MARKET DATA

Mata Uang Asia Ambruk Berjamaah: Won-Rupiah Jatuh, 2 Negara Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 June 2026 10:06
Ilustrasi Mata Uang (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi Mata Uang (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Tekanan terjadi seiring indeks dolar AS yang masih bertahan di atas level 99.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari sembilan mata uang Asia, sebanyak tujuh mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara dua lainnya menguat.

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang masih tertekan. Mata uang Garuda melemah 0,14% ke posisi Rp17.890/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin mendekati level psikologis Rp17.900/US$.

Pelemahan rupiah terjadi sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan tekanan terdalam setelah melemah 0,35% ke posisi TWD31,395/US$.

Dong Vietnam juga melemah 0,26% ke posisi VND26.334/US$, disusul won Korea Selatan yang turun 0,21% ke posisi KRW1.516,4/US$.

Dolar Singapura terkoreksi 0,05% ke posisi SGD1,287/US$, yen Jepang melemah 0,03% ke posisi JPY159,7/US$, sementara peso Filipina turun tipis 0,01% ke posisi PHP61,734/US$.

Namun, tidak semua mata uang Asia berada di zona merah. Baht Thailand menguat 0,25% ke posisi THB32,57/US$, sementara yuan China naik tipis 0,03% ke posisi CNY6,7631/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau naik tipis 0,01% ke posisi 99,208 pada waktu yang sama. Meski penguatannya terbatas, DXY masih bertahan di atas level 99.

Dolar AS masih mendapat dukungan dari permintaan aset aman atau safe haven. Hal ini terjadi setelah negosiasi damai antara AS dan Iran kembali tersendat, sehingga pasar masih mencermati risiko inflasi dan arah suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Pada Senin kemarin, media Iran melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan komunikasi dengan Washington sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan masih berlangsung. Trump juga menyebut nota kesepahaman dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz berpotensi tercapai dalam sepekan ke depan.

Namun, pasar masih berhati-hati karena kenaikan inflasi yang dipicu harga energi dapat membuat The Fed tetap bersikap ketat. Bahkan, pelaku pasar mulai memperhitungkan kembali kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun.

Kini, investor menunggu rilis data lowongan kerja JOLTS AS pada Selasa waktu setempat. Setelah itu, perhatian pasar akan tertuju pada data tenaga kerja bulanan AS pada Jumat, yang dapat memberi gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Bagi mata uang Asia, kombinasi ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi energi, dan ekspektasi suku bunga AS membuat ruang penguatan masih terbatas.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular