MARKET DATA

AI Disebut Jadi Penyebab Anak Coding Sulit Cari Kerja

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
15 May 2026 17:00
Artificial Intelligence (AI). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Foto: Artificial Intelligence (AI). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia- Gelar sarjana dulu dianggap tiket aman masuk pasar kerja. Untuk lulusan ilmu komputer di Amerika Serikat, asumsi itu mulai goyah. Dalam tiga tahun terakhir, tingkat penyerapan kerja penuh waktu bagi lulusan bidang komputer turun tajam, beriringan dengan ledakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Laporan terbaru The Economist memotret perubahan yang mulai terasa di bebberapa universitas Amerika.

Mahasiswa tingkat akhir kini menghadapi pasar kerja yang jauh lebih dingin dibanding angkatan sebelum pandemi. Posisi entry-level berkurang, rekrutmen kampus menyusut, sementara perusahaan mulai mengandalkan AI untuk pekerjaan teknis dasar yang sebelumnya menjadi pintu masuk lulusan baru.

Data dari platform pencarian kerja mahasiswa Handshake memperlihatkan lowongan kerja untuk mahasiswa dan fresh graduate anjlok 50% dibanding puncaknya pada 2022.

Survei terhadap lulusan baru juga memperlihatkan suasana yang suram. Kurang dari 20% lulusan merasa saat ini adalah waktu yang baik untuk mencari pekerjaan layak. Angka itu menjadi yang terendah dalam lebih dari satu dekade.

AI menjadi tersangka utama dalam perubahan ini. Lebih dari separuh perusahaan mengaku sudah mempertimbangkan mengganti pekerja level awal dengan teknologi AI. Kekhawatiran itu terasa kuat di kalangan generasi muda. Survei Institute of Politics milik Harvard Kennedy School menemukan lebih dari 50% anak muda Amerika melihat AI sebagai ancaman terhadap prospek kerja mereka.

Bidang yang paling terpukul justru datang dari jurusan yang selama ini dianggap paling menjanjikan, ilmu komputer, teknik komputer, dan information science.

Analisis The Economist menggunakan data National Association of Colleges and Employers menunjukkan lulusan dari jurusan dengan paparan AI tertinggi mengalami penurunan penyerapan kerja penuh waktu sebesar 6,6 poin persentase dalam periode 2022-2024.

Sebaliknya, jurusan dengan paparan AI rendah seperti pendidikan, filsafat, dan teknik sipil hanya turun sekitar 1,5 poin persentase. Selisihnya cukup lebar. Perubahan ini muncul setelah kemunculan model AI generatif seperti ChatGPT pada akhir 2022.

The Economist kemudian memperbarui data untuk angkatan 2025 menggunakan informasi dari 13 universitas di Amerika. Hasilnya memperlihatkan tren belum berhenti. Tingkat pekerjaan penuh waktu untuk lulusan bidang komputer turun dari hampir 70% menjadi sekitar 55% hanya dalam tiga tahun. Sebelum era ChatGPT, angka itu relatif stabil.

Ekonom sebenarnya belum sepenuhnya sepakat soal dampak AI terhadap lapangan kerja. Penelitian Erik Brynjolfsson dari Stanford University pada 2025 menemukan lapangan kerja pekerja muda di sektor yang terpapar AI turun 16% dibanding sektor lain. Software development masuk dalam kategori paling terdampak.

Namun ada penelitian lain dari ekonom Google, Zanna Iscenko dan Fabien Curto Millet, yang melihat penurunan lowongan kerja sebenarnya terjadi pada pekerja junior maupun senior secara bersamaan. Mereka menilai tren pelemahan pasar kerja teknologi sudah muncul sebelum ChatGPT diluncurkan.

Meski begitu, arah perubahan mulai terlihat di dunia pendidikan. Data National Student Clearinghouse menunjukkan jumlah mahasiswa undergraduate ilmu komputer turun 11% sepanjang 2025. Jurusan computer programming yang lebih fokus pada kemampuan coding praktis turun lebih dalam lagi, mencapai 26%.

Perubahan kebutuhan industri ikut menggeser pola kerja lulusan komputer. Aktivitas menulis kode kini makin banyak dibantu AI. Perusahaan mulai mencari lulusan yang mampu merancang sistem, mengatur arsitektur software, dan memahami integrasi teknologi secara lebih strategis.

Lana Yarosh, Direktur Undergraduate Studies bidang ilmu komputer di University of Minnesota, menyebut kecemasan mahasiswa memang wajar. Menurutnya, ilmu komputer selalu berubah cepat dari masa ke masa. Bedanya, kali ini perubahan datang lebih agresif dan langsung menyentuh pasar kerja lulusan baru.

Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi dunia pendidikan global. AI belum menghapus profesi teknologi, tetapi mulai mengubah struktur pekerjaan level awal. Jalur karier lulusan coding yang dulu terlihat lurus kini menjadi jauh lebih kompetitif.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular