MARKET DATA

Harga Batu Bara Membara Lagi, Tersengat Harga Minyak

mae,  CNBC Indonesia
05 May 2026 07:16
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesi
Foto: Bongkar Muat Batu bara di Terminal Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara membara lagi di tengah memanasnya perang.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (4/5/2026) ditutup di US$ 139,2 per ton atau menguat 1,16%.

Harga ini adalah yang tertinggi sejak 6 April 2026 atau sebulan terakhir.

Harga batu bara membara seiring melonjaknya kembali harga minyak. Batu bara adalah komoditas pengganti minyak sehingga harganya saling memengaruhi.


Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 4,39% menjadi US$106,42 per barel, sementara minyak mentah Brent sebagai acuan global melonjak 5,8% ke US$114,44 per barel.

Kenaikan harga batu bara mencerminkan efek rambatan dari meningkatnya premi risiko minyak dan LNG, seiring gagalnya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat jalur pengiriman utama tetap tidak pasti.

Asia semakin mengandalkan batu bara untuk pembangkit listrik baseload, dengan Jepang memperpanjang penggunaan PLTU dan Korea Selatan melonggarkan pembatasan, sementara China meningkatkan produksi domestik serta mempercepat proyek coal-to-gas untuk mengurangi risiko impor.

Perubahan ini menegaskan pergeseran menuju keamanan energi yang lebih luas, di tengah kekhawatiran pasokan gas dan minyak yang masih berlanjut.

Dari China dilaporkan, pasar kokas (coke) metalurgi di China ditopang oleh produksi baja yang tetap tinggi serta perbaikan kondisi logistik.

Tingginya produksi hot metal di pabrik baja menjaga permintaan kokas tetap solid, sehingga pasar tidak melemah.

Distribusi batu bara dan kokas mulai lancar kembali, mengurangi hambatan pasokan yang sebelumnya terjadi.

Sementara itu, konsumen besar batu bara lainnya yakni India melaporkan jika Coal India Limited (CIL) mencatat penurunan produksi batu bara sebesar 9,7% secara tahunan (year-on-year) pada April 2026 menjadi 56,1 juta ton. Penurunan ini terjadi karena sejumlah anak usaha menghadapi kendala operasional serta adanya penyesuaian musiman setelah puncak produksi di akhir tahun fiskal.

Data yang dirilis pada 4 Mei 2026 menunjukkan bahwa meski produksi turun dari 62,1 juta ton pada April 2025, pengiriman batu bara (dispatch) relatif lebih stabil, hanya turun 2% menjadi 63,2 juta ton.


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular