MARKET DATA

Rupiah Loyo Bikin Sakit Kepala, Ternyata Lira Turki Lebih Sengsara

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
18 May 2026 17:40
U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, kinerja rupiah sepanjang tahun ini bukan yang terburuk di dunia, karena masih ada sejumlah mata uang lain yang mencatat pelemahan lebih dalam terhadap dolar AS.

Melansir data Refinitiv, rupiah berakhir di zona merah dengan pelemahan 1,03% ke level Rp17.640/US$ pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026). Posisi tersebut membuat rupiah kembali mencatatkan level penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Rupiah tidak hanya melemah secara harian, tetapi juga tertekan cukup dalam sejak awal tahun.

Secara year to date/YTD hingga perdagangan Senin ini, rupiah sudah melemah 5,82% terhadap greenback. Tekanan tersebut membuat rupiah masuk dalam daftar mata uang dengan tekanan terbesar di dunia sepanjang tahun berjalan.

Namun, apakah rupiah menjadi mata uang terburuk di dunia? Jawabannya tidak.

Meski begitu, posisi rupiah tetap mengkhawatirkan karena masuk dalam daftar 10 besar mata uang dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS secara YTD.

Berdasarkan data yang diperoleh CNBC Indonesia dari Refinitiv, rupiah menempati posisi ke-9 dari 10 mata uang dengan pelemahan terbesar terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan.

Iran dan Venezuela Jadi yang Terburuk

Pelemahan mata uang paling tajam terjadi pada rial Iran. Mata uang Iran ambruk lebih dari 3.000% terhadap dolar AS secara YTD.

Tekanan besar terhadap rial tidak lepas dari eskalasi perang AS-Iran yang mengguncang stabilitas ekonomi dan keuangan negara tersebut.

Konflik yang berkepanjangan membuat risiko terhadap Iran semakin besar, mulai dari sanksi, gangguan perdagangan, tekanan cadangan devisa, hingga runtuhnya kepercayaan pasar terhadap mata uang domestik.

Dalam kondisi seperti ini, permintaan terhadap dolar AS biasanya melonjak karena masyarakat dan pelaku usaha berupaya melindungi nilai asetnya.

Posisi kedua ditempati bolivar Venezuela, yang melemah 70,9% terhadap dolar AS.

Tekanan terhadap bolivar terjadi di tengah gejolak politik dan keamanan setelah operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada awal 2026.

Gejolak politik tersebut menambah tekanan terhadap ekonomi Venezuela yang sebelumnya sudah lama rapuh akibat hiperinflasi, krisis kepercayaan, dan ketergantungan besar terhadap minyak. Ketidakpastian politik membuat bolivar semakin sulit bertahan di hadapan dolar AS.

Lira Turki Juga Tertekan

Selain itu, lira Turki juga masuk daftar mata uang dengan pelemahan terbesar, yakni turun 6,12% secara YTD terhadap greenback.

Tekanan terhadap lira terutama datang dari inflasi yang masih tinggi, kebutuhan stabilisasi nilai tukar, serta tantangan kebijakan moneter Turki.

Bank sentral Turki masih harus menjaga suku bunga di level tinggi untuk meredam tekanan inflasi dan menjaga kepercayaan pasar terhadap lira.

Turki juga termasuk negara yang sensitif terhadap pergerakan harga energi. Ketika harga minyak naik akibat konflik di Timur Tengah, tekanan inflasi berisiko ikut meningkat. Kondisi ini membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi terbatas dan menambah tekanan terhadap lira.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular