MARKET DATA

Tak Cuma Hari Ini, BI Pernah Menaikkan Suku Bunga 2 Kali Sebulan

mae,  CNBC Indonesia
09 June 2026 15:16
FILE PHOTO - The logo of Indonesia's central bank, Bank Indonesia, is seen on a window in the bank's lobby in Jakarta, Indonesia September 22, 2016.  REUTERS/Iqro Rinaldi/File Photo
Foto: REUTERS/Iqro Rinaldi

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50% pada hari ini, Selasa (9/6/2026).

BI hari ini juga mengerek suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkahpre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027," tulis keterangan BI.

Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.

Kenaikan BI rate pada hari ini dilakukan hanya berselang 20 hari dari keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20 Mei 2026.

Pada Mei 2026, BI menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25%.

Kenaikan suku bunga sebesar 50 bps termasuk jarang dilakukan BI. Sejak suku bunga acuan diperkenalkan pada 2005, BI hanya empat kali periode, BI menaikkan suku bunga.

Kenaikan BI rate dua kali dalam sebulan atau kurang dari 30 hari bukan pertama kali terjadi pada hari ini.

Sejak BI rate diperkenalkan pada Juli 2005, sebelum hari ini, BI hanya dua kesempatan menaikkan bunga acuan dua kali dalam sebulan atau kurang dari 30 hari yakni pada 2013 dan 2018.

1. Agustus 2013

BI di bawah Agus Martowardojo menaikkan suku bunga dua kali yakni sebesar 25 bps pada 15 Agustus dan sebanyak 25 bps pada 29 Agustus.

Kenaikan agresif ini dipicu oleh penyesuaian harga BBM dan bergejolaknya pasar keuangan di era taper tantrum.

Kenaikan ini juga hanya terjadi setelah pada Juli BI Rate telah naik 50 bps.

Kenaikan agresif ini mengakhiri suku bunga rendah yang dibawa Gubernur Darmin Nasution.

Sebelum kenaikan pada Juni 2013, BI rate sudah ditahan pada posisi 5,75% selama 15 bulan.



Langkah hawkish Agus Marto bukan tanpa dasar. Suku bunga rendah tak berlaku baginya di tengah cepatnya dinamika perubahan perekonomian global dan nasional.

Pada tanggal 22 Juni 2013, pemerintah menaikkan harga premium sebesar Rp2.000 per liter dari Rp4.500 per liter menjadi Rp6.500 per liter, dan harga solar sebesar Rp1.000 per liter dari Rp4.500 menjadi Rp5.500 per liter.

BI rate pun dinaikkan sebagai langkah antisipasi lonjakan inflasi.


BI bertindak pre-emptive dengan terus menaikkan suku bunga acuan setelah kenaikan harga BBM.

"Meskipun laju inflasi dalam jangka pendek cukup terkendali, BI tetap mewaspadai tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan ekspektasi inflasi terkait dengan kebijakan BBM yang akan ditempuh pemerintah," tulis BI dalam Laporan Perekonomian IndonesiaTahun 2013.


Sepanjang Juni-Desember 2013, kubu MH Thamrin menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 bps masing-masing sebesar 25 bps pada Juni, Agustus, dan November serta 50 bps di Juli.

"Berlanjutnya ketidakpastian pengurangan bertahap (tapering) stimulus moneter oleh the Fed terus memberikan tekanan pada pasar keuangan di berbagai negara. Penarikan modal dan meningkatnya risiko investasi menyebabkan penurunan harga saham, meningkatnya yield obligasi, dan pelemahan nilai tukar di hampir seluruh negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia," demikian hasil RDG ketika itu.

2.
 Mei 2018

Gubernur BI Perry Warjiyo menaikkan suku bunga acuan secara agresif pada awal masa jabatannya.
Perry menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada 30 Mei 2018menjadi 4,75% dalam RDG tambahan. RDG ini digelar hanya beberapa hari setelah dilantik menjadi Gubernur BI pada 24 Mei 2018.

Pada 17 Mei 2018, BI di bawah Agus Martowardojo sudah terlebih dahulu menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 4,50%.

Pada Mei 2018, BI menaikkan suku bunga acuan secara agresif sebagai langkah pre-emptive dan frontloading mengantisipasi kebijakan hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).


The Fed menaikkan suku bunga 100 bps pada 2018, termasuk 25 bpd masing-masing pada Maret dan Juni 2018.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular