MARKET DATA

Di Negara Ini Idul Adha Lebih Meriah Dibanding Idul Fitri, Kok Bisa?

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
27 May 2026 12:00
Fakta-fakta menarik hewan qurban
Foto: Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Perayaan hari besar umat Islam ternyata tidak selalu memiliki "gaung" yang sama di setiap negara. Meski Idul Fitri dan Idul Adha sama-sama menjadi momentum penting bagi umat Muslim, faktor budaya, ekonomi, hingga sejarah membuat salah satunya bisa terasa jauh lebih dominan dibanding yang lain.

Secara global, terlihat pola menarik: negara dengan budaya konsumsi dan mobilitas masyarakat tinggi cenderung menjadikan Idul Fitri sebagai perayaan terbesar. Sementara wilayah yang memiliki kedekatan kuat dengan tradisi kurban dan ibadah haji justru lebih memusatkan perhatian pada Idul Adha.

Di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, hingga Singapore, serta Asia Selatan seperti Pakistan dan Bangladesh, Idul Fitri menjadi peristiwa sosial dan ekonomi terbesar dalam setahun.

Sekelompok warga melakukak pawai obor malam takbiran untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa, (9/4/2024). (CNBC Idonesia/Muhammad Sabki)Sekelompok warga melakukak pawai obor malam takbiran untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa, (9/4/2024). (CNBC Idonesia/Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Idonesia/Muhammad Sabki)

Lebaran di kawasan ini bukan sekadar ibadah, melainkan "festival sosial" berskala nasional. Tradisi mudik massal, lonjakan konsumsi rumah tangga, belanja pakaian baru, hingga silaturahmi keluarga membuat perputaran uang meningkat tajam setiap tahunnya.

Dampaknya terasa langsung pada sektor transportasi, ritel, makanan-minuman, hingga perbankan. Di Indonesia misalnya, periode Lebaran hampir selalu menjadi motor utama konsumsi domestik.

Berbeda dengan Asia, suasana di Timur Tengah justru menunjukkan pola berbeda. Negara-negara Teluk seperti Saudi Arabia, United Arab Emirates, dan Qatar, serta kawasan Afrika Utara dan Barat seperti Morocco, Nigeria, Senegal, dan Mali justru lebih menonjolkan Idul Adha.

Di Arab Saudi, Idul Adha memiliki bobot spiritual jauh lebih besar karena bertepatan dengan puncak ibadah haji di Kota Mecca. Jutaan jamaah dari berbagai negara berkumpul untuk menjalankan rukun Islam kelima, menjadikan Idul Adha sebagai salah satu perayaan keagamaan terbesar di dunia.

Sementara di Afrika, Idul Adha berkembang menjadi kombinasi antara ritual keagamaan dan budaya lokal. Di Nigeria, misalnya, festival Durbar dengan parade kuda besar-besaran menjadi bagian penting perayaan yang tidak ditemukan saat Idul Fitri.

Ciri utama kawasan ini adalah kuatnya tradisi kurban sebagai pusat aktivitas masyarakat, adanya libur panjang, serta keterkaitan erat dengan ritual haji.

Di beberapa negara lain seperti Egypt, Jordan, Iraq, Ethiopia, hingga Kenya, posisi kedua hari raya relatif seimbang. Idul Fitri tetap menjadi momentum sosial, sementara Idul Adha lebih menonjol sebagai ritual religius melalui ibadah kurban.

Kenapa Bisa Berbeda?

Ada setidaknya tiga faktor utama yang membuat dominasi perayaan berbeda di tiap kawasan.

1. Faktor Haji
Wilayah yang dekat dengan pusat haji, seperti Arab Saudi, secara alami menjadikan Idul Adha sebagai puncak perayaan.

2. Tradisi Qurban
Di Afrika dan Timur Tengah, qurban bukan sekadar ibadah, tetapi juga aktivitas sosial besar yang melibatkan komunitas luas.

3. Faktor Ekonomi dan Budaya
Di Asia, Idul Fitri menjadi momentum konsumsi terbesar-mulai dari transportasi, makanan, hingga pakaian-yang memperkuat posisinya sebagai perayaan utama.

Arab Saudi: Idul Adha Lebih "Besar"

Jika di Indonesia Lebaran identik dengan mudik dan halal bihalal berhari-hari, suasana Idul Fitri di Arab Saudi relatif lebih sederhana.

Salah satu penyebab utamanya adalah posisi Idul Adha yang dianggap memiliki bobot religius dan sosial jauh lebih kuat. Momentum haji yang berlangsung di Makkah menjadikan Idul Adha bukan sekadar hari raya nasional, tetapi juga peristiwa global umat Islam.

Karena itu, perhatian masyarakat dan pemerintah Saudi biasanya jauh lebih besar terhadap musim haji dan Idul Adha dibanding Idul Fitri.

Iran Punya "Hari Besar" yang Berbeda

Sementara itu, dinamika di Iran menunjukkan pola yang berbeda dibanding mayoritas negara Muslim lainnya.

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim Syiah, Iran menjadikan Asyura sebagai momentum religius terbesar. Perayaan ini memperingati wafatnya Imam Husain dalam tragedi Karbala-peristiwa paling sentral dalam sejarah Syiah.

Asyura dirayakan selama sekitar 10 hari di bulan Muharram dengan partisipasi jutaan orang di seluruh negeri.

Ciri khasnya meliputi prosesi duka massal dengan pakaian hitam, ritual matam sebagai simbol kesedihan kolektif, pertunjukan Taziyeh atau drama religius tentang Karbala, hingga pembagian makanan gratis (nazri) kepada masyarakat.

Berbeda dengan banyak negara Sunni, skala sosial dan emosional Asyura di Iran dinilai jauh melampaui perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular