Malapetaka Mengancam, Kota di Pegunungan Ini Mulai Tenggelam
Jakarta, CNBC Indonesia- Setiap musim panas datang, jutaan warga India berbondong bondong naik ke pegunungan Himalaya.
Saat suhu di dataran rendah menembus titik ekstrem pada Mei, kota-kota perbukitan seperti Shimla berubah menjadi tempat pelarian massal. Udara dingin, hutan pinus, puncak bersalju, dan lanskap kolonial lama menjadi magnet wisata domestik India yang terus membesar dari tahun ke tahun.
Sayangnya, Shimla kini menghadapi persoalan yang jauh lebih serius dibanding kemacetan wisata.
Melansir The Economist, kota yang dahulu menjadi ibu kota musim panas pemerintahan kolonial Inggris itu perlahan mengalami tekanan fisik akibat ledakan pembangunan yang berlangsung tanpa kendali selama puluhan tahun. Jalan-jalan sempit yang awalnya dibangun untuk kereta kuda kini dipadati sekitar 26 ribu mobil per hari. Lereng curam dipenuhi bangunan homestay dan hotel kecil yang berdiri rapat hingga menempel di sisi tebing.
Pada era kolonial Inggris, populasi Shimla hanya sekitar 25 ribu orang. Kini kota tersebut menerima sekitar 2,7 juta wisatawan setiap tahun. Pertumbuhan itu berjalan jauh lebih cepat dibanding kemampuan kota menopang beban penduduk dan kendaraan.
Sistem drainase, pengelolaan sampah, hingga infrastruktur jalan disebut sudah melampaui kapasitas. Warga mulai melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan seperti akar pohon muncul ke permukaan, retakan di dinding rumah, dan beberapa kawasan perlahan turun akibat pergerakan tanah.
Banyak kota pegunungan lain di wilayah Himalaya India menghadapi tekanan serupa. Negara bagian seperti Himachal Pradesh, Uttarakhand, dan Sikkim mengalami gelombang pembangunan besar dalam beberapa tahun terakhir
Pemerintah pusat India mendorong proyek infrastruktur skala besar mulai dari jalan raya baru hingga pembangkit listrik tenaga air. Aktivitas konstruksi berlangsung agresif di kawasan yang secara geologis memang rapuh.
Masalahnya datang bersamaan dengan perubahan pola cuaca di kawasan Himalaya. Musim dingin menjadi lebih kering, musim panas semakin panas, sementara pola hujan makin sulit diprediksi. Ketika hujan ekstrem datang, dampaknya menjadi jauh lebih destruktif karena lereng gunung sudah kehilangan stabilitas akibat pembangunan dan pemotongan bukit. Longsor, banjir bandang, serta kebakaran hutan meningkat dalam satu dekade terakhir.
Pemerintah Himachal Pradesh mencatat lebih dari 10.500 orang meninggal akibat bencana seperti longsor, banjir bandang, dan kebakaran hutan dalam 10 tahun terakhir. Mahkamah Agung India bahkan sempat memperingatkan bahwa praktik pembangunan yang terus "mengiris" pegunungan dapat membuat wilayah tersebut "menghilang ke udara".
Tekanan ekonomi membuat pemerintah daerah berada dalam posisi sulit. Pariwisata merupakan sumber pendapatan utama bagi banyak wilayah Himalaya India. Pemerintah Himachal Pradesh bahkan memiliki target melipatgandakan jumlah wisatawan hingga tiga kali lipat setiap tahun.
Jalan utama menuju Shimla terus diperlebar untuk menampung lonjakan kendaraan. Di saat bersamaan, aturan konstruksi yang sebelumnya membatasi pembangunan di kawasan tertentu mulai dilonggarkan melalui Shimla Development Plan 2041, rencana tata kota pertama dalam empat dekade terakhir.
Sebagian ahli konservasi dan mitigasi bencana meminta pendekatan berbeda. Mereka mendorong pembatasan jumlah wisatawan, pajak turis, penghentian izin hotel baru, hingga penegakan aturan bangunan yang lebih ketat.
Kekhawatiran terbesar muncul dari fakta sederhana kawasan Himalaya memang bukan wilayah yang dirancang untuk menopang urbanisasi masif. Ketika lereng gunung dipaksa memikul hotel, jalan raya, kendaraan, dan jutaan turis sekaligus, risiko keruntuhan menjadi semakin nyata.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/luc) Addsource on Google