Perang Iran Kuras Kantong Warga AS, Ongkos BBM Tembus Rp600 Triliun
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Warga Amerika Serikat (AS) menjadi korban dari perang yang dipimpin Donald Trump. Perang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel bahkan menurunkan daya beli masyarakat Amerika Serikat.
Sebuah studi dari Brown University menyebut konflik tersebut telah menyebabkan warga AS membayar lebih dari US$37,3 miliar atau sekitar Rp 652, 75 triliun akibat lonjakan harga energi.
Kenaikan biaya ini terjadi sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran. Konflik yang berlanjut hingga kini memicu gangguan besar di pasar energi global, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz.
Warga AS Bayar Mahal untuk BBM dan Diesel
Berdasarkan Iran War Energy Cost Tracker milik Brown University, mayoritas tambahan biaya yang ditanggung warga AS berasal dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan diesel.
Pemimpin proyek studi tersebut, Jeff Colgan, mengatakan kenaikan biaya ini langsung membebani konsumen AS sehari-hari.
Menurutnya, masyarakat kini harus mengeluarkan uang lebih besar untuk kebutuhan transportasi, termasuk perjalanan jauh dan liburan musim panas. Harga bensin di AS kini telah melampaui US$4,5 per galon (sekitar 3,7 liter) atau melonjak lebih dari 50% dibanding sebelum perang dimulai.
Penutupan Selat Hormuz Picu Kekacauan Energi Global
Lonjakan harga energi tersebut dipicu oleh keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai bentuk balasan terhadap serangan AS dan Israel.
Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sehingga gangguan yang terjadi pada Selat Hormuz akan membuat distribusi minyak global terganggu dan menekan rantai pasok global.
Tak hanya itu, Iran juga menyerang infrastruktur energi milik sekutu Arab AS di kawasan Teluk.
Pada tanggal 18 Maret, Iran meluncurkan misilnya ke Ras Laffan di Qatar yang merupakan pusat produksi gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Serangan tersebut memperburuk tekanan terhadap pasokan energi dunia dan meningkatkan biaya logistik serta pengiriman internasional.
Akibatnya, lonjakan harga minyak dan bahan bakar kini tak hanya dirasakan oleh negara-negara produsen energi, tetapi juga langsung membebani konsumen global, terutama masyarakat AS yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi.
(mae/mae) Addsource on Google