MARKET DATA

China Mulai "Menjajah" Afrika, Era Baru Rantai Pasok Global Dimulai

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
04 May 2026 11:10
Chinese flag, word "Africa" and satellite model are seen in this illustration taken February 5, 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspansi China di kawasan Afrika semakin signifikan.

Satu dekade yang lalu, perusahaan energi surya Jua Power sepenuhnya mengandalkan pasar domestik China yang sedang mengalami ekspansi energi hijau.

Namun, seiring dengan perlambatan ekonomi negara tersebut dan penurunan laba di industri panel surya, strategi perusahaan mengalami perubahan.

Pada Maret 2025, Jua Power memutuskan untuk membangun fasilitas produksi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tatu City, Kenya. Langkah ini merupakan investasi luar negeri langsung pertama dalam sejarah perusahaan tersebut.

Ekspansi Jua Power merepresentasikan tren yang lebih luas dari produsen China yang memindahkan operasi mereka ke Afrika. Berdasarkan data FDI Markets, penanaman modal asing (FDI) China di sektor manufaktur Afrika mencapai US$ 12,3 miliar pada tahun 2025.

Dana tersebut tersebar di 64 proyek baru, yang merupakan jumlah proyek tahunan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Antara tahun 2023 hingga 2025, total investasi China di kawasan tersebut melampaui gabungan investasi dari Amerika Serikat dan Eropa.

Dinamika Manufaktur Afrika

Pada awal 2010-an, banyak pihak memproyeksikan Afrika akan menjadi pusat manufaktur global baru menggantikan China, didukung oleh biaya tenaga kerja yang rendah dan perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara Barat.

Namun, realisasi dari proyeksi tersebut belum sesuai ekspektasi. Di Ethiopia, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB mengalami penurunan dari 6% pada tahun 2017 menjadi 4,4% pada tahun 2024.

Secara keseluruhan, pangsa manufaktur di wilayah Afrika Sub-Sahara tercatat pada level 10% dari PDB pada tahun 2024, turun dari posisi 18% pada tahun 1981.

Faktor Pendorong Ekspansi

Meskipun laju manufaktur di Afrika secara umum melambat, minat korporasi China tetap tinggi. Saat ini, pengelola Tatu City di Kenya sedang melakukan negosiasi dengan lebih dari 1.000 perusahaan asal China, mulai dari pemasok energi surya hingga produsen kaca.

Faktor utama yang mendorong relokasi ini adalah kondisi pasar domestik di China. Sektor manufaktur di China sedang menghadapi tingkat laba industri yang rendah serta perang harga yang intens pada berbagai komoditas, termasuk semen, baja, kendaraan listrik, dan panel surya.

Selain tantangan domestik, Afrika menawarkan prospek pengembalian investasi yang lebih kompetitif. Harga jual produk di pasar Afrika dapat mencapai tiga hingga empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pasar domestik China.

Hal ini mendorong sebagian besar produsen China di Afrika untuk fokus memenuhi kebutuhan konsumen lokal dan regional, alih-alih berorientasi pada ekspor global. Potensi ekonomi kawasan ini juga didukung oleh proyeksi bahwa 12 dari 20 negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia pada tahun 2026 akan berada di Afrika.

Dampak Ekonomi dan Perdagangan Regional

Kehadiran produsen asing berskala besar ini berpotensi memperdalam integrasi ekonomi regional di Afrika. Namun, situasi ini juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi tekanan terhadap industri manufaktur lokal.

Defisit perdagangan Afrika dengan China tercatat meningkat 65% menjadi rekor US$ 102 miliar pada tahun lalu. Sebagai langkah penyeimbang, pemerintah China menetapkan kebijakan penghapusan tarif untuk hampir seluruh produk impor dari Afrika per 1 Mei, meskipun langkah ini diproyeksikan lebih menguntungkan ekspor komoditas pertanian dibandingkan produk manufaktur.

Analisis 2026: Ketahanan Rantai Pasok dan Pergeseran Paradigma

Memasuki pertengahan tahun 2026, tren relokasi manufaktur China ke Afrika menunjukkan pergeseran strategis dari sekadar ekspansi pasar menjadi upaya pembentukan ketahanan rantai pasok.

Ketegangan geopolitik yang eskalatif, termasuk konflik bersenjata di Timur Tengah pada awal tahun, telah menciptakan disrupsi signifikan pada jalur logistik maritim global. Kondisi makroekonomi ini memaksa korporasi multinasional asal China untuk memitigasi risiko dengan cara mendekatkan fasilitas produksi ke pasar konsumen akhir.

Strategi desentralisasi produksi ini mengindikasikan bahwa peran Afrika dalam rantai pasok global sedang diredefinisi. Daripada menggantikan posisi China sebagai basis ekspor global ke pasar Barat seperti yang diproyeksikan satu dekade lalu, Afrika kini bertransformasi menjadi pusat produksi regional yang mandiri.

Korporasi China memanfaatkan kawasan ini sebagai pasar domestik baru yang terisolasi dari friksi perdagangan antara blok Barat dan Timur, sekaligus menghindari hambatan tarif yang kerap diterapkan oleh Amerika Serikat maupun Uni Eropa.

Tantangan utama bagi negara-negara Afrika ke depan adalah merumuskan kebijakan industri yang dapat merespons gelombang modal asing ini secara optimal. Masuknya FDI berskala besar ini perlu diimbangi dengan regulasi yang mewajibkan transfer teknologi dan kemitraan rantai pasok dengan entitas bisnis lokal.

Tanpa kerangka kebijakan yang terstruktur, investasi manufaktur ini berisiko meningkatkan beban impor bagi negara-negara Afrika, terutama jika bahan baku dan komponen perakitan masih didatangkan secara masif dari China daratan.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular