MARKET DATA

Raksasa Otomotif Dunia Ramai-Ramai Meniru China, Yakin Bisa?

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
04 May 2026 14:15
BYD memperkenalkan kendaraan barunya BYD Atto 1 di Internasional Auto Show (GIIAS) 2025 DI Tangerang, Banten, Rabu (23/7/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: BYD memperkenalkan kendaraan barunya BYD Atto 1 di Internasional Auto Show (GIIAS) 2025 DI Tangerang, Banten, Rabu (23/7/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif global tengah mengalami pergeseran kekuatan besar-besaran. Jika dulu Eropa dan Jepang menjadi pusat inovasi dan produksi, kini China mengambil alih peran tersebut, terutama di era kendaraan listrik (EV) dan software otomotif.

Pabrikan Barat dan Jepang seperti Volkswagen, Mercedes-Benz, hingga Toyota kini berdiri di persimpangan antara mengejar ketertinggalan atau mempertahankan kemandirian dengan risikonya masing-masing.

Dalam situasi ini, industri mobil Barat berada dalam posisi yang canggung.

China Ambil Alih Panggung, Barat Mulai Tertinggal

China kini bukan hanya pasar mobil terbesar dunia, tetapi juga telah menjadi eksportir mobil terbesar, melampaui Jepang sejak 2023.

Schmidt Automotive Research, sebuah lembaga konsultasi asal Jerman, mencatat bahwa ekspor mobil China telah melampaui 8 juta unit pada 2025. Seiring dengan meningkatnya penetrasi pasar di Eropa serta negara berkembang seperti Indonesia dan Brasil, pabrikan China pun semakin agresif berekspansi secara global.

Sebaliknya, pangsa pasar pabrikan asing di China terus menyusut, kini tinggal sekitar 30%. Artinya, perusahaan Barat tidak hanya kalah di pasar global, tetapi juga di pasar terbesar dunia.

Dilema Besar: Ketergantungan, Hilangnya Identitas, hingga Menguatkan Pesaing

Untuk mengejar ketertinggalan, pabrikan mobil Barat dan Jepang mulai merombak strategi secara agresif. Mereka memindahkan pusat inovasi ke China dan menjalin kemitraan dengan perusahaan lokal.

Namun, strategi ini memunculkan dilema serius. Tanpa kolaborasi, mereka berisiko semakin tertinggal. Namun, ketergantungan pada teknologi dan ekosistem China berpotensi menggerus kendali dan identitas merek. Risiko lain yang tak kalah besar adalah memperkuat pesaing sendiri.

Dengan risiko besar dan pilihan yang terbatas, jika industri otomotif Barat dan Jepang salah langkah, alih-alih mengejar ketertinggalan, mereka justru bisa menjadi bergantung pada kompetitor yang paling mereka takuti-China.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular