MARKET DATA

Harga Minyak Dunia Ambruk, Trump Menipu Bandar?

mae,  CNBC Indonesia
09 May 2026 08:06
Pemandangan dari drone yang memperlihatkan pompa minyak dan anjungan pengeboran di selatan Midland, Texas, AS, 11 Juni 2025. (REUTERS/Eli Hartman/File Foto)
Foto: Pemandangan dari drone yang memperlihatkan pompa minyak dan anjungan pengeboran di selatan Midland, Texas, AS, 11 Juni 2025. (REUTERS/Eli Hartman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan Jumat kemarin tetapi secara mingguan justru ambruk.

Merujuk Refintiv, harga minyak brent ditutup pada US$101,29 per barel pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Harganya naik US$1,23 atau 1,23%, setelah sempat melonjak hingga 3% selama sesi perdagangan.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$95,42 per barel, naik 61 sen atau 0,64%.

Kenaikan kemarin memutus tren buruk di mana harga minyak ambruk selama tiga hari sebelumnya.
Dalam sepekan, harga minyak brent jatuh 6,36%. Pelemahan ini mengakhiri tren kenaikan dalam dua pekan beruntun sebelumnya.

Sementara itu, harga minyak WTI ambruk 10,17% sepekan. Pelemahan ini memutus tren kenaikan dalam tiga pekan beruntun sebelumnya.

"Kita saat ini masih bergerak di tempat, dan itu memang wajar. Kita berada di ambang terobosan dalam negosiasi, atau justru di ambang pecahnya kembali pertempuran. Situasi seperti ini sudah sering terjadi." kata John Kilduff, mitra di Again Capital, dikutip dari Refinitiv.

"Ada keyakinan di pasar bahwa kesepakatan akan tercapai, dan kita akan memasuki tahap berikutnya, yaitu periode 30 hari untuk merampungkan perjanjian antara Iran dan Amerika Serikat," tambah Kilduff.

Sepanjang perdagangan Jumat kemarin, trader melihat pasar bergerak naik turun secara tajam, layaknya bola tenis yang dipukul bolak-balik.

"Kita masih memainkan permainan yang digerakkan oleh berita utama. Saat ini pasar hanya bereaksi terhadap perkembangan di pinggiran," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

 

Trader Bosan dengan Klaim Trump?

Pasukan Amerika Serikat dan Iran bentrok di kawasan Teluk, sementara Uni Emirat Arab kembali menjadi sasaran serangan ketika Amerika Serikat menunggu tanggapan dari Teheran atas proposal untuk mengakhiri konflik yang dimulai setelah serangan udara gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis malam mengatakan bahwa gencatan senjata masih berlaku dan berupaya meredakan kekhawatiran pasar.

Namun pada Jumat, Trump kembali mengeluarkan ultimatum yang menuntut Iran menghentikan ambisi nuklirnya.

"Seberapa cepat pasokan dari negara-negara Teluk dapat kembali normal, bagaimana kondisi persediaan saat memasuki puncak musim konsumsi bensin, dan seperti apa bentuk sanksi setelah tercapainya kesepakatan merupakan pertanyaan penting," kata John Evans, analis dari PVM Oil Associates.

Dia menambahkan pemerintahan AS terus melebih-lebihkan prospek meredanya ketegangan, dan pasar yang cenderung optimistis terus mempercayainya.

"Menariknya, setiap kali harga rebound, kenaikannya berlangsung bertahap dan tidak sepenuhnya pulih, sehingga sinyal-sinyal palsu tersebut tetap cukup efektif," kata Vandana Hari, pendiri Vanda Insights.

Ada Permainan Harga?

Sementara itu, U.S. Commodity Futures Trading Commission (CFTC) tengah menyelidiki transaksi minyak senilai US$7 miliar yang dilakukan sesaat sebelum pengumuman penting Donald Trump terkait perang Iran.

Sebagian besar transaksi tersebut berupa posisi short, yaitu taruhan bahwa harga minyak akan turun, yang dilakukan di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME). Posisi-posisi itu dibuka tepat sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan, gencatan senjata, atau perubahan kebijakan lain terhadap Iran yang kemudian memicu penurunan harga minyak.



 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular