Vietnam Makin Jago Tarik Turis Asing, Bikin Indonesia Ketar-Ketir
Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor pariwisata Vietnam resmi mengubah fokus strateginya secara signifikan. Negara tersebut kini beralih fokus dari target volume kunjungan turis asing menjadi peningkatan jumlah pengeluaran dan kunjungan berulang.
Para pelaku bisnis dan pembuat kebijakan gencar merilis produk pariwisata kelas atas serta memperbaiki infrastruktur untuk memacu pendapatan.
Pergeseran Menuju Layanan Kelas Atas
Strategi baru ini dirancang agar wisatawan bersedia menetap lebih lama dan membelanjakan dana lebih besar per kapita. Untuk mencapai hal tersebut, Vietnam mempercepat pengembangan layanan pariwisata berkualitas tinggi, investasi di sektor penerbangan dan akomodasi, serta kampanye pemasaran yang lebih terarah.
Sebagai wujud nyata transformasi ini, fasilitas kelas atas mulai dihadirkan di berbagai destinasi utama. Di Kota Ho Chi Minh, layanan tur helikopter kini dibanderol mulai dari Rp 1,91 juta hingga Rp 12,52 juta per orang (asumsi kurs Rp 17.370/US$). Fasilitas ini menawarkan panorama udara kota, garis pantai Vung Tau, dan cagar biosfer Can Gio bagi turis yang mencari pengalaman eksklusif.
Wakil Kepala Eksekutif Vina Group International Travel Nguyen Minh Man mengatakan, integrasi antara tur helikopter dan kapal pesiar menegaskan transisi menuju pariwisata premium untuk menyambut musim panas 2026. Beberapa perusahaan juga mempertimbangkan penambahan fasilitas golf untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang komprehensif.
Di Nha Trang, layanan seperti selam scuba, wisata jalan di dasar laut, sewa kapal cepat pribadi, dan paket resor ditawarkan dalam satu format terintegrasi. Setiap layanan ini diproyeksikan mampu mendongkrak pengeluaran jutaan dong.
Sementara itu di Da Nang, atraksi pariwisata diperluas melampaui Ba Na Hills dengan mencakup restoran mewah dan pelayaran sungai. Ibu kota Hanoi turut membidik segmen pengeluaran tinggi melalui tur privat dan akomodasi mewah.
Foto: Bendera Vietnam berkibar di atas balai kota di belakang patung Ho Chi Minh di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, Jumat, 12 Januari 2024. (AP/Jae C. Hong/File Foto) |
Target Pendapatan dan Transformasi Infrastruktur
Sepanjang tahun lalu, Vietnam mencatatkan 21,5 juta kunjungan internasional dan 135,5 juta perjalanan domestik dengan total pendapatan menembus Rp 659,19 triliun. Pada 2026, Vietnam menargetkan kedatangan 25 juta turis asing, 150 juta pelancong domestik, dan total pendapatan mencapai Rp 741,7 triliun.
Perwakilan hotel mewah Fairmont Hanoi memaparkan, tantangan utama saat ini adalah merancang produk yang sesuai dengan masing-masing segmen turis.
Pengeluaran wisatawan akan meningkat secara otomatis apabila pengalaman yang didapat unik dan bermakna. Permintaan kini juga meluas ke layanan kesehatan dan eksplorasi budaya yang terbukti dapat memperpanjang durasi kunjungan.
Pakar industri mengingatkan bahwa kinerja pariwisata tidak bisa lagi diukur dari jumlah pengunjung saja. Merespons hal tersebut, Bandara Internasional Phu Quoc kini bertransformasi menjadi bandara destinasi yang memadukan ritel dan layanan premium, mengadopsi model yang diterapkan Bandara Changi di Singapura.
Wakil Kepala Eksekutif Bamboo Airways Vo Huy Cuong menambahkan, perluasan rute penerbangan menjadi kunci untuk mendongkrak minat ke destinasi yang masih sepi. Ketua Rakso Holdings Jung Jinwoo juga menyoroti bahwa masih banyak turis asal Korea Selatan yang belum menyadari potensi wilayah Quy Nhon yang setara dengan destinasi populer lainnya.
Tantangan Regulasi dan Promosi Global
Pendiri MQL Sustainable Tourism Services Miquel Angel P. Martorell mencatat, tingkat kunjungan berulang pariwisata Vietnam masih kalah dibandingkan beberapa negara Asia Tenggara lain. Kepadatan di masa liburan yang memicu kemacetan dan lonjakan harga masih menjadi keluhan utama. Selain itu, manajemen limbah yang buruk bisa merusak citra pariwisata jika tidak segera dibenahi.
Dari sisi aturan, pakar penerbangan Luong Hoai Nam mendorong pemerintah untuk merilis visa khusus bagi investor, pekerja jarak jauh, pensiunan, dan pelajar jangka pendek demi menarik pengunjung bernilai ekonomi tinggi.
Meski demikian, efektivitas promosi pengalaman unik terbukti lewat kesuksesan Gua Son Doong. Gua terbesar di dunia yang berlokasi di Taman Nasional Phong Nha-Ke Bang ini viral setelah diliput program televisi internasional. Liputan tersebut membuat kunjungan ke situs web operator tur melonjak 20 kali lipat dalam 24 jam.
Paket tur Son Doong untuk 2026 dan 2027 saat ini telah habis terjual, disusul peningkatan pesanan untuk 2028. Selama 12 tahun beroperasi, Son Doong meraup pendapatan hingga Rp 442,93 miliar dengan tarif paket ekspedisi empat hari tiga malam sebesar Rp 46,13 juta per orang. Fakta ini membuktikan bahwa kombinasi pengalaman unik, infrastruktur, dan strategi pemasaran adalah kunci daya saing pariwisata Vietnam di kancah global.
Foto: Taman Nasional Phong Nha - Ke Bang (dok. Vietnam Tourism Government Vietnam) |
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google
Foto: Bendera Vietnam berkibar di atas balai kota di belakang patung Ho Chi Minh di Kota Ho Chi Minh, Vietnam, Jumat, 12 Januari 2024. (AP/Jae C. Hong/File Foto)
Foto: Taman Nasional Phong Nha - Ke Bang (dok. Vietnam Tourism Government Vietnam)