Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk, rupiah kembali mencetak level penutupan terlemah sepanjang sejarah, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mulai melandai.
Volatilitas di pasar keuangan Tanah Air diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan hari ini, Rabu (20/5/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup di level 6.370,68 pada perdagangan Selasa kemarin. Indeks ambles 228,56 poin atau turun 3,46%. Posisi tersebut menjadi level terendah IHSG dalam satu tahun terakhir.
Sepanjang perdagangan, sebanyak 647 saham berakhir di zona merah. Hanya 117 saham yang menguat, sementara 195 saham stagnan.
Aktivitas transaksi terbilang ramai. Nilai transaksi mencapai Rp25,71 triliun, dengan 43,29 miliar saham berpindah tangan dalam 2,77 juta kali transaksi.
Sementara itu, investor asing tercatat melakukan aksi beli atau net buy sebesar Rp260,1 miliar.
Namun, beban terbesar IHSG justru datang dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham BBCA melemah 2,86% dan menyumbang tekanan sekitar 16,39 poin terhadap IHSG.
Selanjutnya, saham-saham yang dihapus dari MSCI seperti Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga ikut menekan indeks. DSSA menyumbang tekanan sekitar 11,46 poin, TPIA sekitar 11,16 poin, dan AMMN sekitar 8,51 poin.
TPIA dan DSSA bahkan tercatat anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) atau turun 15%. Sementara AMMN sempat mendekati zona ARB sebelum akhirnya ditutup melemah.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (19/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp17.695/US$. Meski sedikit menjauh dari area Rp17.700/US$, posisi ini tetap menjadi level penutupan all time low rupiah.
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan pagi, rupiah dibuka melemah tipis 0,06% ke level Rp17.650/US$. Tekanan kemudian sempat semakin dalam hingga rupiah menembus level psikologis Rp17.730/US$ pada perdagangan intraday.
Pelemahan rupiah turut membuat pemerintah ikut bereaksi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum terlalu parah.
Untuk saat ini, pemerintah masih mengandalkan dana dari APBN guna mengendalikan sentimen di pasar surat utang negara, dengan nilai sekitar Rp2 triliun per hari.
Purbaya menjelaskan, pemerintah baru akan menggunakan skema Bond Stabilization Fund (BSF) jika tekanan di pasar sudah jauh lebih berat. Skema tersebut turut melibatkan badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan.
"Ini baru cash management. Kalau framework nanti saya panggil SMV dan lain-lain untuk ikut. Tapi sekarang belum separah itu, keadaannya masih relatif lumayan lah," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dari total dana Rp2 triliun yang disiapkan per hari untuk stabilisasi sentimen di pasar obligasi, Purbaya menyebut dana yang baru terserap untuk intervensi SBN baru sekitar Rp600 miliar.
Menurut Purbaya, jumlah tersebut menunjukkan tekanan jual di pasar SBN belum terlalu besar.
Dari pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun ditutup turun 1,05% ke level 6,779% pada perdagangan Selasa kemarin.
Penurunan yield menunjukkan harga SBN mulai naik karena adanya permintaan di pasar obligasi. Kondisi ini sedikit meredakan tekanan di pasar surat utang, meski secara umum pasar keuangan domestik masih dibayangi pelemahan rupiah, koreksi IHSG, dan penantian terhadap keputusan suku bunga BI.
Bursa saham AS, Wall Street, ditutup melemah pada Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut, karena lonjakan imbal hasil obligasi mengancam pasar bullish.
Pelaku pasar memantau pasar minyak setelah Presiden Donald Trump membatalkan serangan yang direncanakan terhadap Iran.
S&P 500 ditutup turun 0,67% pada 7.353,61, sementara Nasdaq Composite berakhir lebih rendah 0,84% pada 25.870,71. Dow Jones Industrial Average kehilangan 322,24 poin, atau 0,65%, untuk ditutup pada 49.363,88.
Volatilitas di pasar obligasi menambah tantangan baru bagi pasar bullish. Imbal hasil Treasury 30-tahun sempat menembus 5,19% pada hari Selasa, level tertinggi dalam hampir 19 tahun.
Sementara itu, imbal hasil Treasury 10-tahun yang menjadi tolok ukur penting untuk kredit pemilikan rumah, pinjaman mobil, dan utang kartu kredit naik menjadi 4,687% pada satu titik, menandai level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan suku bunga ini terjadi setelah serangkaian laporan pekan lalu menunjukkan inflasi mulai meningkat kembali seiring perang di Iran yang mendorong harga minyak naik.
Tingginya suku bunga pada hal-hal seperti kartu kredit dan KPR bisa membatasi pengeluaran konsumen. Sementara itu, kenaikan suku bunga juga bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan menyoroti valuasi yang sangat tinggi pada beberapa saham chip belakangan ini.
"Para vigilante obligasi sedang bermain sekarang," kata Will McGough, kepala investasi di Prime Capital Financial, kepada CNBC International.
"Semua orang menyadari harga energi tetap tinggi, yang bisa memicu inflasi yang sedikit tertinggal dari kurva."imbuhnya,
Vigilante obligasi adalah investor institusi yang menjual obligasi pemerintah untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan moneter AS yang memicu inflasi.
McGough menambahkan bahwa investor mungkin sedang mengirim pesan bahwa Federal Reserve tertinggal dalam menangani inflasi menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral pada hari Jumat.
"Ada narasi bahwa ketua Fed baru cenderung diuji oleh pasar. Anda bisa melihat para vigilante obligasi jelas sedang mengujinya di sini, jika Anda mempercayai tema itu," kata McGough kepada CNBC.
Harga minyak sedikit turun pada Selasa setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pada Senin malam bahwa dia membatalkan rencana menyerang Iran setelah kepala tiga kekuatan regional di Timur Tengah memintanya untuk menunda.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Juni turun 0,82% menjadi $107,77 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka Brent internasional untuk pengiriman Juli turun 0,73% dan ditutup pada $111,28 per barel.
Kemudian dalam sesi tersebut, AS dilaporkan menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan Republik Islam di Samudra Hindia, menurut tiga pejabat AS yang berbicara dengan The Wall Street Journal.
Nvidia, yang akan melaporkan pendapatan kuartal pertama fiskalnya setelah bel penutupan pada Rabu, ditutup turun hampir 1%. Qualcomm menutup sesi dengan penurunan hampir 4%, sementara Broadcom turun 2%.
"Ini adalah jeda yang layak setelah reli epik," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC.
Menurutnya sekarang ini adalah waktu yang menarik untuk pembalikan, datang hanya beberapa hari perdagangan sebelum saham chip terbesar di dunia melaporkan pendapatan dan panduan yang akan luar biasa.
Sejumlah agenda besar akan menjadi perhatian pasar hari ini. Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia, mencermati rilis APBN KITA, serta agenda Presiden Prabowo Subianto di DPR.
Sementara dari luar negeri, fokus tertuju pada pertumbuhan ekonomi Jepang yang lebih kuat dari perkiraan dan kenaikan tingkat pengangguran Inggris.
1. Suku Bunga Bank Indonesia, Akankah Naik?
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu siang ini (20/5/2026).
Keputusan tersebut menjadi salah satu agenda paling penting yang ditunggu pelaku pasar, terutama di tengah tekanan berat terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik.
Berdasarkan polling CNBC Indonesia, dari 15 lembaga/institusi yang berpartisipasi, sebanyak sembilan lembaga memperkirakan BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%.
Sementara enam lembaga lainnya memproyeksikan BI masih akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
Mayoritas pelaku pasar kini melihat kenaikan suku bunga mulai menjadi skenario utama pada RDG kali ini. Tekanan yang kian berat terhadap nilai tukar rupiah, ditambah meningkatnya risiko eksternal, membuat ruang BI untuk tetap menahan suku bunga semakin sempit.
Pada RDG terakhir di April 2026, BI kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 3,75%, sementara Lending Facility dipertahankan di 5,50%.
Keputusan tersebut menjadi kali ketujuh BI menahan suku bunga acuannya secara berturut-turut.
Jika hasil RDG kali ini sesuai dengan mayoritas konsensus, maka ini akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir. Terakhir kali BI menaikkan suku bunga terjadi pada April 2024, saat bank sentral mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin dari 6,00% menjadi 6,25%.
Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu alasan utama pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga.
Mata uang Garuda terus mencetak level terlemah baru terhadap dolar AS, sementara gejolak eksternal dari perang AS-Iran masih membuat ketidakpastian global tinggi dan menahan harga energi dunia di level yang mahal.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko imported inflation, terutama jika harga minyak terus bertahan tinggi dan rupiah tetap lemah. Di sisi lain, tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga masih terlihat dari pergerakan IHSG dan yield SBN.
Salah satu pihak yang memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga adalah Analis NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama. Menurut dia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi alasan utama BI perlu segera bertindak.
"Naik 25 bps. Rupiah sudah lemah, membentuk all time high baru setiap hari," ujar Ezaridho kepada CNBC Indonesia.
Ezaridho menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi disertai berlanjutnya arus keluar modal, baik dari investor asing maupun domestik.
"Foreign and domestic capital outflow bisa diasumsikan lanjut," lanjutnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Situmorang. Dia menilai urgensi kenaikan suku bunga pada bulan ini sudah semakin terlihat, terutama karena depresiasi rupiah yang makin dalam belum mampu ditahan meski instrumen moneter BI telah diperketat.
"Sejujurnya kami melihat ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga bulan ini," kata Hosianna.
2. APBN KITA, Berapa Defisit?
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit Rp164,4 triliun hingga 30 April 2026. Defisit tersebut setara 0,64% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN ini menyempit dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang mencapai Rp240,1 triliun. Penurunan defisit ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tumbuh dua digit.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan posisi defisit APBN saat ini masih terjaga, terukur, dan sesuai dengan desain APBN 2026. Pembiayaan anggaran juga disebut tetap dikelola secara prudent, efisien, dan fleksibel mengikuti dinamika pasar keuangan.
"Kemarin waktu Maret 0,93%, sekarang kalau 0,64% bulan April. Kalau dikali empat setahun kira-kira 1,8%, tapi kalau cara analis gak gitu. Ini belum nari-nari," kata Purbaya dalam konferensi APBN KITA, Selasa (19/5/2026).
Dari sisi keseimbangan primer, APBN masih mencatat surplus Rp28 triliun hingga akhir April 2026. Sementara itu, realisasi pendapatan negara mencapai Rp918,4 triliun atau tumbuh 13,3%.
Kenaikan pendapatan negara terutama ditopang oleh penerimaan pajak. Realisasi pajak tercatat mencapai Rp646,3 triliun, tumbuh 16,1%. Purbaya juga optimistis pertumbuhan penerimaan perpajakan dapat berlanjut dan mendekati 20% ke depan.
Di sisi belanja, realisasi belanja pemerintah pusat tercatat sudah mencapai 34,4% dari total anggaran tahun ini. Dengan demikian, belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.082 triliun hingga akhir April 2026.
Data APBN ini menjadi perhatian pasar karena dirilis di tengah tekanan pasar keuangan domestik, pelemahan rupiah, dan kenaikan yield SBN.
3.Prabowo Akan Hadiri Sidang Paripurna DPR
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dalam sidang paripurna DPR pada hari ini. Sidang Paripurna ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 tersebut akan digelar pukul 09.00 WIB.
Wakil Ketua DPR Saan Mustopa mengonfirmasi rencana kehadiran Presiden Prabowo dalam sidang tersebut.
"Ya rencananya seperti itu," kata Saan.
Salah satu agenda utama dalam sidang paripurna tersebut adalah penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM PPKF dalam RAPBN 2027.
Berbeda dari biasanya, penyampaian KEM PPKF yang umumnya dilakukan oleh Menteri Keuangan akan disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo.Sebagai catatab, KEM PPKF adalah draft awal atau "bayi" buat pengembangan RAPBN 2027.
Biasanya presiden baru akan menyerahkan langsung draft APBN yang sudah dalam bentuk Nota Keuangan dan RAPBN pada 16 Agustus.
"Diagendakan Presiden langsung yang menyampaikan," kata Saan.
Agenda ini menjadi perhatian pasar karena KEM PPKF akan memberi gambaran awal mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah untuk 2027. Pelaku pasar akan mencermati asumsi makro, arah belanja, target defisit, hingga strategi pembiayaan pemerintah ke depan.
 Foto: Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
|
Selain agenda KEM PPKF, sidang paripurna DPR juga akan memuat laporan Badan Legislasi DPR RI atas evaluasi perubahan kedua Program Legislasi Nasional atau Prolegnas RUU Prioritas 2026, yang dilanjutkan dengan pengambilan keputusan.
DPR juga akan mendengarkan pendapat fraksi atas RUU usul inisiatif Komisi III tentang perubahan atas UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebelum dilanjutkan pengambilan keputusan menjadi RUU usul DPR RI.
4. Ekonomi Jepang Tumbuh 2,1%
Ekonomi Jepang mencatat pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan pada kuartal I-2026.
Data awal dari Cabinet Office Japan menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 2,1% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026.
Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan ekonomi Jepang tumbuh 1,7%. Pertumbuhan ini juga meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 1,3%, atau dalam data revisi lain disebut tumbuh 0,8% pada kuartal IV-2025.
Secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), ekonomi Jepang tumbuh 0,5% pada kuartal I-2026.
Realisasi ini juga lebih baik dari perkiraan pasar sebesar 0,4% dan meningkat dari pertumbuhan 0,3% pada akhir 2025. Jika dibandingkan secara tahunan, produk domestik bruto atau PDB Jepang tumbuh 0,6% year on year/yoy.
Pertumbuhan tersebut menjadi yang tercepat dalam enam kuartal terakhir. Kinerja ekonomi Jepang ditopang oleh konsumsi swasta yang membaik dan ekspor yang masih kuat.
Ekspor Jepang pada Maret 2026 tumbuh 11,5% yoy, lebih tinggi dari perkiraan. Kenaikan ini sebagian ditopang oleh lonjakan pengiriman peralatan semikonduktor sebesar 29,3%.
Selain itu, investasi publik juga kembali meningkat kuat untuk pertama kalinya dalam tiga kuartal. Kenaikan ini didorong oleh belanja infrastruktur dan pengeluaran terkait rekonstruksi. Belanja pemerintah juga naik untuk kuartal kedua berturut-turut, meski laju pertumbuhannya melambat tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, tidak semua komponen menunjukkan penguatan. Belanja modal atau capital expenditure masih tumbuh, tetapi momentumnya melambat signifikan. Biaya pinjaman yang tinggi dan kepercayaan bisnis yang melemah mulai menekan minat investasi korporasi.
Meski data kuartal I terlihat solid, angka tersebut belum sepenuhnya menangkap dampak perang Iran yang dimulai pada akhir Februari. Risiko dari kenaikan harga energi masih menjadi perhatian besar bagi Jepang, mengingat negara tersebut sangat bergantung pada impor energi.
"Meski PDB Jepang tumbuh sehat 0,5% pada kuartal I, kami menilai data kuartal I ini sudah menjadi cerita lama. Ke depan, ekonomi Jepang kemungkinan mulai merasakan tekanan dari tingginya biaya energi," kata Norihiro Yamaguchi, lead Japan economist di Oxford Economics, dikutip dari CNBC International.
Menurut Yamaguchi, dorongan dari ekspor, terutama karena permintaan teknologi informasi yang masih kuat, dapat memberikan dukungan dalam jangka pendek.
Namun, harga energi yang tinggi dan ketidakpastian yang masih besar berpotensi mulai menekan konsumsi dan investasi ke depan.
5. Tingkat Pengangguran Inggris Melonjak
Pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan tekanan baru. Tingkat pengangguran Inggris naik menjadi 5,0% dalam periode tiga bulan hingga Maret 2026.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 4,9% dan juga berada di atas ekspektasi pasar. Data ini menjadi perhatian karena mencerminkan kondisi bulan pertama sejak perang AS-Iran dimulai, yang ikut menambah tekanan terhadap biaya bisnis dan kondisi perekrutan tenaga kerja.
Meski tingkat pengangguran naik, jumlah pengangguran justru turun sebanyak 77.000 orang menjadi 1,806 juta orang. Penurunan ini terutama berasal dari kelompok yang menganggur hingga enam bulan dan kelompok yang menganggur antara enam hingga 12 bulan.
Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah pengangguran Inggris masih naik 192.000 orang. Kenaikan terjadi di seluruh durasi pengangguran.
Di sisi lain, jumlah orang yang bekerja masih bertambah. Total employment naik 148.000 orang menjadi 34,392 juta orang. Kenaikan ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan tambahan 107.000 orang.
Secara tahunan, jumlah pekerja juga meningkat 416.000 orang, ditopang oleh kenaikan pekerja penuh waktu dan paruh waktu, baik dari kelompok karyawan maupun pekerja mandiri.
Sementara itu, jumlah pekerja yang memiliki pekerjaan kedua turun menjadi 1,275 juta orang pada kuartal terbaru. Angka ini setara dengan 3,7% dari total penduduk yang bekerja.
6. Obligasi Masih Diobral
Pasar obligasi AS semakin tertekan karena kekhawatiran inflasi, mendorong imbal hasil Treasury 30-tahun ke 5,2%, tertinggi sejak 2007. Lonjakan ini dipicu oleh perang di Iran, kondisi keuangan pemerintah yang lemah, dan ketakutan kenaikan suku bunga, sehingga investor melepas obligasi.
Perang di Iran memicu guncangan energi global, dengan harga minyak dan gas mencapai level tertinggi empat tahun, memengaruhi harga makanan dan tarif penerbangan. Imbal hasil Treasury 10-tahun, acuan untuk suku bunga hipotek, naik ke 4,67%, menunjukkan investor menuntut kompensasi lebih untuk risiko inflasi.
Kenaikan imbal hasil meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga dan bisnis serta menjadi tekanan bagi pasar saham. Dampaknya tidak hanya di AS; investor global juga menjual obligasi karena kekhawatiran inflasi, dengan imbal hasil UK dan Jepang mencatat level tertinggi sejarah.
Para analis memperingatkan aksi jual obligasi akan terus berlanjut karena kondisi fiskal memburuk, inflasi tinggi, dan bank sentral belum mengambil langkah tegas. Sejak awal perang dengan Iran 80 hari lalu, pasar saham sempat jatuh tapi pulih, sedangkan pasar obligasi tetap tertekan. Lonjakan biaya pinjaman ini menambah kekhawatiran volatilitas pasar global dan bisa membuat investor berpindah dari saham ke obligasi.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat dengan agenda penyampaian KEMPPKF RAPBN Tahun Anggaran 2027 oleh Presiden di Ruang Rapat Paripurna DPR, Senayan, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Ketua DPR
-
Elevate: IFN Indonesia Forum dan Sharia Investment Week 2026 di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan. Turut hadir Pjs Dirut BEI dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK
-
Hari pertama IPA ConVex di BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Turut hadir Presiden dan Menteri ESDM
-
Konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di ruang konferensi pers kantor pusat BI, Jakarta Pusat
-
Public Expose RUPST XLSMART 2026 di XLSMART Tower, Kuningan, Jakarta Selatan
-
Forum Nasional: Indonesia Digital Leap, Akselerasi Ekosistem Data Center, AI, dan Keamanan Siber untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang akan diselenggarakan di Graha Sawala, Gedung Ali Wardhana, Jakarta Pusat. Narasumber: Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian
- Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia
- Inflasi Inggris
- Inflasi Uni Eropa
- China Suku Bunga Acuan
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.