MARKET DATA

Trump Bikin Eropa Gelisah, Dipaksa Mandiri Hadapi Ancaman Rusia

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
28 April 2026 21:20
Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)
Foto: Bendera Uni Eropa. (REUTERS/Johanna Geron)

Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa kini menghadapi situasi yang tidak mudah. Kawasan tersebut mulai sadar bahwa keamanan mereka tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung kepada Amerika Serikat (AS), terutama di era Presiden Donald Trump.

Selama ini, AS menjadi tulang pungung dalam pertahanan Eropa melalui NATO. Namun, sikap Trump yang sering mempertanyakan komitmen AS terhadap aliansi itu membuat banyak negara Eropa mulai menghitung ulang.

Mengutip dari Reuters, Trump memang tidak bisa begitu saja menarik AS keluar dari NATO tanpa persetujuan Kongres.

Namun, yang dikhawatirkan Eropa bukan hanya soal keluar atau tidaknya AS dari NATO. Kekhawatiran yang lebih besar adalah apakah AS benar-benar akan membantu jika suatu saat Rusia menyerang salah satu negara Eropa.

Secara sederhana, Eropa sebenarnya punya satu jawaban besar, yakni memperkuat pertahanannya sendiri. Masalahnya, menyatukan pertahanan banyak negara bukan perkara mudah.

Setiap negara punya cara pandang yang berbeda terhadap ancaman Rusia. Polandia, misalnya, jauh lebih khawatir karena posisinya dekat dengan Rusia. Sementara Spanyol yang letaknya lebih jauh, tidak merasakan ancaman yang sama besar.

Belanja Pertahanan Negara-Negara NATOFoto: Reuters

Perbedaan itu terlihat dari anggaran pertahanan. Tahun lalu, Polandia menghabiskan 4,5% dari produk domestik brutonya untuk pertahanan. Sementara Spanyol hanya mengalokasikan 2,0%. Artinya, sejak awal tingkat kesiapan dan kemauan tiap negara untuk memperkuat militer memang tidak sama.

Kemampuan militernya pun berbeda-beda. Inggris dan Prancis memiliki senjata nuklir, sedangkan negara Eropa lainnya tidak. Jerman punya kemampuan ekonomi yang lebih besar untuk mencari dana pertahanan, sementara banyak negara lain masih harus menghadapi beban utang tinggi.

Kepentingan nasional juga sering menjadi penghalang. Jerman dan Prancis, misalnya, masih berbeda pendapat soal proyek jet tempur bersama. Di banyak negara, pemerintah juga sering lebih memilih memberi kontrak pertahanan kepada perusahaan dalam negeri, bukan mencari pemasok terbaik melalui persaingan terbuka.

Padahal, perang modern bergerak sangat cepat. Drone, robot, sistem satelit, hingga pertahanan anti-rudal menjadi semakin penting. Dengan kondisi seperti itu, Eropa tidak cukup hanya mengandalkan pola lama dan perusahaan besar yang bergerak lambat.

Masalah lain yang tidak kalah rumit adalah soal keputusan perang. Banyak negara tidak ingin keputusan sepenting itu ditentukan oleh negara lain. Pemerintah tentu khawatir jika rakyatnya harus ikut perang karena keputusan bersama yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan.

Kondisi politik dalam negeri juga menambah kerumitan. Munculnya partai-partai nasionalis sayap kanan, seperti Front National di Prancis, Reform UK di Inggris, dan Alternative for Germany di Jerman, membuat kerja sama pertahanan Eropa semakin sulit. Beberapa partai tersebut pada waktu tertentu pernah menunjukkan sikap yang lebih lunak terhadap Rusia.

Meski begitu, posisi Eropa bukan berarti lemah total. Eropa berbeda dengan Rusia atau AS karena tujuan utamanya bukan memulai perang, tetapi mempertahankan diri. Untuk bertahan, kebutuhan militernya tidak harus sebesar negara yang ingin menyerang.

Dari sisi ekonomi, modal Eropa juga sangat besar. Produk domestik bruto negara-negara NATO di Eropa mencapai US$25 triliun pada 2025. Angka ini hampir 10 kali lipat lebih besar dibandingkan ekonomi Rusia yang sebesar US$2,6 triliun.

Artinya, secara kemampuan ekonomi, Eropa sebenarnya punya modal untuk memperkuat pertahanannya. Tantangannya adalah bagaimana negara-negara itu mau menyatukan sebagian sumber daya, uang, teknologi, dan strategi mereka.

Selain itu, Rusia saat ini masih sibuk dengan perang di Ukraina. Selama Rusia belum menang di Ukraina, Moskow akan kesulitan membuka perang baru di wilayah lain, misalnya di negara-negara Baltik.

Karena itu, bantuan Eropa kepada Ukraina bukan hanya soal membantu Kyiv. Bagi Eropa, memperkuat Ukraina juga berarti menjaga garis depan mereka sendiri. Jika dukungan ke Ukraina diperbesar dari komitmen 90 miliar euro yang disepakati pekan lalu, tekanan terhadap Rusia bisa tetap dijaga.

AS juga belum tentu sepenuhnya hilang sebagai sekutu. Meski Trump berada di Gedung Putih, AS tetap punya nilai strategis bagi Eropa. Selain itu, presiden AS setelah Trump juga masih bisa membawa hubungan AS-Eropa kembali lebih solid.

Koalisi Kecil Jadi Jalan Tengah

Dalam kondisi ideal, negara-negara Eropa bisa menyatukan pertahanan mereka dalam banyak hal. Mulai dari aliansi, misi militer, kemampuan bersama, produksi senjata, hingga pembiayaannya.

Namun, kenyataannya kemungkinan tidak akan serapi itu. Yang lebih masuk akal adalah munculnya beberapa kelompok kerja sama yang berbeda, sesuai kepentingan dan kebutuhan masing-masing negara.

Kenaikan Utang Negara-Negara NATOFoto: Reuters

NATO tetap menjadi payung pertahanan utama yang paling realistis. Uni Eropa memang punya aturan soal pertahanan bersama. Namun, aturan itu hampir belum pernah benar-benar diuji dalam situasi perang besar.

Selain itu, Uni Eropa juga tidak mencakup semua kekuatan militer penting di kawasan. Inggris, misalnya, sudah keluar dari Uni Eropa, padahal negara ini merupakan salah satu kekuatan militer terbesar di Eropa.

Karena itu, negara-negara yang merasa paling terancam oleh Rusia bisa bergerak lebih cepat dalam kelompok yang lebih kecil. Salah satunya adalah Joint Expeditionary Force, yaitu pasukan reaksi cepat yang dipimpin Inggris dan beranggotakan 10 negara Eropa utara.

Inggris dan Prancis juga sudah memiliki kerja sama pertahanan yang kuat. Keduanya bahkan memimpin dua kelompok negara yang siap bergerak bersama atau biasa disebut "coalitions of the willing".

Kelompok pertama bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka setelah konflik dengan Iran berhenti. Kelompok kedua disiapkan untuk membantu mempertahankan Ukraina jika negara itu mencapai kesepakatan damai dengan Rusia.

Jerman juga mulai menunjukkan ambisi lebih besar. Pekan lalu, Berlin merilis strategi militer bernama "Responsibility for Europe". Lewat strategi itu, Jerman menargetkan diri menjadi kekuatan militer konvensional terkuat di kawasan pada 2039.

Namun, urusan senjata nuklir tetap membutuhkan aturan khusus. Inggris dan Prancis hampir pasti tidak ingin keputusan penggunaan senjata nuklir mereka ditentukan oleh komite bersama.

Pada Maret lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengusulkan agar kekuatan nuklir Prancis diperkuat. Dia juga membuka peluang melibatkan tujuh negara Uni Eropa lainnya, termasuk Jerman, dalam sistem pencegahan nuklir.

Eropa Perlu Kesepakatan Besar

Berbagai langkah pertahanan Eropa saat ini masih berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, kawasan tersebut membutuhkan arah yang lebih jelas.

Salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah membentuk kelompok inti. Kelompok ini kemungkinan terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Polandia, ditambah sembilan negara kecil yang tergabung dalam Joint Expeditionary Force.

Negara lain tidak harus ikut dalam semua agenda. Mereka bisa bergabung dalam proyek tertentu sesuai kemampuan dan kepentingannya. Dengan cara ini, kerja sama bisa tetap berjalan tanpa harus menunggu semua negara sepakat.

Eropa juga bisa membuat kesepakatan besar. Misalnya, Prancis dan mungkin Inggris memperluas perlindungan nuklir mereka untuk negara lain. Sebagai gantinya, Jerman dan negara-negara lain menanggung porsi lebih besar dalam pertahanan konvensional, seperti tentara, tank, rudal, dan sistem pertahanan udara.

Pola ini sebenarnya masih sejalan dengan pembagian tugas yang sudah ada di NATO. Negara dengan senjata nuklir memberi perlindungan strategis, sementara negara lain memperkuat kemampuan militer biasa.

Kesepakatan besar itu juga bisa dipakai untuk membangun sistem bersama, seperti komunikasi satelit dan pertahanan anti-rudal. Saat ini, Eropa masih sangat bergantung kepada AS untuk kemampuan tersebut.

Masalahnya, proyek seperti ini membutuhkan dana besar. Prancis mendukung gagasan penggalangan dana bersama, tetapi Jerman sejauh ini masih menahannya. Jika dirancang dengan tepat, Inggris juga bisa ikut masuk dalam proyek-proyek tersebut meski sudah tidak menjadi anggota Uni Eropa.

Pada akhirnya, Eropa tidak mungkin langsung menyatu penuh dalam urusan pertahanan. Setiap negara tetap ingin menjaga kedaulatannya, terutama dalam keputusan perang.

Namun, terlalu bergantung kepada AS juga semakin berisiko. Tidak ada satu negara Eropa pun yang cukup kuat untuk menghadapi ancaman besar sendirian.

Karena itu, pilihan paling realistis bagi Eropa adalah memperkuat kerja sama pertahanan secara bertahap. Tidak harus sempurna, tetapi cukup untuk membuat Rusia berpikir dua kali sebelum mengambil langkah agresif.

Dengan ancaman yang semakin nyata, Eropa tidak punya banyak waktu untuk menunggu solusi ideal. Yang dibutuhkan sekarang adalah langkah praktis, cepat, dan bisa dijalankan bersama.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular