MARKET DATA

Bitcoin Jatuh ke US$66 Ribu, Pasar Kripto Berdarah-darah

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
03 June 2026 10:40
10 Negara DI DUNIA
yang Ramah
Dengan Kripto
Foto: 10 Negara DI DUNIA yang Ramah Dengan Kripto/Aristya RahadianInfografis/

Jakarta, CNBC Indonesia  - Pergerakan pasar aset kripto memasuki awal bulan Juni dengan tekanan jual yang cukup dominan.

Indikator makroekonomi yang menunjukkan persistennya angka inflasi, berpadu dengan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda, mendorong investor untuk melakukan penyesuaian ulang terhadap eksposur risiko mereka.

Koreksi harga yang terjadi saat ini memvalidasi proyeksi kehati-hatian sebelumnya. Area resistensi US$80.000 hingga US$85.000 terbukti menjadi zona penolakan teknikal yang kuat, memberikan imbal hasil yang sangat optimal bagi pelaku pasar yang telah merealisasikan strategi short di rentang tersebut.

Kinerja Pasar

Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) telah terkoreksi cukup dalam ke level $66.844,59. Aset kripto utama ini mencatatkan penurunan harian sebesar -5,51% dan pelemahan mingguan yang cukup signifikan mencapai -11,87%. Kondisi serupa juga menekan Ethereum (ETH) yang turun -6,05% dalam 24 jam terakhir ke level $1.861,73.

Pada sektor altcoin, mayoritas aset berkapitalisasi besar terpantau berada di zona merah. Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) mencatatkan penurunan harian masing-masing sebesar -6,82% dan -7,20%.

Di tengah tren pelemahan ini, Zcash (ZEC) tampil sebagai anomali dengan membukukan lonjakan harian sebesar +16,30% ke level $626,65. Penguatan pada aset yang berfokus pada privasi ini mengindikasikan adanya rotasi modal yang spesifik di saat pelaku pasar mencari alternatif instrumen dalam kondisi volatilitas tinggi.

Katalis Geopolitik: Tensi Multi-Kawasan Menekan Aset Berisiko

Optimisme pasar akan adanya resolusi damai dalam waktu singkat tampaknya masih prematur. Walaupun sebelumnya sempat muncul wacana perundingan, realitas di lapangan belum menunjukkan deeskalasi yang material.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah masih menggantung tanpa kesepakatan final, sementara di kawasan Eropa Timur, ketegangan antara Rusia dan Ukraina dikabarkan kembali memanas.

Rentetan krisis geopolitik di berbagai front ini terus memberikan efek kejut pada pasokan energi. Harga minyak mentah Brent saat ini masih kokoh bertahan di level tinggi, yakni $96,2 per barel.'Tingginya biaya energi ini secara langsung mentransmisikan beban operasional ke sektor industri dan logistik, yang pada akhirnya memperburuk prospek inflasi struktural di tingkat global.

Katalis Makroekonomi: Inflasi Persisten dan Pasar Tenaga Kerja Ketat

Data makroekonomi terbaru menghadirkan narasi yang menantang bagi kebijakan moneter. Laporan inflasi inti (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat tercatat meningkat ke level 3,3%, sementara estimasi awal (flash estimate) inflasi Zona Euro juga menunjukkan angka yang persisten di level 3,2%.

Angka ini mengonfirmasi bahwa inflasi kembali membandel. Kondisi ini turut diperparah oleh lonjakan harga gas domestik AS yang terpantau melonjak signifikan hingga kisaran 50% dalam beberapa waktu terakhir, yang dipastikan akan mendistorsi daya beli konsumen.

Di sisi lain, laporan terbaru Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk bulan April 2026 justru menunjukkan pasar tenaga kerja yang kembali memanas. Jumlah lowongan pekerjaan melonjak secara signifikan menjadi 7,6 juta posisi, sebuah peningkatan sebesar 731.000 posisi dibandingkan bulan sebelumnya.

Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang terlalu kuat dan inflasi yang enggan turun ini mempertahankan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US 10Y Treasury) di level 4,45%, serta menjaga kekuatan Indeks Dolar AS (DXY) di angka 99,22.

Outlook Pasar

Berbagai indikator ekonomi tersebut memberikan landasan yang sangat rasional bagi The Fed. Di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh, bank sentral dihadapkan pada dinamika geopolitik eksternal yang secara langsung memicu inflasi domestik.

Mengingat pasar tenaga kerja yang masih sangat resilien, probabilitas The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga menjadi semakin nyata. Langkah pengetatan ini pada akhirnya akan memperbesar biaya pinjaman dan menekan valuasi aset berisiko (risky assets), termasuk pasar kripto.

Oleh karena itu, proyeksi fundamental untuk jangka menengah dan panjang tidak mengalami perubahan. Tren penurunan (downtrend) saat ini masih sejalan dengan struktur siklus makro.

Target utama untuk akumulasi maximum capital deployment tetap dipertahankan secara disiplin pada rentang harga $40.000 hingga $45.000. Namun perlu diingat hal ini masih bersifat tidak pasti sehingga penurunan mendekati level tersebut masih menjadi alternatif terbaik karena time in the market lebih baik dibandingkan dengan timing the market.

Area ini diproyeksikan sebagai cycle bottom yang diperkirakan akan terbentuk pada Kuartal III atau Kuartal IV tahun 2026. Strategi memprioritaskan likuiditas tunai (wait and see) merupakan pendekatan yang paling relevan untuk saat ini.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular