Beda Nasib: Rupiah Ditinggalkan, Bank Global Pilih Mata Uang Asia Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia belum juga mereda. Namun, sebagian mata uang Asia mampu menguat pada pekan ini.
Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026) rupiah ditutup di posisi Rp 17.690/US$1 atau melemah 0,28% per dolar Amerika Serikat (AS).
Sepanjang pekan ini, rupiah jatuh 1,32%. Artinya, rupiah sudah ambruk delapan pekan beruntun.
Nilai tukar Garuda bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.700 di tengah derasnya arus keluar modal asing dan membengkaknya defisit transaksi berjalan Indonesia.
Defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat mencapai US$4 miliar atau setara 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini menjadi yang terbesar sejak kuartal IV-2019.
Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mengerek suku bunga 50 Bps menjadi 5,25% pada Rabu (20/5/2026) bahkan tidak mampu mengangkat rupiah.
Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Salah satu faktor utama adalah derasnya arus keluar dana asing (hot money outflow) dari pasar keuangan domestik.
Selain sentimen global seperti tingginya suku bunga AS dan penguatan dolar, investor asing juga dinilai masih mencermati berbagai kebijakan baru pemerintah yang dinilai memengaruhi proses bisnis di Indonesia.
"Jadi mereka cenderung cari aman di saat kondisi seperti ini. Apalagi kebijakan-kebijakan baru tersebut mempengaruhi proses bisnis. Lalu juga berikutnya adanya pemindahan likuiditas valas dari dalam negeri ke luar negeri," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, pasar juga tengah mengantisipasi potensi keluarnya dana asing terkait keputusan lembaga indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Adapun faktor musiman seperti kebutuhan pembayaran dividen dan musim haji disebut hanya memberikan tekanan sementara terhadap rupiah.
Asia Berbenah Hadapi Tekanan Mata Uang
Selain rupiah, sejumah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS pada pekan ini.
Pelemahan terbesar dialami won Korea. Namun, mata uang lain seperti rupee justru menguat.
Pemangku kebijakan di Asia sepanjang bulan ini telah mengeluarkan sejumlah langkah untuk menahan pelemahan mata uang mereka.
Sejak perang Iran meletus pada 28 Februari 2026, mata uang Asia memang banyak tertekan.
Indonesia pada Rabu lalu secara mengejutkan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin untuk menopang rupiah yang juga berada di level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Pemerintah juga mengambil alih kendali ekspor komoditas untuk memastikan hasil ekspor tetap berada di dalam negeri dan menggunakan mata uang lokal.
Â
Bank sentral Filipina juga telah menaikkan suku bunga, dan muncul spekulasi inflasi yang melonjak dapat memicu kenaikan suku bunga di luar jadwal sebelum rapat berikutnya bulan depan.
"Berapa banyak kenaikan suku bunga yang dibutuhkan untuk menarik modal masuk? Jawabannya bisa sangat banyak," kata kepala fixed income Asia Pasifik BlackRock, Navin Saigal, kepada Reuters.
"Di sisi lain, apa dampaknya terhadap ekonomi domestik? Jawabannya juga bisa sangat besar," tambahnya.
India, Indonesia, dan Filipina dinilai sangat rentan karena merupakan negara pengimpor minyak yang juga terkena arus keluar modal ketika investor memindahkan dana mereka ke tempat lain.
Perubahan mendadak ekspektasi suku bunga AS, dengan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini, menambah tekanan. Rupiah melemah ke Rp17.700 per dolar AS, rupee mendekati 97 per dolar AS, dan peso Filipina hampir menyentuh 62 per dolar AS.
Pasar keuangan pun semakin tidak bersahabat.
Â
Di Indonesia, rupiah telah melemah 12% terhadap dolar AS di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Rupiah kembali melemah hanya sehari setelah Indonesia menaikkan suku bunga. Saham-saham di Bursa Efek Indonesia juga jatuh setelah langkah sentralisasi ekspor memperdalam kekhawatiran investor yang sebelumnya sudah menempatkan Indonesia dalam risiko penurunan peringkat kredit.
S&P Global Ratings memperingatkan rencana Indonesia mengendalikan ekspor komoditas secara terpusat dapat merugikan ekspor, menekan penerimaan negara, dan memperlemah neraca pembayaran.
Di India, penggunaan pasar forward dolar oleh bank sentral juga mulai disorot setelah komitmen forward dolar jangka pendek melampaui US$100 miliar, sehingga mengurangi rasa aman dari cadangan devisa sebesar US$700 miliar.
"Ketika cadangan devisa menjadi fokus pasar, persepsi menjadi penting," kata ahli strategi makro Asia JB Drax Honore, Vivek Rajpal.
"Ruang untuk melakukan intervensi agresif terhadap tekanan lebih lanjut semakin terbatas. Bank sentral Filipina dan Indonesia sudah berada dalam jalur kenaikan suku bunga, dan India kemungkinan akan mengikuti," katanya.
India sedang mempertimbangkan semua opsi untuk menstabilkan rupee, termasuk kemungkinan menaikkan suku bunga.
Meski India, Indonesia, dan Filipina masih memiliki ruang menaikkan suku bunga dan menggunakan cadangan devisa untuk menahan gejolak mata uang, tekanan pasar disebut masih sangat kuat.
Â
Beberapa bank investasi bahkan mulai merekomendasikan klien mereka menjual mata uang Asia yang melemah dan beralih ke mata uang Asia yang lebih kuat.
"Karena tidak ada yang bisa memprediksi situasi Iran-AS, kami lebih memilih strategi relative value," kata strategis pasar negara berkembang BNP Paribas, Chandresh Jain.
Ia menyarankan investor mempertimbangkan posisi pada dolar Singapura, ringgit Malaysia, yuan China, atau won Korea Selatan dibanding baht Thailand, rupee India, maupun rupiah Indonesia.
source on Google