MARKET DATA

Asia Kebakaran Hebat, Ringgit - Rupiah Paling Parah, 2 Negara Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
08 June 2026 09:30
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (8/6/2026). Tekanan terjadi saat indeks dolar AS masih bertahan di sekitar level 100.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, 8 dari 10 mata uang Asia yang dipantau mengalami pelemahan terhadap dolar AS, sementara dua lainnya berhasil menguat.

Tekanan paling dalam pagi ini dialami ringgit Malaysia yang melemah 1,04% ke posisi MYR 4,067/US$. Pelemahan tersebut membuat ringgit menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia pada pagi ini.

Rupiah menyusul di posisi kedua. Mata uang Garuda melemah 0,61% ke posisi Rp18.120/US$, semakin jauh dari level psikologis Rp18.000/US$.

Baht Thailand juga terkoreksi 0,30% ke posisi THB 32,90/US$, disusul dong Vietnam yang melemah 0,28% ke VND 26.344/US$.

Yuan China ikut tertekan 0,26% ke posisi CNY 6,783/US$, dolar Taiwan melemah 0,15% ke TWD 31,627/US$, dolar Singapura turun 0,05% ke SGD 1,29/US$, sementara yen Jepang terkoreksi tipis 0,02% ke JPY 160,35/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan masih mampu menguat 0,57% ke posisi KRW 1.550,13/US$. Peso Filipina juga naik tipis 0,08% ke PHP 61,670/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,02% ke posisi 100,093 pada waktu yang sama. DXY masih berada di sekitar level 100 setelah pada pekan lalu menguat lebih dari 1%.

Penguatan dolar AS ditopang oleh data tenaga kerja AS yang solid. Data yang dirilis Jumat menunjukkan ekonomi AS menambah 172.000 pekerjaan pada Mei, jauh di atas perkiraan pasar sebesar 85.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga tetap stabil di level 4,3%.

Setelah rilis data tersebut, pelaku pasar menaikkan peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada Desember 2026 menjadi hampir 70%, dari sebelumnya sekitar 50%.

Meski demikian, The Fed masih diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan 16-17 Juni 2026 di bawah kepemimpinan Chairman baru Kevin Warsh.

Ekspektasi The Fed yang lebih hawkish juga diperkuat oleh kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong harga minyak naik dan kembali memicu kekhawatiran inflasi.

Dolar AS juga masih mendapat dukungan dari permintaan safe haven. Negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan damai sementara belum menunjukkan banyak kemajuan, sementara bentrokan antara Israel dan milisi Hizbullah masih berlangsung di Lebanon.

Iran menegaskan perlu ada gencatan senjata di Lebanon sebelum menerima kesepakatan AS untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan negosiasi dengan Iran sudah berada di tahap akhir, namun tidak memberi penjelasan lebih rinci.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan belum ada kemajuan nyata, meski kedua pihak masih terus bertukar pesan melalui mediator.

Gabungan data tenaga kerja AS yang kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta ketegangan geopolitik membuat dolar AS kembali diminati. Kondisi ini pada akhirnya mempersempit ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk Asia, yang mayoritas melemah pada pagi ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular