MARKET DATA

Boeing Ketiban Untung Besar dari Pertemuan Trump-Xi Jinping

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
16 May 2026 13:00
Boeing. (REUTERS/Benoit Tessier/Pool/File Photo)
Foto: Boeing. (REUTERS/Benoit Tessier/Pool/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing tidak hanya penting bagi hubungan dua negara ekonomi terbesar dunia. Pertemuan itu juga membawa kabar besar bagi raksasa pembuat pesawat asal AS, Boeing.

Boeing berpeluang mendapat pesanan jumbo dari China. Trump mengatakan China sepakat membeli 200 pesawat Boeing. Jumlah itu bahkan berpotensi bertambah hingga 750 unit.

Pesawat tersebut juga disebut akan menggunakan mesin dari GE Aerospace.

Kabar ini menjadi angin segar setelah bisnis Boeing di China sempat tertekan dalam beberapa tahun terakhir. China merupakan salah satu pasar penting bagi Boeing, tetapi ketegangan dagang, masalah geopolitik, dan persaingan dengan Airbus membuat pesanan dari Negeri Tirai Bambu tersendat.

Jika terealisasi, pembelian 200 pesawat itu bisa menjadi pesanan besar pertama Boeing dari China dalam hampir satu dekade. Nilai kesepakatan ini diperkirakan berada di kisaran US$17 miliar sampai US$19 miliar. Nilainya bahkan bisa mendekati US$25 miliar jika China membeli lebih banyak pesawat berbadan lebar.

Pesanan ini juga akan menambah daftar penjualan Boeing dan membuka peluang perusahaan untuk kembali memperkuat posisi di pasar China. Selama ini, pasar penerbangan China menjadi arena persaingan ketat antara Boeing dan Airbus.

Kebutuhan pesawat baru di China juga masih besar. Jumlah penumpang terus meningkat, sementara produksi pesawat buatan dalam negeri seperti COMAC C919 belum cukup besar untuk memenuhi seluruh kebutuhan pasar.

Sinyal Boeing akan ikut diuntungkan sudah terlihat sebelum pertemuan Trump-Xi digelar. CEO Boeing Kelly Ortberg ikut dalam rombongan bisnis Trump ke China. Setelah pertemuan, Ortberg dan CEO GE Aerospace Larry Culp juga bertemu dengan pejabat Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China.

Namun, pasar belum sepenuhnya puas. Saham Boeing sempat melemah setelah kabar pembelian 200 pesawat muncul.

Salah satu penyebabnya, pelaku pasar sebelumnya berharap jumlah pesanan bisa lebih besar. Sebelum pengumuman tersebut, sempat muncul ekspektasi bahwa China dapat membeli sekitar 500 pesawat.

Pengiriman Pesawat Naik, Boeing Kembali Cetak Untung

Pemulihan Boeing sudah mulai terlihat dari kinerja 2025. Sepanjang tahun lalu, perusahaan berhasil mengirimkan 600 pesawat komersial kepada pelanggan global. Jumlah ini menjadi capaian tertinggi sejak 2018.

Angka itu jauh lebih baik dibandingkan 2024, ketika Boeing hanya mengirimkan 348 pesawat. Kenaikan pengiriman menunjukkan aktivitas produksi mulai berjalan lebih stabil setelah sebelumnya terganggu oleh masalah produksi, pengawasan regulator, dan rantai pasok.

Pengiriman pesawat menjadi indikator penting karena pendapatan besar biasanya baru benar-benar masuk ketika pesawat diserahkan kepada pelanggan. Semakin banyak pesawat yang dikirim, semakin besar pula peluang perusahaan memperbaiki arus kas dan kinerja keuangan.

Pemulihan juga terlihat dari laporan keuangan. Boeing mencatat pendapatan tahun penuh 2025 sebesar US$89,5 miliar, naik 34% dibandingkan 2024. Perusahaan juga berhasil berbalik untung setelah sebelumnya mencatat kerugian besar.

Pada 2024, Boeing mencatat rugi bersih US$11,88 miliar. Namun pada 2025, perusahaan berhasil membukukan laba bersih US$1,89 miliar. Ini menjadi sinyal bahwa tekanan yang menghantam Boeing dalam beberapa tahun terakhir mulai mereda.

Total backlog Boeing juga naik ke rekor US$682 miliar, terutama ditopang oleh 1.173 net order pesawat komersial sepanjang 2025. Backlog adalah daftar pesanan yang sudah masuk, tetapi belum seluruhnya dikirim kepada pelanggan.

Tambahan order dari China bisa memperkuat momentum pemulihan Boeing. Pasalnya, China merupakan salah satu pasar penerbangan terbesar di dunia.

Dengan jumlah penduduk besar, aktivitas ekonomi luas, dan kebutuhan transportasi udara yang terus meningkat, maskapai China membutuhkan banyak pesawat baru untuk membuka rute, menambah frekuensi penerbangan, dan mengganti armada lama.

Boeing Kerap Jadi Bagian dari Kesepakatan Dagang AS

Masuknya Boeing dalam hasil pertemuan Trump-Xi juga menunjukkan kemiripan pada cara diplomasi dagang Amerika Serikat. Washington beberapa kali memasukkan pembelian pesawat Boeing dalam paket kesepakatan ekonomi dengan negara lain.

Sebelumnya, Indonesia juga memasukkan komitmen pembelian 50 pesawat Boeing dalam kesepakatan dagang dengan AS. Dalam perjanjian tersebut, terdapat paket pembelian dari Indonesia ke AS, termasuk pengadaan pesawat komersial serta barang dan jasa terkait penerbangan senilai sekitar US$13,5 miliar, termasuk dari Boeing.

Pola serupa juga terlihat di sejumlah negara Asia lain. Vietnam memiliki kesepakatan membeli 50 pesawat Boeing dengan nilai lebih dari US$8 miliar.

Malaysia mencantumkan rencana pembelian 30 pesawat Boeing, disertai opsi pembelian tambahan 30 unit. Sementara Uzbekistan memiliki kontrak pembelian hingga 22 pesawat Boeing 787 Dreamliner dengan nilai US$8,5 miliar.

Artinya, Boeing bukan hanya perusahaan pembuat pesawat. Dalam banyak kesepakatan dagang AS, perusahaan ini juga menjadi bagian dari strategi Washington untuk mendorong ekspor barang bernilai tinggi.

Industri Pesawat Penting bagi Ekonomi dan Lapangan Kerja AS

Pesawat merupakan salah satu produk ekspor strategis Amerika Serikat. Nilainya besar, teknologinya tinggi, dan dampaknya luas ke industri dalam negeri.

Pada 2024, nilai ekspor sektor aerospace and defense AS mencapai US$138,6 miliar. Sektor ini juga mencatat surplus dagang US$73,9 miliar. Artinya, AS menjual produk kedirgantaraan ke luar negeri jauh lebih besar dibandingkan produk serupa yang diimpor dari negara lain.

Dampaknya juga terasa ke lapangan kerja. Industri manufaktur pesawat AS mempekerjakan sekitar 254,3 ribu orang pada 2024.

Jika dihitung lebih luas ke industri aerospace, ada 545.400 pekerjaan langsung dan total sekitar 1,6 juta pekerjaan yang ikut ditopang oleh rantai pasok dan konsumsi rumah tangga.

Hal ini membuat pesanan pesawat dari luar negeri punya dampak besar bagi ekonomi AS. Ketika Boeing mendapat pesanan besar, efeknya tidak hanya terasa di perusahaan, tetapi juga ke pemasok komponen, pekerja pabrik, perusahaan logistik, hingga berbagai bisnis pendukung lain.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular