak berubah selama setahun terakhir.
Sebelum keputusan diumumkan, pelaku pasar memang tidak lagi memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga pada 2026.
Sinyal hawkish tersebut membuat pelaku pasar menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga lebih cepat. Berdasarkan FedWatch CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 kini mencapai 60,7%, padahal sebelum rapat The Fed pekan ini pasar baru memperkirakan kenaikan terjadi pada Desember.
(mae/mae) Addsource on Google
