MARKET DATA

Terkuat dalam 75 Tahun, El Nino 'Monster' Ancam Jutaan Orang Kelaparan

mae,  CNBC Indonesia
17 June 2026 12:20
Ilustrasi el nino. (Foto: Tangkapan layar web noaa.gov)
Foto: Ilustrasi el nino. (Foto: Tangkapan layar web noaa.gov)

Jakarta, CNBC Indonesia - El Niño tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam 75 tahun terakhir dengan kenaikan suhu laut yang dapat melampaui rekor historis.

Fenomena ini diperkirakan akan meningkatkan suhu global sekaligus memicu cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan di berbagai belahan dunia.

Afrika bagian selatan, kawasan Sahel, Amerika Tengah, Karibia, dan sebagian Asia menjadi wilayah yang paling rentan terhadap dampaknya.

Risiko tersebut semakin besar karena banyak negara saat ini juga menghadapi krisis pangan, konflik geopolitik, dan gangguan pasokan pupuk akibat perang di Timur Tengah.

Ratusan tahun lalu, para nelayan Peru menyadari bahwa setiap beberapa tahun sekali ikan teri (anchovy) di Samudra Pasifik ekuatorial tiba-tiba menghilang. Karena fenomena itu terjadi menjelang Natal, mereka menamainya berdasarkan El Niño Jesus-"Sang Bayi Kristus".

siklus El Niño dan La Niña sejak 1990siklus El Niño dan La Niña sejak 1990 Foto: Economist

Kini fenomena yang dikenal sebagai El Niño diakui sebagai pola iklim berulang yang memengaruhi cuaca di seluruh dunia.

Pada 11 Juni, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat mengumumkan bahwa El Niño baru telah dimulai. Dan kali ini, dampaknya berpotensi sangat besar.

El Niño dipicu oleh perubahan pola angin di atas Pasifik ekuatorial yang menarik massa air permukaan lebih hangat dari biasanya ke wilayah tersebut.

Kekuatan El Niño diukur dari seberapa besar kenaikan suhu air laut. Kenaikan lebih dari 2°C di atas rata-rata jangka panjang sudah dikategorikan sebagai El Niño kuat.

 

Sebagian besar model prakiraan iklim dunia memperkirakan suhu permukaan laut akan meningkat lebih dari 2,5°C sepanjang sisa tahun ini hingga beberapa bulan pertama 2027, bahkan berpotensi melampaui 3°C.

Jika terjadi, ini akan menjadi yang terkuat dalam 75 tahun catatan pengamatan modern. Rekor sebelumnya dipegang oleh El Niño 1982-1983 dengan kenaikan suhu laut mencapai 2,5°C.

Ikan teri menyukai perairan yang lebih dingin sehingga bermigrasi ke selatan saat El Niño terjadi. Namun dampaknya tidak hanya dirasakan oleh nelayan Peru.

Luasnya Samudra Pasifik dan keterhubungan sistem cuaca global membuat setiap El Niño memicu redistribusi panas dan kelembapan dalam skala besar di seluruh dunia.

Salah satu dampak utamanya adalah meningkatnya suhu global. El Niño memang bukan disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi keduanya saling memperkuat.

El Niño kuat pada 1997-1998 menjadikan tahun 1998 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat saat itu, dengan suhu rata-rata hampir 1°C di atas tingkat pra-industri.

Rekor tersebut kembali terpecahkan setelah El Niño kuat 2015-2016, ketika suhu global pada 2016 melampaui 1°C di atas rata-rata pra-industri.

Saat ini, rekor tahun terpanas dipegang oleh 2024 dengan suhu global mencapai 1,6°C di atas tingkat pra-industri. Para ilmuwan iklim memperkirakan tahun 2027 bisa menjadi lebih panas lagi.

Dampak El Niño terhadap berbagai negara dan benua sangat beragam. El Niño 1997-1998 dan 2015-2016 menyebabkan gangguan besar di Afrika bagian timur dan selatan, Amerika Tengah, serta Oseania.

Kekeringan merusak lahan pertanian dan padang penggembalaan, menyebabkan jutaan orang menghadapi kelaparan dan memaksa banyak penduduk bermigrasi untuk mencari sumber pangan.

Dampak Umum El Niño terhadap Curah Hujan Berdasarkan MusimDampak Umum El Niño terhadap Curah Hujan Berdasarkan Musim Foto: Economist

 

Dampak serupa berpotensi kembali terjadi kali ini. Pada 9 Juni, Food and Agriculture Organization (FAO) PBB memperingatkan bahwa penduduk Afrika bagian selatan dan kawasan Sahel, wilayah semi-kering yang membentang di selatan Gurun Sahara, menghadapi risiko paling tinggi.

El Niño sebelumnya pada 2023-2024, ketika suhu laut mencapai puncak 1,5°C di atas normal, dikaitkan dengan kekeringan terburuk dalam lebih dari satu abad di Afrika bagian selatan.

Di Afrika Timur, FAO memperingatkan Somalia dapat menghadapi pukulan ganda berupa kekeringan hingga Oktober yang kemudian disusul hujan lebat hingga Desember.

Kondisi ini tidak selalu menjadi kabar baik. Setelah periode kekeringan panjang, tanah yang sangat kering sulit menyerap air sehingga hujan deras justru dapat memicu banjir besar.

Amerika Tengah, kawasan Karibia, dan sebagian Asia juga menghadapi risiko kekeringan.

El Niño umumnya membuat Indonesia, Australia, India, Afrika Selatan, dan sebagian Amerika Tengah menjadi lebih kering, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan gangguan produksi pangan. Sebaliknya, beberapa wilayah seperti pantai barat Amerika Selatan, Afrika Timur, serta sebagian Amerika Utara dan China cenderung menerima curah hujan lebih tinggi dari normal.

Dampak tersebut biasanya berlangsung selama beberapa bulan hingga lebih dari setahun tergantung kekuatan El Niño.

Banyak wilayah tersebut saat ini sudah berada dalam kondisi rentan akibat konflik bersenjata dan krisis pangan yang telah berlangsung sebelumnya.

Perang Iran dan penutupan Selat Hormuz menyebabkan pasokan pupuk menjadi langka pada saat banyak petani membutuhkannya untuk musim tanam berikutnya. Pembukaan kembali selat yang diumumkan Presiden Donald Trump pada 14 Juni dinilai terlambat untuk mengatasi kebutuhan mendesak tersebut.

Komisi Eropa bahkan memperingatkan potensi bencana kemanusiaan di sejumlah negara Afrika seperti Sudan, Somalia, Sudan Selatan, dan Chad, serta di Ekuador, Venezuela, dan Haiti di kawasan Amerika.

Meski demikian, dampak El Niño masih dapat dikurangi melalui berbagai langkah mitigasi, seperti menanam benih yang tahan kekeringan, menyiapkan cadangan pakan ternak, serta menyimpan persediaan air. Namun para ahli menegaskan, waktu untuk memulai persiapan adalah sekarang.

BMKG Beri Peringatan


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Kondisi ini perlu diantisipasi sejak dini guna menjaga ketersediaan air, kesehatan masyarakat, serta meminimalkan dampak terhadap berbagai sektor strategis seperti pertanian, energi, dan lingkungan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, puncak musim kemarau akan mulai dirasakan di sejumlah wilayah pada Juli 2026, mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26% wilayah Indonesia. Intensitas kemarau diperkirakan semakin meluas pada Agustus dengan menjangkau 369 ZOM atau 48,84% luas daratan nasional.

Sementara itu, pada September 2026 puncak kemarau masih akan berlangsung di 169 ZOM atau sekitar 25,41% wilayah Indonesia. Dengan sebaran kemarau yang semakin luas pada Agustus hingga September, BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi kekeringan dan gangguan aktivitas ekonomi.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular