Maaf Yen - Won: Rupiah Bersama Ringgit Mau Berkuasa di Asia Hari Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (12/6/2026) jelang akhir pekan. Namun, rupiah justru mampu menguat di tengah pelemahan indeks dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.23 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak tujuh mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara tiga lainnya menguat.
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang bergerak di zona hijau. Mata uang Garuda menguat 0,14% ke posisi Rp17.950/US$. Penguatan ini membuat rupiah masih bertahan di bawah level psikologis Rp18.000/US$.
Selain rupiah, ringgit Malaysia juga menguat 0,17% ke posisi MYR 4,057/US$. Yuan China turut terapresiasi 0,16% ke posisi CNY 6,764/US$.
Di sisi lain, tekanan terdalam pagi ini dialami dolar Taiwan yang melemah ke posisi TWD31,644/US$ atau terkoreksi 0,27%.. Won Korea Selatan juga terkoreksi 0,24% ke posisi KRW 1.519,25/US$.
Yen Jepang melemah 0,20% ke posisi JPY 160,25/US$, disusul peso Filipina yang turun 0,13% ke PHP 61,046/US$. Baht Thailand terkoreksi ke THB32,82/US$ atau depresiasi 0,12%, dolar Singapura melemah 0,10%, sementara dong Vietnam turun tipis 0,04% terhadap dolar AS.
Pada sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,07% ke posisi 99,789 pada waktu yang sama. Pelemahan dolar AS terjadi setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran pada menit-menit terakhir.
Dolar AS biasanya menguat ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, karena investor mencari aset aman seperti surat utang pemerintah AS. Sebaliknya, ketika ekspektasi damai meningkat, dolar AS cenderung melemah karena aliran dana kembali masuk ke aset berisiko.
Trump menyebut negosiasi dengan Teheran telah naik ke level tertinggi dalam kepemimpinan Iran. Kesepakatan juga disebut telah mendapat dukungan dari koalisi luas kekuatan regional.
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa Teheran kemungkinan akan menyetujui kesepakatan tersebut, meski belum memberikan respons resmi.
Direktur perdagangan Monex USA Juan Perez menilai pasar valuta mulai terbiasa dengan pola eskalasi dan de-eskalasi dalam konflik tersebut.
"Saya pikir kita mulai terbiasa dengan pola eskalasi yang kemudian membuka ruang untuk de-eskalasi, dan itu tercermin di pasar valuta asing," ujar Perez, dikutip dari Reuters.
Perez menambahkan bahwa peluang berlanjutnya agresi, kekerasan, dan perang biasanya sangat positif bagi dolar AS. Namun, ketika muncul harapan bahwa agresi dapat berhenti tiba-tiba melalui kesepakatan damai, minat terhadap aset berisiko akan meningkat dan menekan dolar AS.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi sebagian mata uang Asia untuk menguat, termasuk rupiah. Meski begitu, penguatan belum merata karena mayoritas mata uang kawasan masih bergerak melemah terhadap dolar AS pada pagi ini.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google