Bikin Kaget! Rupiah & Ringgit Hancur Bareng, Yen-Dong Vietnam Perkasa
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia bergerak cukup beragam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (5/5/2026). Meski begitu, rupiah masih berada di zona merah dan menembus level psikologis Rp17.400/US$.
Merujuk Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 9 mata uang Asia yang dipantau, 6 mata uang menguat dan 3 lainnya melemah terhadap greenback.
Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terdalam pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,23% ke level Rp17.405/US$.
Level tersebut sekaligus menjadi level intraday terlemah baru rupiah sepanjang masa.
Tekanan paling dalam dicatatkan mata uang tetangga yakni ringgit Malaysia yang berada di level MYR 3,960/US$ setelah turun 0,25%. Peso Filipina juga melemah 0,23% ke PHP 61,706/US$.
Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar. Mata uang tersebut berada di level TWD 31,64/US$ setelah menguat 0,08%.
Dong Vietnam dan dolar Singapura sama-sama naik 0,05%, masing-masing ke level VND 26.300/US$ dan SGD 1,276/US$. Baht Thailand berada di THB 32,72/US$ setelah menguat 0,03%.
Yen Jepang dan won Korea juga bergerak tipis di zona hijau. Yen berada di level JPY 157,21/US$ setelah naik 0,02%, sementara won Korea menguat 0,02% ke KRW 1.475,24/US$.
Pergerakan mata uang Asia hari ini masih dipengaruhi oleh arah dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS atau DXY per pukul 09.20 WIB terpantau menguat 0,12% ke level 98,495.
Dolar AS kembali mendapat dukungan dari permintaan aset aman atau safe haven. Sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian hubungan AS-Iran dan perang di Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.
Pasar semakin berhati-hati setelah muncul serangan baru AS dan Iran di kawasan Teluk pada Senin kemarin. Kondisi ini mengancam posisi gencatan senjata yang masih berlangsung dan membuat minat investor terhadap aset berisiko tetap terbatas.
Ketegangan juga meningkat setelah pasukan AS disebut menghalau serangan Iran saat mengawal dua kapal berbendera AS melalui Selat Hormuz.
Di saat yang sama, Uni Emirat Arab melaporkan telah mencegat rudal jelajah yang diluncurkan Iran, serta mengaitkan kebakaran besar di Pelabuhan Fujairah dengan serangan drone. Membuat harga minyak mentah dunia acuan Brent kembali berada di atas US$110 per barel.
Dalam kondisi seperti ini, dolar AS masih berpeluang diburu sebagai aset aman. Ketika dolar menguat, mata uang negara lain, termasuk mata uang Asia, cenderung lebih mudah tertekan. Karena itu, selama ketidakpastian AS-Iran belum mereda, pergerakan mata uang kawasan termasuk rupiah masih berpotensi bergejolak.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google