Dunia Mulai Tinggalkan Amerika, Mendekat ke China: RI ke Mana?
Jakarta, CNBC Indonesia - Selama dua dekade terakhir, peta perdagangan global berubah drastis. Jika pada awal tahun 2000-an United States masih menjadi pusat perdagangan dunia, kini posisi tersebut mulai digeser oleh China.
Negara yang dulu hanya menjadi pabrik dunia kini berkembang menjadi mitra dagang utama bagi sebagian besar negara di Asia, Afrika, Amerika Selatan, hingga Timur Tengah. Pergeseran ini menunjukkan bahwa pengaruh ekonomi global tidak lagi terpusat di Barat.
Dari Tertinggal Jauh Hingga Jadi Nomor Satu
Pada tahun 2000, total perdagangan Amerika Serikat mencapai sekitar US$2 triliun, lebih dari empat kali lipat perdagangan China yang baru menyentuh US$474 miliar.
Saat itu, hanya segelintir negara yang menjadikan China sebagai mitra dagang utama, seperti Vietnam, Korea Utara, Myanmar, dan Iran. Sebaliknya, pengaruh perdagangan AS mendominasi hampir seluruh dunia.
Â
Namun dalam 24 tahun terakhir, pertumbuhan perdagangan China melesat sangat agresif. Nilai perdagangan China melonjak sekitar 1.200% sejak tahun 2000, dengan pertumbuhan rata-rata tahunan mencapai 11,3%. Sementara perdagangan AS tumbuh 167% dengan rata-rata sekitar 4,2% per tahun. China bahkan resmi melampaui AS sebagai negara dengan total perdagangan terbesar sejak 2012.
Pada 2024, total perdagangan China mencapai sekitar US$6,2 triliun, lebih tinggi dibanding AS yang berada di kisaran US$5,3 triliun.
Sementara itu, Indonesia mengalami perubahan arah perdagangan yang cukup besar dalam dua dekade terakhir. Pada 2000, Indonesia masih lebih banyak berdagang dengan Amerika Serikat.
Namun pada 2025, China menjadi mitra dagang utama Indonesia seiring meningkatnya perdagangan batu bara, nikel, besi baja, serta masuknya investasi dan rantai pasok industri dari China.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pusat gravitasi perdagangan Indonesia kini semakin bergeser ke Asia, khususnya ke China yang menjadi pasar ekspor sekaligus sumber impor utama bagi berbagai sektor industri nasional.
Asia hingga Afrika Kini Lebih Dekat ke China
Melansir dari Visual Capitalist, China kini menjadi mitra dagang dominan bagi banyak negara di Asia, Eropa Timur, Timur Tengah, Oseania, Amerika Selatan, dan Afrika. Negara-negara berkembang mulai memperkuat hubungan ekonomi dengan Beijing, terutama melalui perdagangan komoditas dan manufaktur.
Sebaliknya, pengaruh perdagangan AS kini lebih terkonsentrasi di kawasan Amerika Utara serta sebagian Eropa Barat.
Strategi China dengan Impor Bahan Mentah, Ekspor Barang Jadi
Kekuatan utama China datang dari model ekonominya yang sangat terintegrasi dengan rantai pasok global.
China mengimpor energi, mineral, dan hasil pertanian dari banyak negara berkembang, lalu mengekspor kembali produk manufaktur bernilai tambah tinggi ke pasar global. Strategi ini membuat banyak negara semakin bergantung pada permintaan dan pasar China.
Selain itu, proyek infrastruktur dan jalur perdagangan seperti Belt and Road Initiative turut memperkuat pengaruh ekonomi China di berbagai kawasan dunia.
Perang Tarif Justru Mempercepat Pergeseran
Di tengah meningkatnya tensi dagang antara AS dan China, banyak negara mulai mencoba mendiversifikasi hubungan perdagangan mereka.
Kebijakan tarif tinggi dari pemerintahan Donald Trump terhadap produk China memicu respons balasan dari Beijing dan membuka diskusi global mengenai restrukturisasi rantai pasok dunia.
Meski demikian, data menunjukkan posisi China dalam perdagangan global masih sangat kuat. Banyak negara tetap menjadikan China sebagai pasar utama maupun sumber impor terbesar mereka.
Â
(mae/mae) Addsource on Google