Harga Emas Jatuh Hancur-Hancuran, Bandar Seperti "Kelinci Kebingungan"
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas turun secara mingguan selama dua pekan beruntun.
Harga emas tertekan oleh kenaikan harga minyak yang membuat kekhawatiran inflasi tetap menjadi perhatian utama serta meningkatkan taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat ditutup di posisi US$ 4508,73 per troy ons. Harganya ambruk 0,8%. Pelemahan ini menghapus tren positif kenaikan dua hari beruntun sebelumnya dengan penguatan 1,4%.
Harga emas pada penutupan kemarin juga menjadi yang terendah dalam empat hari terakhir.
Dalam sepekan, harga emas jatuh 0,65% pekan ini. Artinya, emas sudah ambruk dalam dua pekan terakhir.
"Pelaku pasar saat ini seperti kelinci yang terpaku oleh lampu kendaraan, fokus pada Hormuz dan dampaknya terhadap gangguan rantai pasok secara luas, yang kemudian memicu kekhawatiran inflasi serta potensi kenaikan suku bunga," kata analis StoneX, Rhona O'Connell, merujuk pada jalur pengiriman minyak Selat Hormuz, dikutip dari Refinitiv.
Â
Harga minyak naik karena investor meragukan perundingan damai AS-Iran akan menghasilkan terobosan berarti.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun memangkas pelemahan sebelumnya dan bertahan dekat level tertinggi lebih dari satu tahun, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Lonjakan biaya energi cenderung meningkatkan inflasi dan dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang melemahkan permintaan terhadap logam mulia non-yielding seperti emas, meskipun emas juga dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Â
Menurut alat FedWatch milik CME Grou pelaku pasar memperkirakan peluang sebesar 58% untuk setidaknya satu kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin sebelum Desember.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang sebelumnya mendukung penurunan suku bunga, mengatakan bank sentral sebaiknya menghapus kecenderungan pelonggaran kebijakan dan membuka peluang kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, sentimen konsumen AS jatuh ke rekor terendah pada Mei karena lonjakan harga bensin meningkatkan kekhawatiran terhadap memburuknya daya beli, menurut survei yang dirilis Jumat.
source on Google