Mata Uang Asia Beda Nasib: Won - Yen Perkasa, Rupiah & Ringgit Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung beragam pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Rupiah dan ringgit Malaysia menjadi dua mata uang yang mengalami tekanan cukup dalam pada pagi ini.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak lima mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara lima lainnya menguat.
Sayangnya, mata uang rupiah Garuda masih masuk dalam daftar mata uang Asia yang melemah pada pagi ini. Rupiah tercatat melemah 0,39% ke posisi Rp18.010/US$ yang sekaligus menjadi level terlemah sepanjang masa baru serta menembus level psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan ringgit Malaysia yang melemah paling dalam di Asia. Ringgit terkoreksi 0,55% ke posisi MYR 4,012/US$.
Selain rupiah dan ringgit, dong Vietnam melemah 0,17% ke posisi VND 26.335/US$, dolar Taiwan turun 0,14% ke posisi TWD 31,5/US$, dan yuan China terdepresiasi ke posisi CNY 6,775/US$ terkoreksi 0,09%.
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,34% ke posisi KRW 1.529,4/US$. Peso Filipina juga menguat 0,18%, yen Jepang naik 0,09%, baht Thailand menguat 0,09%, dan dolar Singapura naik tipis 0,02%.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini terpantau melemah tipis 0,09% ke posisi 99,436. Namun, pelemahan tersebut terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (3/6/2026), DXY ditutup menguat tajam 0,31% ke level 99,552.
Dengan demikian, dolar AS masih cenderung mempertahankan kekuatannya di pasar global. Penguatan dolar AS sebelumnya terjadi karena konflik di kawasan Teluk kembali memanas, sehingga permintaan terhadap dolar sebagai aset aman atau safe haven meningkat.
Ketegangan terbaru muncul setelah serangan Iran ke Kuwait merusak bandara dan menyebabkan puluhan orang terluka pada Rabu. Di saat yang sama, militer AS juga melakukan serangan di dekat Selat Hormuz. Kondisi ini kembali menekan harapan terhadap gencatan senjata dan membuat minat terhadap aset berisiko melemah.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi AS. Survei pada Rabu menunjukkan ukuran harga yang dibayar oleh pelaku bisnis jasa AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun pada bulan lalu.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve/The Fed, berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan hingga tahun depan.
Menguatnya dolar AS di pasar global pada akhirnya membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk Asia, menjadi lebih terbatas. Hal ini terlihat dari pergerakan mata uang Asia yang masih campuran, dengan rupiah dan ringgit menjadi mata uang yang paling tertekan pada pagi ini.Â
(evw/evw) Addsource on Google