Catat, Deretan Sentimen Ini Bisa Jadi Penggerak Pasar Pekan Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini dibuka dengan serangkaian rilis data yang langsung menyentuh denyut utama pasar inflasi domestik, neraca dagang, hingga indikator tenaga kerja Amerika Serikat.
Arah pergerakan aset berisiko akan sangat bergantung pada apakah tekanan harga mereda dan apakah ekonomi global masih cukup kuat menahan suku bunga tinggi.
Di saat yang sama, harga energi yang masih tinggi dan gangguan rantai pasok global menjaga tekanan biaya tetap hidup. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian dari data yang masuk satu per satu.
Berikut agenda ekonomi sepanjang pekan ini.
Neraca Perdagangan Indonesia
Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Maret pada Senin (4/5). Pada Februari 2026, surplus tercatat sebesar US$1,28 miliar, turun tajam dari US$3,09 miliar pada periode yang sama tahun lalu dan berada di bawah ekspektasi pasar.
Pergerakan ini dipicu oleh impor yang tumbuh 10,85% secara tahunan menjadi US$20,89 miliar, sementara ekspor hanya naik 1,01%. Kenaikan ekspor ditopang oleh lemak dan minyak nabati serta mesin listrik, sementara ekspor migas tertekan akibat penurunan tajam minyak mentah.
Jika pola ini berlanjut, ruang surplus berpotensi tetap tipis. Kondisi tersebut akan memengaruhi persepsi terhadap kekuatan eksternal Indonesia, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan impor yang masih tinggi.
Inflasi Indonesia
Masih di hari yang sama, inflasi April akan menjadi sorotan utama. Pada Maret 2026, inflasi tahunan tercatat 3,48%, turun dari 4,76% pada bulan sebelumnya dan berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
Perlambatan terutama datang dari kelompok perumahan dan pangan, sementara beberapa komponen seperti transportasi dan restoran justru mengalami kenaikan. Inflasi inti turun ke 2,52%, memberi sinyal tekanan harga yang lebih terkendali.
Angka terbaru akan menentukan seberapa besar ruang kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah tanpa harus menambah tekanan dari sisi suku bunga.
Factory Orders dan Sinyal Industri AS
Dari Amerika Serikat, data factory orders Maret akan dirilis pada Senin malam waktu Indonesia. Pada Februari, indikator ini stagnan setelah sebelumnya tumbuh 0,4%.
Kondisi tersebut menggambarkan sektor manufaktur yang mulai kehilangan momentum. Permintaan yang melemah dapat berdampak pada produksi dan investasi, terutama ketika biaya pembiayaan masih tinggi.
Jika kontraksi berlanjut, pasar akan mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap daya tahan ekonomi AS di kuartal kedua.
Pidato Pejabat The Fed
Masih di hari yang sama, pidato dari pejabat Federal Reserve akan dicermati untuk menangkap arah kebijakan terbaru. Pernyataan sebelumnya banyak menyinggung tekanan harga dari energi dan ketidakpastian global.
Komentar baru akan menjadi petunjuk tambahan terkait durasi suku bunga tinggi, terutama setelah data tenaga kerja menunjukkan hasil yang beragam.
ISM Services dan JOLTS
Memasuki Selasa (5/5), dua indikator penting dari sektor jasa dan tenaga kerja akan dirilis. ISM Services PMI Maret berada di level 54, turun dari 56,1 pada Februari. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya aktivitas bisnis dan penyerapan tenaga kerja.
Di saat yang sama, indeks harga dalam survei tersebut justru naik ke level tertinggi sejak 2022, didorong oleh kenaikan biaya energi dan gangguan logistik.
Untuk pasar tenaga kerja, lowongan kerja turun menjadi 6,882 juta pada Februari. Penurunan terjadi di berbagai sektor dan wilayah, mengindikasikan permintaan tenaga kerja mulai melandai.
Kombinasi perlambatan aktivitas dan tekanan biaya akan menjadi faktor penting dalam membaca arah inflasi ke depan.
Non-Farm Payrolls dan Tingkat Pengangguran AS
Menjelang akhir pekan, fokus pasar akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat (8/5). Pada Maret, ekonomi AS menambah 178 ribu lapangan kerja, jauh di atas ekspektasi.
Kenaikan terutama terjadi di sektor kesehatan, konstruksi, dan transportasi. Di sisi lain, sektor pemerintahan federal dan aktivitas keuangan mencatat penurunan.
Tingkat pengangguran berada di 4,3%, dengan partisipasi angkatan kerja yang sedikit menurun. Data terbaru akan menentukan apakah pasar tenaga kerja masih cukup kuat atau mulai kehilangan tenaga.
Hasil yang terlalu kuat berpotensi menjaga tekanan suku bunga tetap tinggi. Sebaliknya, pelemahan signifikan akan membuka ruang penyesuaian ekspektasi kebijakan.
Kepercayaan Konsumen AS
Indeks sentimen konsumen awal Mei juga akan dirilis pada hari yang sama. Pada April, indeks berada di 49,8, mencerminkan keyakinan yang masih rendah.
Perubahan kecil pada indikator ini sering kali berdampak besar terhadap ekspektasi konsumsi, yang menjadi tulang punggung ekonomi AS.
Perdagangan China
Menutup pekan, China akan merilis data perdagangan April pada Sabtu (9/5). Pada Maret, surplus perdagangan turun ke US$51,13 miliar, level terendah dalam lebih dari setahun.
Ekspor hanya tumbuh 2,5% akibat faktor musiman dan basis tinggi tahun lalu. Di sisi lain, impor melonjak 27,8% dan mencatat rekor tertinggi, didorong oleh kebutuhan bahan baku dan pembelian teknologi.
Lonjakan impor mencerminkan upaya mengamankan pasokan di tengah gangguan global. Namun, perlambatan ekspor tetap menjadi catatan penting bagi prospek permintaan global.
rilis terbaru akan menjadi penutup pekan yang menentukan arah sentimen, terutama bagi pasar komoditas dan negara dengan ketergantungan ekspor tinggi.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google