Oleh-Oleh Jogja Financial Festival 2026: Dapat Ilmu Perbankan Plus Tab
Jakarta, CNBC Indonesia - Edukasi perbankan di Jogja Financial Festival 2026 nyatanya merasuk ke hati peserta hingga berbuah aksi nyata. Hal ini terbukti usai sesi Business Talk "The Bankers" banyak peserta langsung menyerbu booth bank-bank di Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Bantul pada Sabtu (23/5/2026).
Terpantau para peserta dari pelajar hingga peserta umum mengunjungi booth untuk membuka tabungan, kartu kredit, mendapatkan informasi pembiayaan, dan juga pastinya ikut aktivitas seru di boot.
Alia salah satu mahasiswa semester awal asal Sleman mengatakan dirinya membuka buku tabungan untuk keperluan sehari-hari di Jogja sebagai mahasiswa baru.
"Iya rekening tabungan. Tadi main games juga seru dan dapat doorprize kipas," katanya saat ditemui di JEC, Sabtu (23/5/2026).
Sesi diskusi di Business Talk "The Bankers" pun mendapatkan respon positif dari Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) TBk Hery Gunardi.
"Bagus. Literasi keuangan yang dibuat dan mengundang perbankan sangat positif," katanya saat ditemui di JECÂ usai acara, Sabtu (23/5/2026).
Baca:Â Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Anjlok Lagi, Buyback Rp 2,5 Juta
Business Talk "The Bankers" diisi oleh Direktur bank besar Indonesia yang mau sharing soal perbankan. Hery Gunardi menjelaskan kalau bank merupakan lembaga yang memiliki fungsi intermediasi. Artinya, bank mengumpulkan dana masyarakat dan kemudian disalurkan membiayai bisnis-bisnis yang memang membutuhkan pembiayaan.
"Nah dari aktivitas menyalurkan dana tadi, perbankan tentunya mendapatkan margin, kita namakan net interest margin. Di situlah bank-nya hidup," papar Hery saat sesi Business Talk: The Bankers, dikutip Rabu (27/5/2026).
"Jadi artinya bank mesti punya banyak nasabah. Jadi teman-teman di belakang harus menjadi nasabahnya BRI gitu ya," lanjutnya.
Menurut dirut BRI, perbankan terus mengalami perubahan dan evolusi. Ia lantas mengutip penjelasan penulis terkemuka Brett King yang banyak menulis soal perbankan. Pada era bank 1.0, layanan dasar bank adalah transaksi hanya menggunakan cek dan giro. Kemudian era bank 2.0 di mana muncul penggunaan automatic teller machine (ATM) yang dapat melayani nasabah 7x24 jam.
"Kemudian bank 3.0 itu adalah terkait juga dengan internet banking. Jadi nasabah mungkin nggak perlu lagi datang ke cabang bank misalnya, bagi nasabah korporasi, mereka bisa melakukan transaksi dari kantor dengan internet banking," kata Hery.
"Nah yang keempat ini adalah financial technology, fintech dan juga digitalisasi. Nah digital ini adalah memang sudah mengubah behavior, perilaku, daripada nasabah-nasabah yang ada di Indonesia terutama dan juga yang ada di luar negeri misalnya," lanjutnya.
Hery menjelaskan digitalisasi perbankan bertumbuh sangat cepat, utamanya didorong momentum pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu turut mempercepat proses tersebut.
"Itu nasabah kan nggak bisa datang ke cabang. Jadi yang tadinya gaptek (gagap teknologi), nggak bisa menggunakan mobile banking, itu terpaksa menggunakan mobile banking, karena nggak bisa datang ke ATM, nggak bisa datang ke cabang, nggak bisa transaksi di teller dan seterusnya," ujar Hery.
Mengutip data Bank Indonesia, dia mengungkapkan selama pandemi Covid-19, ada sekitar 50 juta hingga 60 juta pengguna baru untuk internet banking dan mobile banking.
"Nah pertanyaan sekarang, bagaimana bank ini bertransformasi dengan berubahnya teknologi, lingkungan bisnis dan juga nasabah yang makin kompleks ya," kata Hery.
Menurut dia, bank harus mengubah cara kerja hingga pelayanan kepada nasabah sehingga bisa tetap update dan tetap relevan dengan nasabah.
"Nah apa yang dilakukan adalah tentunya bank juga seperti tadi saya kembali lagi, Brett King bilang, bank itu menurut Brett King itu, bank is a technology company with bank license. Sebenarnya bank itu technology company," ujar Hery.
Jadi artinya, lanjut dia, dengan kondisi seperti ini, perbankan tidak akan bisa melawan perkembangan zaman.
"Ini adalah satu keharusan bahwa kita harus mentransformasi diri, mengubah diri. Bukan hanya digitalisasi, bukan hanya otomasi, tetapi juga terkait dengan sekarang ada AI dan Gen AI. Jadi kalau itu tidak diubah, kita tidak lagi mengikuti tren ini, bank itu akan ditinggalkan oleh customer-nya," kata Hery.
(ras/ras) Addsource on Google