Bikin Iri: 5 Mata Uang Negara Ini Menang Telak Lawan Dolar, Ada Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di sepanjang tahun 2026, ternyata masih ada sejumlah mata uang negara berkembang yang justru berhasil mengungguli kedigdayaan greenback.
Berdasarkan data Refinitiv hingga Rabu (3/6/2026), terdapat lima mata uang yang mencatat penguatan cukup besar terhadap dolar AS sejak awal tahun. Mata uang tersebut berasal dari negara: Zambia, Paraguay, Israel, Brasil, dan Republik Dominika.
Penguatan ini menunjukkan bahwa tekanan dolar AS tidak merata ke seluruh mata uang dunia.
Beberapa negara masih mampu mencatat apresiasi berkat kombinasi faktor domestik, seperti kebijakan moneter, sentimen komoditas, arus modal, hingga kondisi ekonomi yang relatif lebih menarik bagi investor.
1. Kwacha Zambia
Kwacha Zambia menjadi mata uang dengan penguatan paling besar terhadap dolar AS sejak awal 2026.
Nilai tukarnya bergerak dari ZMW 22,10/US$ pada awal tahun menjadi ZMW 17,80/US$ atau mata uangnya terapresiasi sekitar 19,5% dari greenback.
Penguatan ini terutama didorong oleh meningkatnya penjualan dolar di pasar domestik, termasuk untuk memenuhi kewajiban pajak, serta langkah bank sentral yang membatasi penggunaan mata uang asing dalam transaksi lokal.
Di luar faktor kebijakan pemerintah, kwacha juga mendapat dorongan besar dari harga tembaga dunia yang tinggi.
Zambia merupakan salah satu produsen tembaga, sehingga kenaikan harga komoditas tersebut membantu memperbesar pendapatan ekspor dan aliran valuta asing ke dalam negeri. Pasokan dolar yang lebih kuat di pasar lokal pada akhirnya membuat posisi kwacha semakin solid, sekaligus membantu meredam tekanan inflasi impor.
2. Guarani Paraguay
Penguatan guarani Paraguay juga menarik karena terjadi di tengah tekanan dolar AS yang masih membayangi banyak mata uang negara berkembang. Dari posisi PYG6.922,60/US$ pada awal 2026, mata uang ini menguat ke PYG6.114,46/US$.
Guarani mencatat penguatan 11,7% terhadap dolar AS.
Berbeda dengan Zambia yang banyak ditopang komoditas tambang, Paraguay lebih banyak mendapat dukungan dari stabilitas ekonomi domestik.
Inflasi yang relatif terkendali membuat kepercayaan terhadap mata uangnya tetap terjaga.
Selain itu, ekonomi Paraguay juga ditopang oleh ekspor pertanian dan energi, sehingga aliran devisa dari sektor riil ikut membantu menjaga pasokan valuta asing di dalam negeri.
3. Shekel Israel
Shekel Israel menjadi salah satu mata uang yang mampu mencatat penguatan cukup kuat terhadap dolar AS, meskipun negara tersebut tengah berperang melawan kelompok militan di sekitarnya.
Nilai tukarnya bergerak dari ILS3,181/US$ pada awal 2026 menjadi ILS2,863/US$ per Rabu (3/6/2026). Dengan begitu, shekel menguat 10% terhadap mata uang Negeri Paman Sam terebut, atau terapresiasi sekitar 0,318 poin sejak awal tahun.
Kinerja shekel menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat risiko geopolitik, tetapi juga daya tahan ekonomi dalam negeri.
Israel memiliki sektor teknologi yang kuat dan cukup menjadi perhatian investor global.
Ketika arus modal tetap masuk dan ekspektasi inflasi lebih terkendali, tekanan terhadap shekel dapat mereda. Bahkan, penguatan shekel bisa menjadi pedang bermata dua karena membantu menekan inflasi impor, tetapi di sisi lain dapat menekan perusahaan eksportir yang banyak menerima pendapatan dalam dolar AS.
4. Real Brasil
Real Brasil juga berhasil masuk daftar mata uang yang mampu mengungguli dolar AS sejak awal tahun. Mata uang ini menguat 8,6% dari BRL 5,477/US$ pada awal tahun menjadi BRL 5,004/US$.
Daya tarik real banyak datang dari kombinasi dua faktor yakni komoditas dan imbal hasil.
Brasil merupakan eksportir besar berbagai komoditas, sehingga ketika harga komoditas membaik, prospek penerimaan ekspor juga ikut terangkat.
Di saat yang sama, tingkat suku bunga yang relatif tinggi membuat aset berbasis real masih menarik bagi investor yang mencari imbal hasil lebih besar di pasar negara berkembang. Dua hal inilah yang membantu real tetap kuat di tengah fluktuasi dolar AS.
5. Peso Dominika
Peso Dominika pun mengikuti jejak penguatan real Brazil. Mata uang tersebut berhasil terapresiasi 7,9% dari greenback, dengan kurs terakhir berada di level DOP 57,96/US$.
Penopang utama peso Dominika datang dari sektor yang berbeda dibandingkan negara-negara lain yang menguat. Ekonomi Dominika banyak terbantu oleh pariwisata dan remitansi, dua sumber penting pemasok valuta asing.
Ketika kunjungan wisatawan tetap kuat dan kiriman uang dari warga di luar negeri terus masuk, pasokan dolar di dalam negeri ikut terjaga. Kondisi ini membantu peso Dominika tetap stabil, bahkan mampu menguat terhadap dolar AS.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google