MARKET DATA

Perang Belum Usai, Harga Minyak Dunia Terbang 10% Dalam Sepekan!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
16 May 2026 10:15
Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman
Foto: Infografis/ Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melesat tajam sepanjang pekan ini. Pasar kembali mencemaskan risiko gangguan pasokan energi akibat perang Iran dan ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Merujuk data Refinitiv, harga minyak mentah Brent ditutup di posisi US$109,26 per barel pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Harga tersebut naik 3,35% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih tinggi sebesar 4,2% ke level US$105,42 per barel,

Kenaikan pada perdagangan Jumat membuat harga minyak dunia mencatat penguatan tajam secara mingguan. Dalam sepekan, Brent melesat 7,87%, sedangkan WTI terbang 10,48%.

Kenaikan harga minyak masih dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global. Negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali buntu, sehingga Selat Hormuz masih tertutup dan pasokan minyak dunia semakin ketat.

Harga minyak terus menanjak setelah AS dan Iran sama-sama menolak proposal damai terbaru untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung sekitar 10 pekan. Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut respons Iran terhadap proposal damai AS sebagai "sampah" dan mengatakan gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi kritis.

Trump juga menyatakan Iran harus membuat kesepakatan atau akan dihancurkan. Di sisi lain, AS disebut berpeluang kembali mengawal kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz dengan dukungan angkatan laut dan udara.

Selat Hormuz menjadi titik penting karena sekitar seperlima minyak dan gas alam cair atau LNG dunia melewati jalur tersebut. Karena itu, penutupan jalur ini langsung membuat pasar khawatir pasokan energi global akan semakin ketat.

International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulanannya juga menyebut persediaan minyak global turun sekitar 4 juta barel per hari pada Maret dan April. IEA memperkirakan pasar minyak masih akan sangat kekurangan pasokan hingga Oktober, bahkan jika konflik berakhir bulan depan.

Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak di Teluk Persia telah terpangkas sekitar 14,5 juta barel per hari akibat gangguan tersebut.

Gangguan ini juga disebut telah menguras hampir 500 juta barel dari stok minyak mentah global dan berpotensi mencapai 1 miliar barel pada Juni.

Faktor lain yang ikut menopang harga adalah terganggunya pasokan dari Rusia.

Pertemuan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina kembali berakhir tanpa hasil, sehingga pembatasan terhadap minyak Rusia berpeluang tetap berlaku.

Serangan drone dan rudal Ukraina juga terus menyasar fasilitas energi Rusia. Dalam sepuluh bulan terakhir, sedikitnya 30 kilang Rusia menjadi target serangan, sehingga kemampuan ekspor minyak Rusia ikut terganggu.

Meski begitu, kenaikan harga minyak sebenarnya masih dibayangi rencana OPEC untuk melanjutkan kenaikan kuota produksi dalam beberapa bulan ke depan. Namun, rencana tersebut belum cukup menekan harga karena produsen Timur Tengah justru menghadapi gangguan produksi akibat perang dan penutupan Selat Hormuz.

Data persediaan energi AS juga menunjukkan pasar masih ketat. Persediaan minyak mentah AS berada 0,3% di bawah rata-rata lima tahun, stok bensin 4,3% di bawah rata-rata lima tahun, dan persediaan distilat 9,4% di bawah rata-rata lima tahun.

Kondisi ini membuat harga minyak masih rentan bergerak tinggi. Selama perang Iran belum mereda dan Selat Hormuz belum kembali normal, pasar masih akan memasukkan premi risiko geopolitik ke harga minyak.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular