Beda Nasib Mata Uang Asia: Rupiah-Ringgit Ambruk, Yen Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (11/6/2026). Tekanan masih membayangi pasar valuta kawasan, meski indeks dolar AS pagi ini bergerak melemah tipis.
Melansir Refinitiv per pukul 09.15 WIB, sebanyak enam mata uang Asia terpantau melemah terhadap greenback, sementara empat mata uang mampu menguat.
Rupiah menjadi salah satu mata uang yang tertekan. Mata uang Garuda melemah 0,11% ke posisi Rp17.970/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000/US$. Padahal, rupiah sempat dibuka pada posisi Rp17.925/US$ atau menguat 0,14%.Â
Tekanan terdalam pagi ini dialami won Korea Selatan yang melemah 0,34% ke posisi KRW 1.527,47/US$. Dong Vietnam menyusul dengan koreksi ke posisi VND 26.314/US$ atau terdepresiasi 0,19%.
Dolar Taiwan juga melemah 0,14% ke posisi TWD 31,711/US$, sementara ringgit Malaysia terkoreksi tipis 0,05% ke MYR 4,069/US$. Adapun yuan China melemah tipis 0,03% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,15% ke posisi THB 32,90/US$. Dolar Singapura dan peso Filipina sama-sama menguat 0,04%, masing-masing ke posisi SGD 1,287/US$ dan PHP 61,30/US$. Yen Jepang juga naik tipis ke posisi JPY160,46/US$ atau menguat 0,03 %.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau sedang melemah tipis 0,04% ke posisi 99,912. Meski melemah, dolar AS masih bergerak mendekati level 100, sehingga tekanan terhadap mata uang Asia belum sepenuhnya mereda.
Pergerakan dolar AS masih dipengaruhi oleh dua sentimen besar, yakni ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Dolar AS sempat bergerak volatil setelah serangan baru AS di Timur Tengah menekan sentimen pasar. Pasar valuta cenderung bergerak terbatas pekan ini karena investor menimbang rapuhnya gencatan senjata di Timur Tengah di tengah kembali terjadinya aksi saling serang antara AS dan Iran.
Militer AS menyebut Amerika Serikat memulai putaran serangan baru ke Iran pada Rabu malam waktu setempat. Presiden AS Donald Trump juga berjanji akan melakukan lebih banyak serangan jika kesepakatan damai tidak tercapai.
Di sisi lain, data inflasi AS kembali menjadi perhatian utama pasar. Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index/CPI AS naik 4,2% secara tahunan pada Mei, menjadi kenaikan terbesar sejak April 2023.
Kenaikan inflasi tersebut membuat investor kembali berhati-hati terhadap arah kebijakan The Fed. Namun, tekanan inflasi inti masih relatif lebih terkendali. Core CPI tercatat naik 0,2% secara bulanan, lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,4% pada April.
James Knightley, kepala ekonom internasional ING, menilai tekanan upah yang mulai mendingin dapat membantu meredakan inflasi inti.
"Hal ini seharusnya membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Jadi, meski kami tidak lagi memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga tahun ini karena momentum ekonomi membaik, kami juga tidak memperkirakan adanya kenaikan suku bunga," ujar Knightley dikutip dari Reuters.
Meski begitu, pelaku pasar saat ini telah sepenuhnya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Desember. Kondisi ini menjadi perubahan tajam dibandingkan ekspektasi sebelumnya, ketika pasar masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari.
Bagi mata uang Asia, kombinasi ketidakpastian geopolitik, inflasi AS yang tinggi, dan ekspektasi suku bunga The Fed membuat ruang penguatan masih terbatas. Hal ini terlihat dari mayoritas mata uang kawasan yang masih bergerak melemah terhadap dolar AS pada pagi ini.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google