Perak Liar Tak Tentu Arah, Tertekan Bayang-Bayang The Fed & Iran
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga perak dunia menutup perdagangan pekan ini di level US$76,56 per troy ounce pada Jumat (22/5/2026), turun tipis dibanding posisi Kamis di US$76,69. Dalam sepekan, pergerakan logam mulia ini terlihat volatil. Harga sempat menyentuh US$73,82 pada Senin sebelum kembali memantul ke area US$76.
Pergerakan tersebut memperlihatkan pasar sedang kesulitan mencari arah di tengah dua tekanan besar lonjakan risiko geopolitik Timur Tengah dan kekhawatiran suku bunga tinggi Amerika Serikat bertahan lebih lama.
Jika dibandingkan posisi awal pekan lalu, harga perak sebenarnya masih relatif stagnan. Pada 15 Mei, perak berada di US$75,95 per troy ounce. Namun stabilitas itu datang setelah koreksi brutal yang terjadi sebelumnya. Pada 13 Mei, silver masih diperdagangkan di level US$87,97 sebelum jatuh tajam hanya dalam hitungan hari.
Tekanan utama datang dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS. Konflik AS-Iran membuat harga minyak bertahan di level tertinggi empat tahun. Kenaikan energi membuat investor mulai memperhitungkan risiko inflasi baru di Amerika Serikat.
Pasar kini melihat peluang sekitar 55% bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum Oktober tahun ini. Gubernur The Fed Christopher Waller bahkan menyatakan bank sentral AS sebaiknya mulai meninggalkan bias pelonggaran kebijakan moneternya.
Kondisi ini menjadi kabar kurang baik bagi perak. Berbeda dengan emas yang lebih dominan berperan sebagai safe haven, perak memiliki karakter ganda.
Ia dipandang sebagai aset lindung nilai, tetapi pada saat yang sama sangat sensitif terhadap suku bunga karena tidak memberikan imbal hasil. Saat ekspektasi bunga naik menguat, investor cenderung berpindah ke instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah AS.
Sentimen geopolitik sebenarnya sempat memberi ruang napas bagi perak. Pasar sempat berharap negosiasi damai AS-Iran menghasilkan kemajuan setelah media Iran melaporkan adanya pembicaraan lanjutan terkait proposal penghentian perang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengakui terdapat sedikit perkembangan dalam proses mediasi.
Namun optimisme itu cepat memudar. Laporan Reuters menyebut pemimpin tertinggi Iran tetap meminta stok uranium dipertahankan di dalam negeri. Sikap tersebut bertabrakan dengan tuntutan AS dan Israel yang menginginkan material uranium dipindahkan keluar Iran sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Situasi makin rumit setelah muncul laporan Iran tengah mempercepat pemulihan kapasitas militernya. Di saat bersamaan, muncul wacana pembentukan sistem pungutan permanen di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia. Kekhawatiran gangguan distribusi energi langsung menjaga harga minyak tetap tinggi dan membuat pasar kembali berbicara soal inflasi.
Di pasar komoditas global, perak kini mulai kehilangan momentum dibanding beberapa logam lainnya. Data Trading Economics menunjukkan secara tahunan harga perak memang masih melonjak lebih dari 125%.
Namun dalam basis bulanan performanya nyaris stagnan, jauh tertinggal dari lithium yang melesat lebih dari 182% secara tahunan serta emas yang masih menguat sekitar 34%.
Kondisi tersebut memperlihatkan investor sedang berhati-hati masuk ke perak. Pasar belum melihat kepastian apakah logam ini akan kembali menjadi aset lindung nilai utama, atau justru terjebak dalam tekanan suku bunga tinggi yang berkepanjangan.
CNBC Indonesia Research
(emb/luc) Addsource on Google