MARKET DATA

Batu Bara Bertahan di Level Tertinggi, Harga Emas Justru Tertekan

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
14 June 2026 09:00
PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp1,4 Triliun dan EBITDA sebesar Rp3,6 Triliun, dengan EBITDA margin di angka 11% hingga Kuartal III 2025. (Dok. PT Bukit Asam Tbk (PTBA))
Foto: PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp1,4 Triliun dan EBITDA sebesar Rp3,6 Triliun, dengan EBITDA margin di angka 11% hingga Kuartal III 2025. (Dok. PT Bukit Asam Tbk (PTBA))

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batubara dunia menutup pekan dengan koreksi tipis, tetapi masih berada di level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak Newcastle futures ditutup di US$145 per ton pada perdagangan Kamis (12/6/2026), turun 2,39% dibandingkan sehari sebelumnya.

Meski melemah pada akhir pekan, batubara masih membukukan kenaikan mingguan 1,7% dibandingkan posisi US$142,5 per ton pada pekan sebelumnya. Sepanjang perdagangan pekan ini, harga sempat menyentuh US$150,35 per ton, level tertinggi sejak September 2023.

Kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir berawal dari kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.

Seperti diketahui Indonesia, eksportir batubara termal terbesar dunia, memperketat pengawasan ekspor komoditas. Kebijakan tersebut memunculkan risiko keterlambatan pengiriman batubara ke pasar internasional pada saat permintaan musiman mulai meningkat.

Belahan bumi utara kini memasuki musim panas. Konsumsi listrik untuk pendingin ruangan meningkat di sejumlah negara Asia. Kebutuhan pembangkit listrik ikut bertambah sehingga permintaan batubara memperoleh dukungan dari sisi konsumsi energi.

Pasar energi global juga masih beradaptasi dengan dampak konflik Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz yang berlangsung berbulan-bulan mengganggu arus energi dari kawasan Teluk Persia. Kondisi tersebut mendorong sejumlah negara importir mencari sumber energi pengganti untuk menjaga keamanan pasokan.

Jepang dan Korea Selatan termasuk negara yang meningkatkan penggunaan batubara sejak konflik pecah. Pilihan tersebut muncul setelah pasokan gas alam cair atau LNG dari kawasan Teluk menghadapi hambatan. Fasilitas Ras Laffan milik Qatar bahkan mengumumkan force majeure yang mengurangi pasokan LNG ke Asia sekitar 10,2 juta ton per tahun. Gangguan tersebut diperkirakan berlangsung hingga akhir musim panas.

Perubahan pola konsumsi energi itu memberikan ruang bagi batubara untuk mempertahankan harga di level tinggi. Dalam kondisi pasokan gas yang lebih ketat, sejumlah pembangkit kembali mengandalkan batubara untuk menjaga ketersediaan listrik dan menekan biaya energi.

Walaupun harga terkoreksi pada dua sesi terakhir, posisi batubara saat ini masih sekitar 41% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Fokus pasar dalam waktu dekat masih tertuju pada perkembangan pasokan dari Indonesia serta situasi energi di Timur Tengah. Selama kedua faktor tersebut belum mereda, harga batubara berpotensi tetap bertahan di level tinggi.

Emas Tertekan Suku Bunga, Harga Ambruk Hampir 6%

Harga emas dunia kembali menutup pekan di zona merah. Berdasarkan data Refinitiv, emas di pasar spot berada di US$4.218,77 per troy ons pada perdagangan Kamis (12/6/2026), naik tipis 0,12% dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan harian tersebut belum mampu mengubah arah pergerakan mingguan. Dalam sepekan, emas ambles 5,6% dari posisi US$4.473,89 per troy ons pada 4 Juni lalu.

Pelemahan emas terjadi di tengah perubahan besar ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Sejak awal tahun, investor memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga beberapa kali. Kini skenarionya berbalik. Inflasi yang kembali memanas dan pasar tenaga kerja yang tetap kuat membuat peluang kenaikan suku bunga kembali masuk perhitungan pasar.

Data ekonomi terbaru menjadi pemicunya. Inflasi konsumen AS pada Mei mencatat laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Harga produsen juga naik 6,5% secara tahunan. Konflik Iran yang telah berlangsung sejak Februari ikut mendorong kenaikan biaya energi dan memperkuat tekanan harga di berbagai sektor ekonomi. Kondisi tersebut membuat pasar mulai meragukan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya tahun ini.

Perubahan ekspektasi itu tercermin pada FedWatch CME. Peluang kenaikan suku bunga pada Desember kini berada di atas 50%. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah AS dan instrumen berbasis dolar. Akibatnya dana mengalir keluar dari aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Tekanan semakin besar setelah emas menembus rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak 2023. Level teknikal yang selama hampir dua setengah tahun menjadi area pertahanan pasar kini berubah menjadi hambatan kenaikan. Reuters melaporkan harga emas sempat menyentuh US$4.022 per troy ons pada Kamis, level terendah sejak November tahun lalu.

Arus dana investor juga mulai berubah arah. Standard Chartered memperkirakan ratusan ton emas dalam ETF kini berada pada posisi rugi setelah harga turun di bawah US$4.250 per troy ons. Data pasar menunjukkan ETF berbasis emas mengalami arus keluar 16 ton sepanjang Mei dan bertambah 7 ton pada pekan pertama Juni. JPMorgan bahkan mencatat dana keluar dari ETF emas mencapai sekitar US$20 miliar hingga awal Juni.

Meski demikian, pandangan jangka panjang terhadap emas belum berubah drastis. Citi menilai pembelian bank sentral, tingginya utang pemerintah, diversifikasi cadangan devisa, serta ketidakpastian geopolitik global masih menjadi penopang utama permintaan logam mulia. Faktor-faktor tersebut yang mendorong emas mencetak rekor sepanjang 2025 hingga sempat menyentuh puncak historis US$5.608 per troy ons pada Januari tahun ini.

Fokus pasar kini tertuju pada rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni mendatang, pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Pasar memperkirakan suku bunga akan ditahan pada kisaran 3,50%-3,75%. Namun yang lebih penting adalah petunjuk arah kebijakan berikutnya. Selama inflasi masih bertahan tinggi dan dolar AS tetap kuat, ruang pemulihan emas diperkirakan masih terbatas.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular