MARKET DATA

Emas Dunia Menguat Pekan Ini, tapi Belum Sepenuhnya Pulih

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 June 2026 08:30
Ini 8 Perusahaan RI Punya “Gudang” Emas Terbesar, Siapa Jadi Raja?
Foto: infografis/Ini 8 Perusahaan RI Punya “Gudang” Emas Terbesar, Siapa Jadi Raja?/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia berhasil menguat tipis pada perdagangan terakhir pekan ini. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk menyelamatkan sang logam mulia dari tekanan mingguan.

Merujuk data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat (12/6/2026) ditutup di posisi US$4.218,77 per troy ons. Harganya naik tipis 0,12% dalam sehari.

Emas sebenarnya mampu menguat dalam dua hari perdagangan terakhir, yakni sejak Kamis. Namun, jika dilihat secara mingguan, harga emas dunia masih mencatatkan koreksi sebesar 2,54%.

Dengan demikian, emas kembali membukukan pelemahan mingguan, melanjutkan tekanan yang juga terjadi pada pekan sebelumnya.

Tekanan terhadap emas masih datang dari ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve/The Fed. Pasar kini semakin berhati-hati menjelang rapat The Fed pada 16-17 Juni 2026.

Harga emas menuju pelemahan mingguan kedua secara beruntun karena pasar kembali memperhitungkan peluang suku bunga AS yang tetap tinggi, bahkan berpotensi naik. Kondisi ini menjadi kabar buruk bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Saat suku bunga dan imbal hasil obligasi AS naik, investor cenderung lebih tertarik menempatkan dananya pada instrumen berbunga seperti surat utang. Sebaliknya, emas menjadi kurang menarik karena biaya peluang untuk memegang emas ikut meningkat.

Selain suku bunga, pergerakan dolar AS juga menjadi sentimen penting.

Emas diperdagangkan dalam dolar AS, sehingga penguatan greenback membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Dampaknya, permintaan terhadap emas berpotensi melemah. Kekhawatiran pasar terhadap inflasi AS juga belum sepenuhnya mereda. Data inflasi konsumen dan produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya membuat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed semakin memudar.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 57% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Ekspektasi tersebut muncul setelah data inflasi AS pada Mei menunjukkan tekanan harga masih kuat.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah, khususnya terkait AS-Iran, masih menjadi faktor yang membuat pergerakan emas bergejolak. Secara umum, ketegangan geopolitik biasanya bisa menopang emas karena statusnya sebagai aset aman atau safe haven.

Namun, kondisi kali ini lebih rumit. Perang dan ketegangan di Timur Tengah ikut mendorong harga energi, terutama minyak. Kenaikan harga minyak bisa memperkuat tekanan inflasi, yang pada akhirnya membuat The Fed semakin sulit menurunkan suku bunga.

Artinya, konflik geopolitik memang memberi dukungan bagi emas dari sisi safe haven. Namun pada saat yang sama, dampaknya terhadap harga minyak dan inflasi justru menjadi tekanan bagi emas karena memperbesar peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Sentimen dari pasar fisik juga belum terlalu kuat. Permintaan emas fisik di India dilaporkan masih lesu, sementara premi emas di China mulai menurun. Kondisi ini menunjukkan minat beli fisik belum cukup kuat untuk menopang harga emas secara signifikan.

Secara teknikal, pelemahan dalam beberapa pekan terakhir juga membuat emas masih rentan. Harga emas sempat turun tajam dari rekor tertingginya dan bahkan sempat menembus area rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam sekitar dua setengah tahun.

Dengan berbagai tekanan tersebut, penguatan tipis emas pada akhir pekan ini lebih terlihat sebagai rebound terbatas. Selama ekspektasi suku bunga tinggi, dolar AS, dan imbal hasil obligasi AS masih menjadi perhatian utama pasar, ruang kenaikan emas berpotensi tetap terbatas.

Meski demikian, emas masih memiliki penopang dari ketidakpastian geopolitik, defisit fiskal AS, serta pembelian emas oleh bank sentral. Faktor-faktor ini bisa menjaga prospek emas dalam jangka panjang, meski dalam jangka pendek pergerakannya masih dibayangi tekanan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular