MARKET DATA

Setelah Bangkit, ke Mana Yesus Pergi? Catatan 40 Hari Menurut Alkitab

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
14 May 2026 07:00
Hari Raya Kenaikan Tuhan (Yesus Kristus). (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)
Foto: Hari Raya Kenaikan Tuhan (Yesus Kristus). (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pagi itu Yerusalem belum benar-benar tenang. Salib masih menyisakan trauma. Para murid bersembunyi di balik pintu terkunci. Beberapa kembali ke pekerjaan lama sebagai nelayan. Ada yang percaya kubur kosong, ada yang belum mampu menerima kenyataan bahwa guru mereka telah bangkit.

Di tengah suasana itu, tradisi Perjanjian Baru mencatat satu fase penting yang berlangsung selama 40 hari, Yesus menampakkan diri berulang kali kepada para murid dan pengikut-Nya sebelum kenaikan ke surga.

Rangkaian penampakan ini tercatat dalam Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, hingga surat Paulus kepada jemaat Korintus.

Bagi sejarah Kekristenan, periode 40 hari tersebut menjadi fondasi besar. Dari fase inilah muncul keyakinan tentang kebangkitan tubuh, lahirnya keberanian para rasul, sampai penyebaran Injil keluar dari Yudea menuju dunia Romawi.

Menurut catatan Injil, penampakan pertama terjadi kepada Maria Magdalena di dekat kubur pada Minggu pagi. Injil Yohanes menggambarkan Maria menangis di depan makam kosong sebelum melihat Yesus berdiri di dekatnya. Awalnya ia tidak mengenali sosok itu. Setelah Yesus memanggil namanya, Maria baru sadar bahwa gurunya hidup kembali.

Peristiwa itu punya bobot besar dalam tradisi gereja mula-mula. Kesaksian pertama justru datang dari seorang perempuan, pada masa ketika kesaksian perempuan di dunia Romawi dan Yahudi belum dianggap kuat secara hukum. Narasi itu tetap dipertahankan dalam Injil, sesuatu yang sering dianggap para peneliti sebagai tanda bahwa cerita tersebut diwariskan apa adanya oleh komunitas awal Kristen.

Sesudah Maria Magdalena, Injil Matius mencatat Yesus menampakkan diri kepada perempuan-perempuan lain yang pulang dari kubur. Mereka disebut berlari dengan campuran takut dan sukacita. Di tengah perjalanan, Yesus menyapa mereka dan meminta menyampaikan kepada para murid agar pergi ke Galilea.

Lalu muncul penampakan kepada Simon Petrus. Detail perjumpaan ini tidak dijelaskan panjang dalam Injil, tetapi disebut dalam Lukas dan ditegaskan lagi oleh Paulus dalam 1 Korintus 15. Bagi gereja mula-mula, momen ini penting karena Petrus sebelumnya menjadi murid yang menyangkal Yesus tiga kali menjelang penyaliban.

Setelah itu, dua murid yang berjalan menuju Emaus mengalami perjumpaan lain yang terkenal dalam Injil Lukas. Mereka berbicara dengan seorang asing di perjalanan tanpa menyadari itu Yesus sendiri. Baru ketika Yesus memecah-membagi roti saat makan malam, mereka mengenali-Nya. Kisah ini kemudian menjadi salah satu simbol paling kuat dalam tradisi Kristen mengenai harapan di tengah keputusasaan.

Pada malam yang sama, Yesus menampakkan diri kepada sepuluh murid di ruang tertutup. Yohanes menggambarkan suasana penuh ketakutan. Para murid mengunci pintu karena takut kepada otoritas Yahudi dan Romawi. Dalam perjumpaan itu, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya.

Bagian ini menjadi salah satu inti utama narasi kebangkitan, tubuh Yesus dianggap bangkit secara fisik. Injil Lukas bahkan mencatat Yesus meminta makanan lalu makan ikan panggang di depan para murid.

Delapan hari kemudian muncul kisah paling terkenal tentang keraguan murid, yakni pengalaman Thomas. Ia sebelumnya menolak percaya sebelum menyentuh luka Yesus secara langsung. Ketika Yesus kembali datang, Thomas akhirnya berkata, "Ya Tuhanku dan Allahku."

Di luar Yerusalem, Injil Yohanes juga mencatat penampakan di Danau Tiberias atau Galilea. Tujuh murid kembali menangkap ikan setelah masa-masa kacau pasca-penyaliban. Mereka gagal mendapatkan ikan sepanjang malam sebelum Yesus muncul di tepi pantai dan meminta jala ditebarkan kembali. Hasil tangkapan besar lalu muncul.

Adegan sarapan di tepi danau menjadi salah satu bagian paling manusiawi dalam seluruh catatan kebangkitan. Di sana Yesus makan bersama para murid dan berbicara khusus kepada Petrus. Tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi-Nya. Tiga kali pula Petrus menjawab ya. Dalam tradisi gereja, percakapan itu dipahami sebagai pemulihan setelah penyangkalan Petrus saat malam penangkapan Yesus.

Surat Paulus kepada jemaat Korintus menambahkan catatan lain yang tidak dijelaskan detail dalam Injil, Yesus pernah menampakkan diri kepada lebih dari 500 orang sekaligus. Paulus menulis sebagian besar dari mereka masih hidup pada saat surat itu dibuat, seolah membuka ruang verifikasi bagi pembaca pada zamannya.

Paulus juga menyebut penampakan kepada Yakobus. Banyak peneliti menganggap momen ini berpengaruh besar karena Yakobus kemudian menjadi pemimpin penting jemaat Yerusalem, padahal Injil sebelumnya memberi kesan, keluarga Yesus sempat meragukan pelayanan-Nya.

Puncak dari seluruh rangkaian itu terjadi menjelang kenaikan ke surga. Dalam Injil Matius dan Kisah Para Rasul, Yesus memberi amanat terakhir kepada para murid agar memberitakan Injil ke seluruh bangsa. Dari titik inilah gerakan kecil di Yudea berkembang menjadi agama global dalam beberapa abad berikutnya.

Catatan Injil memperlihatkan penampakan tersebut memiliki tujuan 

Membuktikan Kebangkitan Fisik

Dunia kuno mengenal banyak cerita tentang roh dan penampakan spiritual. Karena itu Injil berkali-kali menekankan detail fisik: tangan yang terluka, lambung yang disentuh, hingga ikan panggang yang dimakan di depan para murid.

Fokus utamanya ada pada keyakinan kebangkitan dipahami sebagai peristiwa nyata.

Ayat: Lukas 24:36-43, Yohanes 20:20

Menghilangkan Ketakutan Para Murid

Sesudah penyaliban, para murid tercerai-berai dan kehilangan arah. Mereka bersembunyi, takut ditangkap, bahkan kembali ke pekerjaan lama.

Dalam waktu singkat setelah pengalaman penampakan tersebut, kelompok yang sama berubah menjadi pemberita Injil yang bergerak ke berbagai wilayah Romawi.

Ayat: Yohanes 20:19-29

Memberikan Pengajaran Terakhir

Kisah Para Rasul menyebut Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah selama 40 hari. Injil Lukas mencatat bahwa Ia membuka pikiran para murid agar memahami Kitab Suci.

Fase ini menjadi fondasi awal ajaran gereja mula-mula mengenai Mesias, kebangkitan, dan pengampunan dosa.

Ayat: Kisah Para Rasul 1:3, Lukas 24:44-45

Memberikan Amanat Penyebaran Injil

Sebelum kenaikan ke surga, Yesus meminta para murid pergi ke seluruh bangsa dan menjadi saksi-Nya.

Dari titik inilah gerakan kecil di Yerusalem berkembang menjadi agama global dalam beberapa abad berikutnya.

Ayat: Matius 28:19-20, Kisah Para Rasul 1:8

Memulihkan Petrus

Injil Yohanes mencatat percakapan Yesus dengan Petrus di tepi Danau Galilea. Tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi-Nya.

Peristiwa itu dipahami sebagai pemulihan setelah Petrus tiga kali menyangkal Yesus sebelum penyaliban.

Ayat: Yohanes 21:15-19

Catatan Kisah Para Rasul menyebut seluruh rangkaian penampakan itu berlangsung selama 40 hari. Angka 40 sendiri punya makna simbolik kuat dalam tradisi Yahudi. Musa berada 40 hari di Gunung Sinai. Bangsa Israel berjalan 40 tahun di padang gurun. Yesus berpuasa 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya.

Dalam pola Alkitab, angka tersebut sering dikaitkan dengan masa transisi dan persiapan menuju fase baru.

Ada pula dimensi sosial dan politik yang sering luput dibahas. Pada abad pertama, penyaliban adalah simbol kekalahan dan penghinaan dalam dunia Romawi. Namun narasi kebangkitan mengubah makna tersebut. Dari ruang tertutup di Yerusalem, komunitas kecil para murid kemudian bergerak keluar menuju Antiokhia, Asia Kecil, Yunani, hingga Roma.

Dalam tradisi Kristen modern, masa antara Paskah dan Kenaikan Yesus masih diperingati sebagai periode refleksi mengenai harapan, pemulihan, dan penguatan iman. Narasi 40 hari itu bertahan hampir dua ribu tahun karena dianggap menjadi jembatan antara salib di Golgota dan lahirnya gereja mula-mula.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular