MARKET DATA

Harga Batu Bara Ambles, Kabar dari India Bisa Jadi Penyelamat?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
14 May 2026 10:15
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam nege
Foto: Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali melemah dan melanjutkan koreksi dua hari beruntun. Merujuk data Refinitiv, harga batu bara kontrak Juni ditutup di posisi US$133,9 per ton pada perdagangan Rabu (13/5/2026).

Harga tersebut melemah 1,4% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di US$135,8 per ton. Pelemahan ini lebih dalam dibandingkan koreksi pada Selasa yang sebesar 0,44%.

Dengan penurunan tersebut, harga batu bara sudah melemah dua hari beruntun. Harga juga semakin menjauh dari posisi US$136,4 per ton yang dicatat pada perdagangan Senin (11/5/2026).

Tekanan terhadap harga batu bara masih datang dari China. Sentimen pasar batu bara termal domestik di area tambang atau mine-mouth mulai mendingin, seiring meningkatnya sikap hati-hati pelaku pasar.

Momentum kenaikan yang sebelumnya sempat terlihat mulai tertahan di sejumlah sentra produksi.

Kondisi ini menunjukkan pembeli mulai tidak agresif mengejar harga. Pelaku pasar cenderung menunggu arah permintaan yang lebih jelas sebelum kembali melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Di sisi lain, penjual juga belum banyak memangkas harga. Harga penawaran masih bergerak dalam rentang terbatas karena sebagian penjual masih berusaha mempertahankan margin di tengah biaya pasokan yang belum rendah.

Namun, ruang kenaikan harga mulai terbatas. Aktivitas transaksi di pasar fisik tidak terlalu ramai, sementara permintaan dari konsumen akhir belum cukup kuat untuk mendorong harga naik lebih jauh.

Sikap hati-hati pembeli juga muncul karena persediaan batu bara di sejumlah pengguna akhir masih relatif tercupi. Kondisi ini membuat kebutuhan untuk melakukan pembelian tambahan belum terlalu mendesak.

Selain itu, pasar juga masih menunggu kenaikan konsumsi listri. Permintaan batu bara biasanya meningkat saat kebutuhan listrik naik, terutama ketika suhu udara lebih panas dan penggunaan pendingin ruangan meningkat.

India Beri Kabar Baik

Di tengah tekanan dari China, pasar batu bara mendapat kabar positif dari India. Pemerintah India menyetujui skema senilai 375 miliar rupee atau sekitar US$3,92 miliar untuk mendorong proyek gasifikasi batu bara.

Menteri Informasi India Ashwini Vaishnaw mengatakan kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan India terhadap bahan bakar impor, sekaligus mengarahkan batu bara domestik ke penggunaan industri yang lebih bersih.

Gasifikasi batu bara merupakan proses mengubah batu bara menjadi gas sintetis. Gas ini dapat digunakan untuk pembangkit listrik, pupuk, petrokimia, dan berbagai kebutuhan industri lainnya.

Kebijakan ini diharapkan bisa menekan impor liquefied natural gas atau LNG, urea, amonia, dan metanol India. Hal ini menjadi penting karena impor gas India ikut terdampak krisis di Timur Tengah.

India memiliki salah satu cadangan batu bara terbesar di dunia, yakni sekitar 401 miliar ton dan cadangan lignit sebesar 47 miliar ton. Pemerintah India menargetkan gasifikasi sekitar 75 juta metrik ton batu bara per tahun.

Skema tersebut juga diperkirakan dapat menarik investasi sekitar 3 triliun rupee. Dalam rencana tersebut, pemerintah akan memberikan bantuan keuangan sekitar 20% dari biaya pabrik dan mesin.

Kabar ini menjadi angin segar bagi pasar batu bara karena dapat memperluas basis permintaan India.

Dengan gasifikasi, batu bara tidak hanya diserap oleh pembangkit listrik, tetapi juga masuk ke kebutuhan industri seperti pupuk, petrokimia, dan bahan bakar sintetis. Artinya, konsumsi batu bara India berpeluang tetap besar dalam jangka menengah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular