MARKET DATA

Kecelakaan Maut di China Buat Dunia Panik, Harga Batu Bara Bisa Naik

mae,  CNBC Indonesia
26 May 2026 07:35
Bongkar muat batu bara di China. (REUTERS/ALY SONG)
Foto: Bongkar muat batu bara di China. (REUTERS/ALY SONG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara stagnan pada perdagangan awal pekan ini. Pelaku pasar keuangan tengah menanti langkah apa yang akan diambil China setelah kecelakaan besar di tambang mereka.

Pada perdagangan Senin (25/5/2026), harga batu bara ditutup di posisi US$ 136,45 per troy ons. Harganya tidak berubah dibandingkan Jumat pekan lalu.

Namun, harga batu bara kokas (coking coal) di China melonjak tajam pada pekan ini setelah insiden ledakan gas mematikan di sebuah tambang batu bara di Provinsi Shanxi memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.

Kecelakaan mendorong otoritas China memperketat pemeriksaan keselamatan tambang secara besar-besaran. Sejumlah tambang di wilayah penghasil batu bara utama bahkan menghentikan operasi sementara guna menjalani inspeksi keselamatan pasca-insiden.


Langkah ini langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap pengetatan pasokan batu bara kokas di tengah kebutuhan industri baja yang masih tinggi. Akibatnya, harga batu bara kokas di pasar domestik China bergerak naik cepat dalam beberapa hari terakhir.

Pelaku pasar menilai penghentian operasi tambang berpotensi mengganggu rantai pasok jangka pendek, terutama jika proses inspeksi berlangsung lebih lama dari perkiraan. Sentimen kenaikan harga juga diperkuat oleh level persediaan batu bara yang relatif rendah di sejumlah wilayah utama China.

Shanxi sendiri merupakan salah satu pusat produksi batu bara utama di China, termasuk untuk jenis batu bara kokas yang digunakan sebagai bahan baku industri baja. Karena itu, setiap gangguan produksi di wilayah tersebut kerap berdampak signifikan terhadap pergerakan harga komoditas energi dan bahan baku baja di China.

Harga melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua pekan, setelah gelombang pemeriksaan keselamatan ketat di tambang batu bara pasca kecelakaan maut di pusat produksi utama memicu ekspektasi pengetatan pasokan.

Ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu di Provinsi Shanxi, China utara, pada Jumat malam menewaskan 82 orang. Insiden ini menjadi kecelakaan tambang paling mematikan di negara tersebut setidaknya sejak 2009.

Tambang tersebut dimiliki oleh Shanxi Tongzhou Coal Coking Group dan seluruh empat tambang milik perusahaan itu telah ditutup, sementara para eksekutif perusahaan ditahan, kata pejabat setempat dalam konferensi pers pada Minggu.

Media pemerintah People's Daily menerbitkan editorial utama terkait kecelakaan itu pada Minggu pagi, menyerukan perhatian lebih besar terhadap keselamatan produksi dan untuk "sepenuhnya membalik kecenderungan mengutamakan pembangunan dibanding keselamatan."

Kontrak batu bara kokas yang paling aktif diperdagangkan di Dalian Commodity Exchange (DCE) menyentuh batas kenaikan harian, melonjak 7,97% menjadi CNY 1.266,5 (US$186,77) per ton metrik, level tertinggi sejak 12 Mei.

Sementara itu, kontrak coke paling aktif di DCE melesat 7,99% menjadi CNY 1.879 per ton, level terkuat sejak 6 Mei.

Survei dari konsultan Mysteel menunjukkan sejumlah tambang batu bara lain di Shanxi menghentikan produksi selama tiga hingga lima hari untuk pemeriksaan keselamatan. Kondisi ini diperkirakan mengurangi pasokan bahan baku batu bara kokas hingga 288.000 ton per hari.

"Pasokan batu bara kokas diperkirakan akan menyusut sementara permintaan tetap kuat, sehingga menopang harga dalam jangka pendek," tulis analis Wuchan Zhongda Futures dalam sebuah catatan, kepada Reuters.

Harga bijih besi memangkas sebagian kenaikan sebelumnya setelah pengiriman mingguan dari Australia dan Brasil melonjak 22% dibanding pekan sebelumnya, berdasarkan data Mysteel.

Kontrak bijih besi paling aktif di DCE ditutup naik 0,06% menjadi CNY793 per ton, sementara kontrak acuan bijih besi Juni di Singapore Exchange naik 0,49% menjadi US$106,7 per ton pada pukul 08.09 GMT.

Produk baja acuan di Shanghai Futures Exchange sebagian besar ikut menguat seiring naiknya biaya bahan baku.

Harga rebar naik 1,48%, hot-rolled coil menguat 1,39%, wire rod melonjak 2,36%, sementara stainless steel relatif stabil.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular