100 Tahun Temani RI, Ini Alasan Frisian Flag Layak Jadi Raja Nutrisi S
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Di banyak rumah Indonesia, segelas susu hadir di setiap era. Di meja sarapan, di bekal sekolah, di dapur kecil rumah kontrakan, sampai kulkas apartemen kota besar.
Selama lebih dari satu abad, nama Frisian Flag ikut berada di ruang-ruang itu. Perjalanan perusahaan ini bermula pada 1922 lewat merek Friesche Vlag, yang kemudian lebih akrab dikenal sebagai Susu Bendera. Dari sana, Frisian Flag tumbuh menjadi salah satu nama paling lekat dalam peta nutrisi nasional.
Merek yang akrab di telinga publik menyimpan jaringan global Royal FrieslandCampina, kelompok dairy koperasi yang masuk jajaran lima perusahaan susu terbesar dunia dengan tradisi lebih dari 150 tahun.
Kekuatan itu dibawa ke Indonesia melalui fasilitas produksi modern di Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan Cikarang, Jawa Barat. Dari dua titik ini, perusahaan memasok beragam kebutuhan pasar dari susu cair siap minum, susu bubuk, susu kental manis, hingga keju untuk berbagai kelompok usia.
Namun umur panjang sebuah merek tidak cukup dijelaskan oleh nostalgia. Konsumen bertahan bila produk tetap relevan.
Peran Susu Frisian Flag Bagi Pertumbuhan Indonesia
Di Indonesia, tantangan nutrisi berubah dari dekade ke dekade. Dulu persoalannya akses pangan. Kini persoalannya lebih kompleks, keluarga sibuk, waktu makan bergeser, anak semakin selektif, urbanisasi meningkat, dan kualitas asupan harian sering tidak sejalan dengan kebutuhan tubuh.
Di titik itu, perusahaan susu diuji lewat formulasi produknya.
Foto: Ilustrasi Frisian Flag. (Dok: Frisian Flag) |
Â
Frisian Flag menempatkan nutrisi sebagai inti bisnis. Portofolionya disusun berdasarkan fase kehidupan, produk keluarga umum, susu pertumbuhan anak, nutrisi ibu hamil dan menyusui, hingga produk pelengkap seperti keju.
Pendekatan ini penting karena kebutuhan gizi balita, remaja, ibu hamil, dan orang dewasa memang berbeda. Satu formula tidak bisa dipakai untuk semua tahap hidup.
Gizi keluarga sering dibahas saat masalah sudah muncul. Anak sulit makan, remaja cepat lelah, ibu hamil kekurangan zat besi, atau tinggi badan tak bergerak sesuai usia.
Padahal akar persoalan biasanya lebih sederhana asupan harian yang tidak konsisten. Protein kurang, kalsium tertinggal, vitamin dan mineral mikro sering absen dari piring makan. Dalam konteks itu, susu masih memegang peran penting karena praktis, mudah dijangkau, dan padat nutrisi bila formulanya tepat.
Â
Kementerian Kesehatan dalam materi AKSI Bergizi Hidup Sehat Sejak Sekarang menempatkan protein sebagai komponen utama pembangun tubuh. Protein dibutuhkan untuk pembentukan sel baru, pemeliharaan jaringan, kerja enzim, hormon, dan daya tahan tubuh.
Pada panduan Pola Makan yang Sehat yang dipublikasikan 27 Juni 2024, Kemenkes juga menegaskan pentingnya konsumsi protein, cairan, serat, serta susu dan produk olahannya sebagai sumber protein hewani, kalsium, kalium, vitamin B2, vitamin B12, dan magnesium.
Pertanyaannya lalu bergeser ke pasar, apakah produk yang beredar memang menjawab kebutuhan itu.
Pada titik ini, portofolio PT Frisian Flag Indonesia layak dibaca lebih rinci.
Perusahaan yang telah hadir lebih dari satu abad di Indonesia tersebut memiliki lini produk untuk keluarga umum, anak usia dini, hingga ibu hamil dan menyusui. Data komposisi gizi produknya memberi gambaran bagaimana kebutuhan nutrisi diterjemahkan ke produk konsumsi harian.
Pada kategori keluarga umum, Frisian Flag Full Cream 225 ml memuat energi 130 kkal, protein 7 gram, lemak total 7 gram, karbohidrat 10 gram, dan gula 10 gram yang berasal dari laktosa, dengan sukrosa 0 gram.
Produk ini juga mencantumkan Vitamin A 25% AKG, Vitamin D3 25% AKG, Vitamin B1 20%, Vitamin B2 20%, Vitamin B3 20%, Vitamin B5 20%, Vitamin B6 20%, Vitamin B12 25%, Kalsium 20%, Fosfor 25%, dan Iodium 25% per kemasan.
Â
Protein 7 gram membantu rasa kenyang lebih lama dibanding minuman berpemanis biasa. Kalsium dan fosfor mendukung tulang dan gigi. Vitamin B kompleks membantu metabolisme energi. Dengan pola hidup urban yang serba singkat, produk siap minum seperti ini mengisi celah konsumsi pagi hari yang sering terlewat.
Kemenkes juga menaruh perhatian pada vitamin D. Fungsi utamanya berkaitan dengan penyerapan kalsium dan pembentukan tulang. Banyak pekerja kota berangkat pagi, pulang malam, sebagian besar waktu berada di ruang tertutup.
Paparan sinar matahari berkurang. Dalam situasi itu, fortifikasi vitamin D pada susu menjadi relevan. Frisian Flag Full Cream mencantumkan 25% AKG Vitamin D3 per saji, sementara beberapa varian lain dalam dokumen perusahaan menuliskan hingga 45% AKG.
Untuk fase kehamilan, kebutuhan gizi berubah lebih tajam. Ibu hamil memerlukan tambahan zat besi, folat, protein, kalsium, serta nutrisi yang berkaitan dengan perkembangan janin. Frisian Flag Primamum dirancang untuk segmen ini.
Per sajian 45 gram, produk tersebut memuat energi 180 kkal, protein 9 gram, lemak total 5 gram, karbohidrat 25 gram, serat pangan 2 gram, dan gula total 21 gram. Pada sisi mikronutrien, label mencantumkan Zat Besi 35% AKG, Kalsium 20%, Fosfor 40%, Vitamin C 30%, Vitamin B6 30%, Asam Folat 20-25%, Seng 20%, serta DHA 34 mg per sajian.
Formulasi yang sejalan dengan persoalan lapangan yang masih sering ditemui anemia pada ibu hamil dan asupan mikronutrien yang tidak memadai.
Zat besi diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Folat dibutuhkan dalam pembelahan sel dan perkembangan janin. Kalsium dibutuhkan pada pembentukan tulang. DHA banyak dikaitkan dengan perkembangan otak. Produk ini diarahkan untuk menutup kesenjangan nutrisi yang umum terjadi pada masa kehamilan dan menyusui.
Pada kelompok anak usia dini, kebutuhan gizi lebih sensitif karena periode pertumbuhan berlangsung cepat.
Frisian Flag Primagro 1+ untuk anak usia 1-3 tahun mencantumkan energi 170 kkal, protein 5 gram, lemak 6 gram, karbohidrat 22 gram, serat 1 gram, Vitamin C 100% AKG, Vitamin A 35%, Vitamin E 50%, Vitamin B12 60%, Kalsium 30%, Fosfor 25%, Zat Besi 25%, Seng 25%, Iodium 40%, serta DHA 16 mg per saji.
Kombinasi itu relevan untuk usia toddler yang sering sulit makan dan selektif terhadap tekstur atau rasa. Ketika variasi makan harian sempit, risiko kekurangan zat gizi mikro meningkat. Produk fortifikasi dapat membantu menutup kekurangan tersebut, selama tetap ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan utama.
Untuk anak usia pra-sekolah, Primagro 3+ mencantumkan energi 180 kkal, protein 5 gram, lemak 7 gram, karbohidrat 24 gram, serat 2 gram, Kalsium 25% AKG, Vitamin D 30%, Vitamin C 40%, Iodium 35%, serta DHA 17 mg per sajian. Fase ini penting karena aktivitas fisik meningkat, kemampuan belajar berkembang, dan kebutuhan energi harian bertambah.
Foto: Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew Saputro dalam acara CNBC Indonesia Food Summit 2026, di Menara Bank Mega, Jakarta, Senin, (27/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) |
Â
Produk turunan lain seperti Frisian Flag Keju Cheddar juga memberi jalur konsumsi berbeda. Per sajian 15 gram, produk ini memuat energi 45 kkal, protein 2 gram, lemak total 3,5 gram, natrium 220 mg, dan Kalsium 4% AKG. Bagi keluarga yang ingin menambah protein dan kalsium melalui menu sarapan atau camilan, format keju memberi fleksibilitas konsumsi.
Dari sisi nutrisi, kekuatan Frisian Flag terletak pada pendekatan berbasis tahap kehidupan. Ada produk untuk keluarga umum, ibu hamil, toddler, pra-sekolah, hingga produk keju sebagai pelengkap konsumsi rumah tangga. Ini membuat kebutuhan gizi tidak diperlakukan seragam. Bayi, balita, ibu hamil, dan orang dewasa memang memiliki kebutuhan berbeda.
Dalam konteks Indonesia, masalah utama gizi sering berada pada konsistensi. Banyak rumah tangga mampu membeli makanan, tetapi komposisinya timpang kalori cukup, protein rendah, kalsium minim, sayur kurang, dan zat besi tertinggal. Produk susu dengan fortifikasi yang tepat dapat membantu memperbaiki pola tersebut.
Kekuatan Frisian Flag tidak berhenti di hilir. Perusahaan menjalankan model From Grass to Glass, rantai pasok terintegrasi dari peternakan hingga produk jadi. Melalui kemitraan dengan peternak sapi perah lokal, perusahaan ikut mendorong kualitas susu segar nasional dan memperkuat ekosistem dairy domestik.
Bagi Indonesia yang masih menghadapi tantangan pasokan susu segar dalam negeri, langkah ini punya nilai strategis.
Di tengah kebutuhan gizi nasional yang terus naik, industri susu Indonesia masih bekerja dengan ruang pasok yang sempit.
BPS menunjukkan produksi susu sapi nasional pada 2023 berada di 837.223 ton, turun dari 951.003 ton pada 2018. Pada saat yang sama, kebutuhan domestik terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan ekspansi program pangan pemerintah. Kesenjangan antara produksi dan kebutuhan inilah yang membuat Indonesia masih bergantung pada impor, dengan porsi pasokan luar negeri diperkirakan mencapai sekitar 80% kebutuhan nasional.
Bagi pelaku industri seperti Frisian Flag Indonesia, kondisi ini menjelaskan mengapa efisiensi rantai pasok, kemitraan dengan peternak lokal, dan penguatan bahan baku domestik menjadi isu strategis, bukanlah semata agenda operasional.
Tekanan permintaan diperkirakan akan semakin besar. Pemerintah sebelumnya untuk menopang kebutuhan susu dengan dukungan program Makan Bergizi Gratis.
Sebelumnya Frisian flag juga turut serta bersama IFSR (Indonesia Food Security Review) untuk melakukan pilot project MBG dengan 10 sekolah dan total 2000 penerima.
Di tingkat konsumsi rumah tangga, BPS juga mencatat konsumsi susu cair mingguan per kapita meningkat dari 2.044 ml pada 2018 menjadi 2.056 ml pada 2023. Kenaikannya terlihat tipis, namun pada skala populasi nasional angka tersebut berarti tambahan volume yang besar.
Dalam lanskap seperti ini, perusahaan dengan jaringan distribusi kuat, kemampuan formulasi nutrisi, serta hubungan jangka panjang dengan peternak lokal memiliki posisi penting untuk menjaga ketersediaan produk susu yang aman, terjangkau, dan konsisten bagi keluarga Indonesia.
Â
Di sisi produksi, standar mutu juga menjadi fondasi. Perusahaan menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP), teknologi pengolahan modern, serta sistem keamanan pangan bersertifikasi internasional. Bagi industri pangan, kepercayaan dibangun dari konsistensi mutu, keamanan produk, dan transparansi kandungan gizi.
Ada alasan mengapa Frisian Flag bertahan lebih dari seratus tahun. Mereka hadir di pasar yang terus berubah, tetapi tetap membaca kebutuhan dasar keluarga Indonesia: nutrisi yang aman, mudah diakses, dan sesuai kemampuan belanja rumah tangga.
Dengan warisan panjang sejak 1922, dukungan jaringan global Royal FrieslandCampina, kontribusi pada pemenuhan gizi keluarga Indonesia, kemitraan dengan peternak lokal, serta komitmen terhadap bisnis berkelanjutan, CNBC Indonesia menilai PT Frisian Flag Indonesia layak dianugerahi Best Dairy Nutrition Company in Supporting Indonesian Families & Sustainable Growth.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google
Foto: Ilustrasi Frisian Flag. (Dok: Frisian Flag)
Foto: Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew Saputro dalam acara CNBC Indonesia Food Summit 2026, di Menara Bank Mega, Jakarta, Senin, (27/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)