MARKET DATA

Harga Batu Bara Melonjak Dekati US$ 140, China & India Berebut Pasokan

mae,  CNBC Indonesia
27 May 2026 08:30
Bongkar muat batu bara di China. (REUTERS/ALY SONG)
Foto: Bongkar muat batu bara di China. (REUTERS/ALY SONG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melonjak di tengah kekhawatiran pasar mengenai pasokan di China dan kencangnya permintaan dari India.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (26/5/2026) ditutup di posisi US$ 139,4 per ton atau melonjak 2,16%. Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 5 Mei 2026 atau lebih dari tiga minggu.

Harga kokas di China resmi naik untuk keempat kalinya tahun ini setelah pabrik baja besar menerima kenaikan harga yang diajukan produsen kokas. Kenaikan terbaru berlaku mulai 26 Mei dengan besaran sekitar CNY 50-55 per ton.

Kenaikan itu terjadi di tengah pasokan batu bara kokas yang makin ketat pasca kecelakaan tambang di Shanxi, pusat produksi batu bara utama China.

Inspeksi keselamatan besar-besaran membuat sejumlah tambang menghentikan produksi sementara, sehingga pasar khawatir suplai akan makin menyusut.

Setelah kenaikan keempat mulai berlaku, pasar langsung mulai membicarakan potensi kenaikan harga putaran kelima.



Pelaku industri menilai posisi tawar produsen kokas makin kuat karena stok di pasar relatif rendah sementara permintaan dari industri baja masih cukup stabil.

Namun, tidak semua pihak setuju. Sejumlah pabrik baja mulai menolak kenaikan lanjutan karena margin keuntungan industri baja sedang tertekan akibat harga produk baja yang melemah. Ketegangan antara produsen kokas dan pabrik baja pun mulai muncul.

Di sisi lain, pasar global batu bara kokas juga ikut menguat. Harga batu bara kokas Australia dan China naik sepanjang Mei karena pasokan ketat dan gangguan produksi di beberapa wilayah tambang.

Menyusul kecelakaan tambang yang menewaskan 82 orang pekan lalu, 0toritas di Shanxi telah menghentikan operasi 109 tambang yang memiliki kapasitas produksi tahunan gabungan sebesar 122 juta ton.

Ledakan fatal terjadi di tambang milik swasta Liushenyu pada Jumat malam.

Sebagian besar tambang biasanya dikenai penghentian operasi selama tiga hingga tujuh hari setelah insiden serius.

Vidio google earth menujukkan lokasi kejadian setelah ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Provinsi Shanxi, Tiongkok, Sabtu (23/5/2026). (via REUTERS TV)Vidio google earth menujukkan lokasi kejadian setelah ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Provinsi Shanxi, Tiongkok, Sabtu (23/5/2026). (via REUTERS TV) Foto: Vidio google earth menujukkan lokasi kejadian setelah ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Provinsi Shanxi, Tiongkok, Sabtu (23/5/2026). (via REUTERS TV)

 

Pasar kini mencermati apakah cakupan penghentian itu akan diperluas, mengingat China akan memulai kampanye tahunan keselamatan pertambangan pada 1 Juni mendatang.

Jika Beijing tidak meluncurkan pengetatan besar-besaran, produksi batu bara kemungkinan akan cepat pulih setelah inspeksi awal selesai, yang pada akhirnya dapat menekan harga kembali turun.

"Melihat kebutuhan menjaga pasokan batu bara menjelang musim panas, pemerintah pusat sejauh ini belum memperketat pengawasan keselamatan kerja lebih lanjut," kata Yu Dian, peneliti utama di Citic Futures yang berbasis di Shanghai, dikutip dari The Star.

 

Ledakan tersebut menewaskan sedikitnya 82 orang dan secara tiba-tiba memperketat pasar batu bara kokas China, dengan dampak langsung terhadap sekitar 4% total produksi nasional. Mysteel menyebut beberapa perusahaan tambang mulai menerima penawaran harga yang lebih tinggi setelah bencana tersebut.

Kontrak berjangka batu bara kokas naik 0,5% menjadi 1.273 yuan per ton pada pukul 11:01 waktu Singapura. Sementara itu, harga bijih besi di Singapore Exchange turun 1,4% menjadi US$105,20 per ton. Harga bijih besi di Dalian dan baja di Shanghai juga ikut melemah.

Musim Panas Dongkrak Permintaan

Selain inspeksi, musim panas segera tiba dan permintaan listrik memasuki periode puncak. Lembaga seperti CITIC Securities mencatat bahwa permintaan musim panas tahun ini, termasuk konsumsi batu bara oleh pembangkit listrik tenaga uap dan sektor kimia, melampaui ekspektasi.

Pengguna hilir memang sedang mengurangi stok di musim sepi, tetapi permintaan restocking untuk musim puncak bisa muncul kapan saja.

Di satu sisi pasokan batu bara menyusut, di sisi lain permintaan tetap sama atau bahkan meningkat. Secara alami, batu bara yang tersisa menjadi semakin diperebutkan.

Karena itu, harga satu ton batu bara tersebut langsung dihitung ulang di bursa.

 

Kontrak berjangka batu bara kokas bulan terdekat melonjak hampir 8% hanya dalam satu hari, sementara kontrak bulan berikutnya juga menyentuh batas kenaikan harian.

Dari India, perusahaan tambang batu bara milik negara India, Coal India, meminta anak-anak usahanya meningkatkan pasokan batu bara ke pembangkit listrik.

Langkah ini dilakukan untuk menghindari kekurangan pasokan saat permintaan listrik negara itu mencapai rekor tertinggi akibat gelombang panas ekstrem, menurut dua sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut.

Sejumlah wilayah di India mengalami pemadaman listrik, terutama pada malam hari ketika pasokan energi terbarukan tidak tersedia. Kondisi ini terjadi setelah suhu panas ekstrem yang dipicu pola cuaca El Nino membebani jaringan listrik nasional.

Sebanyak 21 pembangkit listrik tercatat memiliki stok batu bara dalam kondisi kritis, yakni hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kurang dari satu minggu, berdasarkan data terbaru dari Central Electricity Authority, lembaga penasihat Kementerian Energi India.

 

Produsen batu bara terbesar di dunia itu telah menginstruksikan anak-anak usahanya untuk memaksimalkan pengiriman batu bara dengan seluruh moda transportasi, termasuk jalur kereta api yang mengangkut batu bara langsung dari tambang ke pembangkit listrik, kata sumber tersebut.

Coal India pada Selasa menyatakan telah meminta perusahaan utilitas listrik meningkatkan stok batu bara lebih awal menjelang puncak permintaan, khususnya bagi pembangkit yang berada di wilayah dengan tantangan logistik.

Permintaan listrik puncak India, yang mengukur kebutuhan listrik maksimum, mencapai rekor tertinggi 270,8 gigawatt (GW) pekan lalu.

Meski India telah memiliki kapasitas energi non-fosil sebesar 228 GW, batu bara masih menyumbang lebih dari 70% pembangkit listrik negara tersebut.

Coal India dan delapan anak usahanya, yang menyumbang sekitar 80% produksi batu bara India, mencatat penurunan produksi 9,7% menjadi 56,1 juta ton metrik pada April, berdasarkan data perusahaan.

Perusahaan tambang itu mengatakan mereka memiliki stok batu bara sebesar 168 juta ton, termasuk 47,6 juta ton di pembangkit listrik, cukup untuk memenuhi konsumsi selama 19 hari.

Sementara itu, stok batu bara di area tambang mencapai 113,5 juta ton per 23 Mei, naik sekitar 10% dibanding tahun sebelumnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular