Pasokan Dolar Seret, Banyak Negara Desak AS Buka "Jalur Darurat"
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat dengan Iran mulai menekan dunia dari jalur yang lebih dalam. Bukan hanya lewat harga minyak, inflasi, atau gangguan perdagangan, tetapi juga lewat kebutuhan terhadap dolar AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan banyak sekutu AS yang kaya minyak di kawasan Teluk Persia telah meminta dukungan keuangan di tengah gejolak ekonomi akibat perang dengan Iran. Dukungan itu berupa fasilitas pertukaran mata uang atau currency swap line.
Pernyataan ini menjadi penting karena menunjukkan tekanan perang sudah bergerak dari pasar energi ke pasar keuangan. Negara-negara sekutu AS kini bukan hanya khawatir terhadap pasokan minyak, tetapi juga terhadap ketersediaan dolar.
Sebelumnya, Gedung Putih menyampaikan kepada CNBC International bahwa AS belum menerima permintaan resmi dari Uni Emirat Arab atau UEA untuk membuka swap line. Namun, Gedung Putih mengakui sudah ada pembahasan mengenai fasilitas tersebut.
Kini, Bessent menyebut permintaan itu datang dari banyak sekutu AS di kawasan Teluk. Dia juga mengatakan beberapa sekutu AS di Asia ikut meminta fasilitas serupa, meski tidak menyebutkan negara mana saja.
Apa Itu Swap Line?
Swap line bisa dipahami sebagai cara agar negara yang sedang kekurangan dolar tidak perlu panik mencari dolar di pasar.
Dalam skema ini, bank sentral atau otoritas keuangan suatu negara dapat menukar mata uangnya dengan dolar AS. Dolar itu kemudian bisa dipakai untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, membantu bank, atau meredam tekanan nilai tukar dalam negeri.
Mekanismenya, The Fed akan meminjamkan dolar AS kepada bank sentral asing dengan bunga tertentu. Tingkat bunganya biasanya mengacu pada overnight index swap (OIS), ditambah spread tertentu.
Pinjaman dolar itu dijamin dengan mata uang milik bank sentral asing tersebut. Jadi, ketika The Fed memberikan dolar, bank sentral asing menyerahkan mata uang negaranya sebagai jaminan. Setelah pinjaman dolar dilunasi, The Fed mengembalikan mata uang asing tersebut.
Penting untuk dicatat, risiko kredit tetap berada di bank sentral asing, bukan di The Fed. Artinya, jika bank sentral asing kemudian menyalurkan dolar itu ke bank atau lembaga keuangan di negaranya, maka risiko gagal bayarnya ditanggung oleh bank sentral asing tersebut.
Contohnya pernah terjadi pada awal pandemi Covid-19. Pada 18 Maret 2020, European Central Bank atau ECB menarik dana sebesar US$36,3 miliar melalui swap line The Fed. Pinjaman itu memiliki bunga 0,45% dengan tenor tujuh hari.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa swap line biasanya dipakai saat pasar global sedang mengalami tekanan besar. Ketika banyak pihak membutuhkan dolar dalam waktu bersamaan, fasilitas ini membantu memastikan pasokan dolar tetap tersedia.
Ini penting karena dolar AS masih menjadi mata uang utama dalam transaksi global. Minyak, utang luar negeri, perdagangan internasional, dan banyak pembiayaan bank masih memakai dolar.
Karena itu, saat perang membuat pasar panik, kebutuhan dolar biasanya naik tajam. Investor mencari aset aman, perusahaan butuh dolar untuk membayar kewajiban, dan negara perlu dolar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Dengan adanya swap line, negara yang sedang tertekan tidak harus langsung menjual aset secara besar-besaran untuk mendapatkan dolar. Inilah yang membuat fasilitas ini penting, bukan hanya bagi negara penerima, tetapi juga bagi stabilitas pasar keuangan global.
Saat Dolar Makin Diburu
Jika banyak negara meminta swap line, pesannya cukup jelas, yakni kebutuhan terhadap dolar AS sedang meningkat tajam.
Dalam kondisi normal, negara bisa mendapatkan dolar dari ekspor, investasi asing, pinjaman, atau cadangan devisa. Namun, saat perang dan ketidakpastian meningkat, dolar biasanya makin diburu karena dianggap sebagai aset paling aman.
Akibatnya, mata uang lain bisa tertekan, terutama mata uang negara berkembang yang bergantung pada arus modal asing dan pembiayaan dolar.
Tekanan juga bisa menjalar ke biaya pendanaan. Bank, perusahaan, dan pemerintah yang membutuhkan dolar harus membayar lebih mahal untuk mendapatkannya.
Jika kondisi ini makin berat, negara yang tidak memiliki akses swap line bisa terpaksa memakai cadangan devisa atau menjual aset dolar yang mereka miliki.
Di sinilah risiko bagi AS ikut muncul. Jika banyak negara menjual aset dolar secara bersamaan, termasuk surat utang AS, pasar obligasi AS bisa terguncang. Imbal hasil bisa naik dan biaya pembiayaan pemerintah AS ikut meningkat.
Karena itu, swap line bukan hanya bantuan untuk negara lain. Bagi AS, fasilitas ini juga menjadi alat untuk mencegah kepanikan global berbalik menghantam pasar keuangannya sendiri.
Dampaknya juga bisa terbaca pada Indeks Dolar AS (DXY). Pada tahap awal, banyaknya permintaan swap line bisa menjadi sinyal bahwa pasar global sedang stres dan dolar sedang sangat dibutuhkan. Kondisi ini cenderung membuat DXY tetap kuat atau bahkan naik, karena investor mencari perlindungan di dolar AS.
Sebagai catatan, melansir data Refinitiv, Indeks Dolar AS sebelum perang berlangsung masih berada di kisaran 97,6.
Namun, sejak perang AS-Iran meletus, DXY terus mengalami kenaikan hingga sempat menyentuh level 100. DXY bahkan sempat naik lebih dari 3% ke level tertinggi 10 bulan di 100,64 setelah konflik AS-Iran memicu perburuan aset aman.
Meski begitu, penguatan tersebut tidak bergerak lurus. Per Jumat (24/4/2026), DXY bergerak di kisaran 98,8. Dolar AS masih mengarah ke penguatan mingguan pertama dalam tiga pekan karena pembicaraan damai AS-Iran yang macet dan ketegangan Timur Tengah masih tinggi.
Namun, efek swap line terhadap DXY tidak selalu satu arah. Jika swap line benar-benar dibuka dan berhasil menenangkan pasar, kebutuhan mendesak terhadap dolar bisa berkurang. Pada titik itu, tekanan beli terhadap dolar dapat mereda dan kenaikan DXY bisa tertahan.
Kenapa Negara Teluk Tertekan?
Negara-negara Teluk, termasuk UEA, berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, mereka membutuhkan dolar karena transaksi minyak dan sistem keuangan global masih banyak memakai dolar. Di sisi lain, perang dengan Iran mengganggu sumber pemasukan utama mereka.
Teheran telah menembakkan rudal ke sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut dan merusak infrastruktur ekonomi. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga memperparah tekanan karena jalur ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
Jika ekspor minyak terganggu, pemasukan dolar dari minyak ikut berkurang. Padahal, kebutuhan dolar tetap tinggi untuk membayar impor, menjaga nilai tukar, membayar kewajiban luar negeri, dan mempertahankan kepercayaan investor.
Di sinilah swap line menjadi penyangga. Fasilitas ini memberi akses dolar tanpa membuat negara tersebut harus menjual aset secara terburu-buru.
Risiko Politik untuk Trump
Meski bisa menenangkan pasar, swap line juga berisiko secara politik bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Masalahnya, warga AS sendiri sedang menghadapi dampak perang. Harga bensin, makanan, dan kebutuhan sehari-hari naik. Dalam kondisi seperti itu, pemberian akses dolar kepada negara kaya di Timur Tengah bisa menjadi bahan kritik.
UEA merupakan salah satu negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Karena itu, Partai Demokrat berpeluang menggunakan isu ini untuk menyerang pemerintahan Trump.
Presiden Trump sebelumnya mengatakan dalam wawancara dengan Squawk Box CNBC bahwa ia ingin membantu UEA jika memungkinkan.
Dukungan juga datang dari Senator Steve Daines dari Partai Republik, Montana. Daines mengatakan ia mendukung arah kebijakan Bessent terkait swap line.
Namun, Senator Chris Van Hollen dari Partai Demokrat, Maryland, mempertanyakan rencana tersebut. Ia mengatakan perang di Iran sudah menimbulkan biaya besar bagi AS, mulai dari korban jiwa, biaya lebih dari US$1 miliar per hari dari uang pembayar pajak, hingga kenaikan harga bensin dan harga barang secara umum.
Van Hollen juga menyinggung laporan mengenai hubungan UEA dan AS, termasuk dugaan investasi dari anggota pemerintahan negara Teluk tersebut ke bisnis keluarga Trump, serta pelonggaran aturan perlindungan terkait chip kecerdasan buatan canggih.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google