Krisis Besar Hantam Militer AS: 'Cinta Perang' Jadi Kebanggaan Baru
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Standar kepemimpinan militer Amerika Serikat (AS) sedang menjadi bahan perdebatan. Nama Pete Hegseth kini menjadi perhatian setelah dia dipercaya memimpin angkatan bersenjata AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dalam sebuah rapat kabinet pada akhir Mei, Trump sempat melontarkan komentar yang merendahkan sekaligus mengkhawatirkan tentang Hegseth.
Mengutip The Economist, Trump saat itu menyebut Hegseth sebagai sosok yang suka perang. Komentar tersebut disampaikan sambil tersenyum dan menepuk lengan Hegseth. Hegseth pun ikut tertawa.
Padahal, bagi banyak tokoh militer besar AS, perang bukan sesuatu yang seharusnya disukai. Perang justru dipandang sebagai tragedi yang harus dihindari, meskipun pada saat yang sama negara tetap harus siap menghadapinya.
Jenderal Dwight Eisenhower, misalnya, pernah mengatakan kepada lulusan Akademi Militer AS di West Point pada 1947 bahwa perang adalah kebodohan paling tragis umat manusia. Lima belas tahun kemudian, Jenderal Douglas MacArthur juga mengingatkan para kadet agar tidak menjadi penghasut perang.
MacArthur, yang jelas bukan sosok pasifis, mengatakan bahwa justru seorang prajurit di atas semua orang lainlah yang paling berdoa untuk perdamaian.
Gaya Hegseth Berbeda dari Para Jenderal Lama
Trump mungkin saja hanya sedang menggoda Hegseth. Sebelumnya, Hegseth memang dikenal sebagai pendukung awal perang dengan Iran, konflik yang kini terjebak dalam kebuntuan mahal.
Namun, komentar Trump itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Hegseth terlihat memiliki cara pandang yang berbeda dari banyak pemimpin militer AS sebelumnya.
Jika para pemimpin militer masa lalu memandang kekerasan sebagai kebutuhan tragis, Hegseth justru kerap menggambarkannya sebagai sesuatu yang benar, tegas, bahkan menggairahkan.
Kata favorit Hegseth adalah lethality atau kemampuan mematikan. Saat berpidato di hadapan kadet West Point pada 23 Mei lalu, dia menggunakan kata itu sebanyak lima kali. Itu belum termasuk dua kali penggunaan kata lethal.
Sebaliknya, kata peace atau perdamaian hanya muncul satu kali dalam pidatonya.
Hegseth mengatakan kepada para kadet bahwa mereka perlu merasa nyaman berada di dalam kekerasan, agar warga negara AS bisa hidup damai. Dia juga menyebut lethality sebagai kartu identitas mereka.
Siap Bertempur Memang Penting, Tapi Tidak Cukup
Inti pesan Hegseth sebenarnya bukan hal baru bagi dunia militer. Tentara memang harus siap bertempur dan menang.
Dari pengalamannya bertahun-tahun di National Guard, Hegseth juga memiliki ketakutan besar terhadap kondisi pasukan yang tidak siap atau kekurangan perlengkapan.
Dalam bukunya "The War on Warriors" yang terbit pada 2024, Hegseth dua kali menceritakan mimpi buruk berulang tentang dirinya yang berada dalam sebuah misi, tetapi tidak siap.
Dalam cerita itu, Hegseth menggambarkan dirinya dipenuhi kecemasan karena tidak bisa menemukan senjata dan berharap tidak ada orang yang menyadarinya.
Namun, bagi para pemimpin militer besar AS, kesiapan untuk membunuh saat diperintahkan hanyalah syarat dasar. Mereka biasanya menuntut lebih dari para calon pemimpin militer.
Ketika Eisenhower kembali berbicara di West Point sebagai presiden pada 1955, dia menekankan bahwa perubahan teknologi dan munculnya senjata baru yang jauh lebih menghancurkan membuat para kadet membutuhkan kebijaksanaan dan kehati-hatian.
Menurut Eisenhower, para kadet tidak hanya harus siap memimpin perang. Mereka juga perlu memahami aspirasi ekonomi, politik, dan spiritual bangsa lain.
Dia mengatakan hidup mereka seharusnya dicurahkan dengan serius untuk memimpin menuju perdamaian, sama seriusnya dengan mempersiapkan diri menghadapi tugas perang.
MacArthur juga pernah menekankan pentingnya pikiran terbuka dan kebijaksanaan sejati. Dia mengingatkan bahwa masalah besar negara bukanlah urusan profesional militer untuk diselesaikan dengan cara militer.
Pesan itu terasa kuat, mengingat MacArthur sendiri pernah dipecat Presiden Harry Truman pada 1951 karena menolak gencatan senjata di Korea.
West Point, Tapi Minim Panduan Besar
Dalam pidatonya, Hegseth sempat menyebut nama Eisenhower dan MacArthur. Namun, dia tidak banyak memberi panduan kepada para kadet soal perubahan besar yang sedang terjadi di medan perang, munculnya ancaman baru, atau perdebatan soal peran militer dalam politik.
Hegseth mengatakan dunia saat ini berada di persimpangan jalan, tetapi kemudian menyebut kondisi seperti itu sudah terjadi selama 250 tahun terakhir.
Iran hanya disebut sekilas. Sebaliknya, dia lebih banyak membahas ancaman dari program diversity, equity, and inclusion atau DEI, yakni program yang berkaitan dengan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi.
Menurut Hegseth, para pemimpin yang dia sebut woke dan lemah pernah mencoba merusak West Point. Dia juga mengatakan bahwa kata ganti tidak bisa dilemparkan ke musuh.
Bisa saja program DEI di militer AS pernah berlebihan dalam beberapa hal, seperti juga terjadi di bagian lain kehidupan Amerika. Namun, kritik Hegseth terhadap DEI terlihat sulit dipadukan dengan pujiannya terhadap kemampuan tempur pasukan AS.
Jika DEI memang membuat pasukan menjadi kurang mematikan, bukti soal itu perlu ditunjukkan dengan jelas. Jika perang melawan DEI sudah dimenangkan seperti yang dia klaim, isu itu seharusnya tidak lagi terus dijadikan musuh utama.
Masalah Loyalitas dan Standar Jabatan Penting
Saat Hegseth mengatakan kepada para kadet bahwa mereka telah melihat obsesi terhadap ras dan gender, kritik itu justru bisa berbalik kepadanya sendiri.
The Economist menilai pola Hegseth dalam menghambat karier perwira kulit hitam atau perempuan menunjukkan bahwa dia juga memiliki obsesi sendiri terhadap isu tersebut.
Klaim Hegseth bahwa promosi kini hanya ditentukan oleh merit atau kemampuan juga dipandang seperti tabir untuk menutupi upayanya mendorong loyalis, atau mungkin dirinya sendiri.
Sebelum memimpin salah satu institusi terbesar AS dan militer paling kuat di dunia, Hegseth dikenal sebagai komentator Fox News. Trump memujinya dalam rapat kabinet itu dengan istilah central casting, seolah Hegseth cocok secara tampilan untuk peran tersebut.
Namun, Hegseth sendiri bukan sosok yang selalu menolak perlakuan istimewa. Ketika dia kembali bergabung dengan National Guard pada 2019, posisi untuk mayor seperti dirinya di batalion infanteri sangat terbatas.
Dalam bukunya, Hegseth menulis bahwa untungnya seorang teman baiknya baru saja menjadi komandan di New York. Ketika Hegseth menelepon, temannya itu berjanji akan mempekerjakannya, bahkan jika harus membuat posisi tambahan.
Namun, Hegseth kemudian tetap menggambarkan dirinya sebagai korban. Dia mengklaim pengangkatan itu diblokir karena alasan politik.
Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya soal DEI atau gaya bicara Hegseth. Isu yang lebih besar adalah bagaimana standar untuk jabatan-jabatan paling penting di AS bisa jatuh begitu rendah.
Untuk posisi yang mengurus militer paling kuat di dunia, publik seharusnya bisa berharap pada standar yang jauh lebih tinggi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google