MARKET DATA

Survei Terbaru: Hubungan Spesial Inggris-Amerika Memudar

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
27 April 2026 14:50
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berpartisipasi dalam resepsi para pemimpin bisnis di Chequers, dekat Aylesbury, Inggris, 18 September 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Foto: Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berpartisipasi dalam resepsi para pemimpin bisnis di Chequers, dekat Aylesbury, Inggris, 18 September 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan erat antara Inggris dan Amerika Serikat (AS) kini menghadapi ujian serius.

Kunjungan Charles III ke Washington pada akhir April 2026 yang semula bersifat seremonial, berubah menjadi misi diplomatik untuk meredakan ketegangan.

Di baliknya, tersimpan pertanyaan strategis: apakah Inggris akan tetap berada dalam orbit Amerika, atau mulai mendekat kembali ke Eropa?

Dari Sekutu Dekat Jadi Tegang: Iran dan Retaknya Kepercayaan

Hubungan Inggris-AS mulai memanas ketika Washington mengambil langkah agresif dalam konflik Iran, sementara negara-negara Eropa, termasuk Inggris, memilih sikap lebih hati-hati. Amerika kecewa karena sekutunya dianggap tidak memberikan dukungan penuh, bahkan membatasi penggunaan fasilitas militer.

Situasi memuncak ketika Trump secara terbuka menyebut sekutu Eropa  sebagai "pengecut". Inggris pun ikut terseret dalam kritik tersebut, meskipun selama ini dikenal sebagai mitra terdekat Amerika. Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Kier Starmer sudah lelah terus menyanjung Donald Trump dan menegaskan bahwa Inggris tidak akan tunduk pada tekanan Washington.

Ketegangan ini juga diperparah oleh perbedaan pendekatan terhadap Rusia dan Ukraina, serta kontroversi usulan Amerika untuk menguasai Greenland. Semua ini memperlihatkan bahwa keselarasan strategis antara kedua negara mulai memudar.

Brexit dan Pergeseran Global: Inggris Kehilangan Peran Kunci

Selama bertahun-tahun, Inggris memainkan peran penting sebagai "jembatan" antara Amerika dan Eropa. Namun sejak Brexit, posisi tersebut melemah drastis.

Di saat yang sama, Amerika mulai mengalihkan fokusnya ke Asia, terutama untuk menghadapi kebangkitan China. Akibatnya, Eropa dan Inggris menjadi kurang prioritas dalam strategi global Washington.

Perbedaan nilai juga semakin mencolok. Inggris tetap berpegang pada multilateralisme dan aturan internasional, sementara pendekatan Trump cenderung unilateral dan transaksional.

Publik Amerika dan Inggris semakin merasa kecewa satu sama lain. Survei opini menunjukkan bahwa pada awal 2000, warga AS dan Inggris masih saling memandang sangat positif, dengan lebih dari 80% responden di masing-masing negara mengatakan mereka memiliki pandangan baik terhadap negara lainnya.

Namun dalam lima tahun terakhir, tingkat persetujuan warga Amerika terhadap Inggris turun dari 91% menjadi 76%. Pandangan warga Inggris memburuk lebih bertahap tetapi lebih dalam yakni kini hanya 34% yang menyatakan memiliki pandangan positif terhadap Amerika.

Baik warga Amerika maupun Inggris kini memberi penilaian lebih tinggi kepada negara lain seperti Denmark, Prancis, dan Jepang.

Pandangan warga Amerika dan Inggris terhadap tokoh publik paling menonjol di masing-masing negara juga tidak terlalu memuji.

Persepsi AS dan Inggris memandang satu sama lainFoto: Economist

 

Tokoh-tokoh senior Inggris mengatakan hubungan dengan Amerika ibarat laut: "bergelombang di permukaan, tetapi tenang di bawah." Donald Trump dan Keir Starmer mungkin melihat keuntungan politik dengan saling menyindir, tetapi para bawahan mereka masih tetap bekerja sama dengan baik, terutama dalam urusan militer dan intelijen.

Salah satu masalah bagi United Kingdom adalah bahwa kalangan Republican Party yang biasanya membela sekutu juga cenderung bersikap keras terhadap Iran dan kesal terhadap keraguan negara-negara Eropa.

Responden mengenai figur Inggris dan ASFoto: Economist

 

Kekuatan Militer Menyusut, Ketergantungan pada AS Meningkat

Di tengah ketegangan ini, kapasitas militer Inggris juga menjadi sorotan. Meski memiliki arsenal canggih seperti jet tempur F-35 Lightning II, kapal induk, dan senjata nuklir, kemampuan riilnya dinilai menurun.

Jika pada Perang Teluk dan invasi Irak Inggris mampu mengerahkan hingga 28.000 pasukan, kini bahkan untuk mengirim satu brigade saja-sekitar 3000 hingga 5000 pasukan, Inggris merasa berat. Kekurangan pada sistem pertahanan udara dan artileri juga semakin memperlemah daya tempur Inggris.

Saat ini Inggris juga masih memiliki dua kapal induk besar yang menjadi kebanggaan militer mereka, namun kedua kapal ini belum bisa digunakan karena masalah teknis. Donald Trump bahkan mengejek kedua kapal induk tersebut sebagai sekadar "mainan" jika dibandingkan dengan armada militer Amerika.

Kondisi ini membuat Inggris semakin terpojok dalam aspek keamanan. Di satu sisi hubungan politiknya dengan Amerika sedang renggang, namun di sisi lain Inggris tidak memiliki kekuatan militer jika tidak dibantu oleh Amerika.

Intelijen Masih Solid, Tapi Mulai Retak dan Dipertanyakan

Di tengah merenggangnya hubungan politik dan militer, kerja sama intelijen antara Inggris dan Amerika masih relatif kuat, setidaknya untuk sekarang. Inggris dinilai lebih berani dalam konflik Ukraina, termasuk dengan mengirim perwira untuk berkoordinasi langsung di lapangan demi mendapatkan informasi yang lebih akurat.

Selain itu, Inggris juga merupakan bagian dari aliansi intelijen Five Eyes bersama Amerika, Australia, Kanada, dan Selandia Baru, yang selama ini menjadi tulang punggung pertukaran informasi strategis Barat.

Namun, fondasi ini pun mulai goyah. Inggris sempat menghentikan berbagi intelijen terkait kartel narkoba Amerika Latin setelah kebijakan agresif Amerika menenggelamkan kapal dengan rudal.

Bahkan, wacana ekstrem muncul dari Mark Dubowitz dari Foundation for Defense of Democracies-sebuah think tank di Washington. Ia mengusulkan agar AS meninggalkan Five Eyes dan membentuk aliansi baru dengan Israel, Polandia, Ukraina, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea Selatan.

Di sisi lain, Peter Ricketts, mantan penasihat keamanan nasional Inggris, mengusulkan agar Inggris mempertmbangkan hubungannya dengan Amerika dan mendekat kembali ke negara-negara Eropa. Meskipun ada peluang Amerika akan kembali menjadi mitra dekat Inggris, Inggris tidak bisa sepenuhnya mengandalkan Amerika.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular