MARKET DATA

Rupiah Pimpin Asia Tendang Dolar: Won, Yen Hingga Ringgit Ikut Menguat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
15 June 2026 09:55
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (15/6/2026). Penguatan terjadi seiring melemahnya dolar AS di pasar global setelah muncul kabar positif dari proses damai AS-Iran.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak sembilan mata uang menguat terhadap dolar AS, sementara hanya satu mata uang yang melemah.

Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pada pagi ini. Mata uang Garuda terapresiasi 0,92% ke posisi Rp17.700/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin positif untuk bisa berbalik arah menuju tren penguatan terhadap greenback. 

Penguatan rupiah disusul baht Thailand yang naik 0,43% ke posisi THB 32,55/US$. Won Korea Selatan juga menguat 0,37% ke posisi KRW 1.512,6/US$.

Dolar Taiwan menguat ke posisi TWD 31,524/US$ atau terapresiasi 0,27% , dolar Singapura naik 0,18% ke SGD 1,2817/US$, sementara ringgit Malaysia menguat ke MYR 4,048/US$ atau 0,17%.

Yuan China juga terapresiasi 0,07% ke posisi CNY 6,758/US$. Peso Filipina naik 0,10% ke PHP 60,596/US$, sementara yen Jepang menguat tipis 0,01% ke JPY 160,2/US$.

Adapun satu-satunya mata uang Asia yang melemah pagi ini adalah dong Vietnam, yakni terkoreksi tipis 0,02% ke posisi VND26.255/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah 0,17% ke posisi 99,578 pada waktu yang sama. Pelemahan dolar AS ini menjadi salah satu faktor yang membuka ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk Asia.

Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama setelah Amerika Serikat disebut menyepakati kesepakatan damai dengan Iran. Kabar ini membuat harga minyak turun tajam dan mendorong kembali minat investor terhadap aset berisiko.

Pejabat AS dan Iran pada Minggu mengatakan kedua pihak telah menyepakati kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz. Merespons kabar tersebut, harga minyak ikut turun, dengan Brent melemah lebih dari 4% ke US$83,82 per barel.

Turunnya harga minyak menjadi sentimen positif bagi pasar karena dapat meredakan kekhawatiran inflasi energi. Ketika risiko inflasi mereda, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral, termasuk bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), juga ikut berkurang.

Meski begitu, pelaku pasar masih tetap berhati-hati. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada New York Times pada Minggu bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, ia akan kembali melancarkan serangan militer ke Teheran atau menjadikan AS sebagai "penjaga Timur Tengah" dengan imbalan 20% dari pendapatan kawasan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular